Memotret Lebaran

Momen Lebaran di berbagai tempat. (Foto: Dicky Purnama Fajar)

Minggu sore, 30 Maret 2025. Hampir setiap stasiun televisi dipenuhi dengan pemberitaan mencari hilal; si anak bulan. Pemerintah sedang melaksanakan sidang isbat untuk menentukan kapan jatuhnya 1 Syawal 1446 Hijriah. Sudah pasti ribuan atau bahkan jutaan pasang mata dan telinga di seluruh wilayah Indonesia terfokus pada siaran tersebut. Tapi, berbeda dengan Hani. Ia lebih sibuk memikirkan daging ayam dan buntut sapi yang akan dimasak menjadi opor dan kari. Tentu untuk disajikan di hari Lebaran nanti.

Dua tungku kompor menyala dengan api sedang. Daging kari serta opor ayam yang dipenuhi dengan bumbu dan santan sudah mendidih hampir matang. Bahkan ketupat sudah diangkat dari kompor minyak dan siap disajikan. Tapi, pengumuman kapan 1 Syawal jatuh tak kunjung datang. Hani mulai gelisah. “Apakah esok Lebaran jadi datang?”

Waktu terus berjalan, namun kapan tepatnya Lebaran masih belum diumumkan. Di tengah rasa gelisah itu, tiba-tiba empat anaknya yang mengenakan sarung dan mukena berlari masuk ke dalam sambil berteriak dengan riang gembira. “Emak! Besok Lebaran jadi.” Dengan rasa gelisahnya ia masih mencerna semua itu. Untung kegelisahannya segera lenyap ketika ia mendengar pengumuman toa masjid yang berjarak tak jauh dari rumah. Besok, Lebaran benar-benar jadi.

Lebaran merupakan salah satu tradisi penting masyarakat Muslim di Indonesia. Biasanya, lebaran dilaksanakan setelah 30 hari menyelesaikan ibadah puasa. Ini adalah hari kemenangan umat Muslim setelah berperang melawan rasa haus, lapar, dan hawa nafsu. Tujuannya untuk memperkuat ketakwaan dan mencapai kesucian diri.

Dalam artikelnya yang dimuat di majalah Sunda tahun 1954, M. A. Salmun menjelaskan bahwa “Lebaran” berasal dari tradisi Hindu. Kata “Lebaran” berarti selesai, usai, atau habis. Begitulah kemudian masyarakat Muslim Indonesia mengadopsinya untuk dijadikan simbol yang menandakan habisnya masa puasa. Sebagai peringatan upacara kemenangan, malam lebaran selalu disambut dengan meriah. Masyarakat akan menggemakan takbir semalam suntuk. Anak-anak sampai orang dewasa keluar-masuk gang dan ramai-ramai menabuh beduk yang terbuat dari bahan daur ulang sebagai pengiring takbir. Semakin malam suasana akan semakin ramai. Karena biasanya, orang-orang akan mulai membakar mercon dan kembang api.
Lebaran tak hanya menjadi hari ketika semua dosa dilebur, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi.

Orang-orang yang merantau pulang ke kampung halaman untuk bertemu keluarga masing-masing. Bertemu teman-teman lama, saudara-saudara jauh, dan keluarga besar. Untuk saling menyapa, saling bicara setelah sekian lama, serta saling memaafkan satu sama lain. Ketupat, opor ayam, kari daging, sampai camilan seperti kue nastar dan kaasstengels, menjadi kudapan pendukung untuk menjalin obrolan ringan sambil bercanda gurau. Segala beban yang mengganjal dalam hati lepas sudah. Saking magisnya momen hari lebaran, komponis ternama Ismail Marzuki sampai mengabadikan momen ini ke dalam lagunya yang berjudul Selamat Lebaran.

Jika Ismail Marzuki mengabadikan momen Lebaran ke dalam lagu, maka saya mencoba mengabadikan momen lebaran ke dalam sebuah foto. Foto di atas menggambarkan beberapa aktivitas seperti salat Idulfitri di lapangan, kue-kue yang memenuhi meja, ketupat dan opor ayam, serta orang-orang yang sedang berziarah ke makam keluarganya.

Sebenarnya, ide untuk mengabadikan momen lebaran muncul ketika saya dan Fitra Sujawoto memberi workshop pengenalan dasar bagaimana cara menyajikan foto jurnalistik dengan pendekatan teori EDFAT. Begitulah, sebagai praktiknya, kami langsung memberi tugas kepada peserta untuk membuat foto jurnalistik dengan tema Lebaran. Sebagai mentor, kami merasa bertanggung jawab dan akhirnya juga ikut untuk berkarya.

Semoga foto-foto di atas bisa menyampaikan pesan tentang makna Lebaran yang sebenarnya. Juga mudah-mudahan jadi pengingat bahwa sebagai manusia, kita harus terus mempererat hubungan sosial di masyarakat.

 

Editor: Ridwan Malik

Picture of Dicky Purnama Fajar

Dicky Purnama Fajar

Sehari-Hari mengajar di Jurusan Desain Komunikasi Visual, Unpas, dan juga membantu jalannya siniar Hanya Wacana.