
Kalau boleh sedikit berlebihan, dapat kiranya saya berkata bahwa Bandung sekarang adalah kota yang tidak punya alun-alun.
Saya ngabuburit sambil berlatih membuat sketsa. Objek gambar yang saya pilih adalah arsitektur masjid di sekitar tempat tinggal saya di Bandung. Masjid yang saya pilih adalah masjid yang atapnya masih meneruskan tradisi. Itulah atap yang runcing, biasanya bertumpuk dua atau tiga.
Dalam bahasa Sunda, ada frasa balé nyungcung. Secara harfiah, artinya “balai beratap runcing”. Itulah kata lain buat masigit alias masjid. Itu sebabnya, kalau orang Sunda menikah, orang bilang “unggah ka balé nyungcung” yang artinya “naik ke masjid” buat melaksanakan akad nikah.
Sayang sekali, waktu saya menikah pada 1994, masjid di kampung leluhur Teti terletak agak jauh dari rumah. Jadi, saya mengucapkan ikrar nikah di halaman rumah. Tak mengapa, ungkapan toh tidak selalu terpaku pada arti harfiah. Pada hari yang sakral itu, kami dikatakan telah “unggah ka balé nyuncung”. Alhamdulillah.
“Balé Nyuncung” adalah pokok bahasan bab pertama dalam koleksi esai nostalgis karya mendiang Sjarif Amin, Keur Kuring di Bandung (Sewaktu Saya di Bandung) yang terbit pada 1981. Arsitektur masjid yang terlintas dalam kenangannya adalah Masjid Agung di Bandung dasawarsa 1920-an yang atapnya dikatakan “suhunan tilu umpak” (atap bertumpuk tiga).
Gambar arsitektur masjid dalam kenangan Pak Koerdie — nama lain Sjarif Amin — saya lihat dalam catatan perjalanan H.P. Berlage, Mijn Indische Reis (Perjalanan Saya ke Hindia) yang terbit pada 1931. Ia singgah di Bandung pada Mei 1929. Namun, sayang sekali, fasad masjid beratap runcing itu hanya hadir sebagai latar belakang buat gambar sebatang pokok waringin yang menjulang kayak gergasi. Saya tidak tahu, apa sebab arsitek sekaliber Hein Berlage tampaknya lebih tertarik oleh sosok waringin ketimbang oleh bangunan masjid.
Sekarang, apa boleh buat, baik waringin maupun bangunan yang atapnya mengerucut telah lama menghilang dari lanskap Alun-alun Bandung. Jangankan waringin, hamparan rumput pun telah diganti dengan sejenis karpet berupa rumput sintetis. Sebagai pengganti bentuk-bentuk kerucut, yang ditonjolkan kini adalah bentuk-bentuk kubus beserta kubah-kubah besar seperti yang tumbuh di Jazirah Arab atau di masa silam Eropa.
Bahkan, dalam kesan saya, keberadaan “alun-alun” itu sendiri tidak lagi terasa. Yang terasa hadir hanyalah tembok-tembok dengan sekian penjaga. Kalau boleh sedikit berlebihan, dapat kiranya saya berkata bahwa Bandung sekarang adalah kota yang tidak punya alun-alun.
Kabar baiknya, masih ada sejumlah masjid di Bandung yang atapnya tetap nyungcung. Untuk menyebut beberapa nama saja, misalnya, ada Masjid Cipaganti yang bersejarah, Masjid Nurul Huda di belakang Terminal Ledeng, Masjid Jami Al-A’raaf di Cipanjak, Parongpong, dan beberapa lainnya. Ke masjid-masjid itulah, saya mengarahkan perhatian.
Saya tidak merasa pandai menggambar. Sama sekali tidak! Kalaupun beberapa teman sekolah dasar berpendapat sebaliknya, saya anggap itu tak lebih dari kesan masa kanak. Menggambar buat saya hanyalah hobi. Lebih jauhnya, anggap saja, semacam terapi biar saya tidak jadi sinting. Kalau teman-teman sepakat, kegemaran corat-coret ini anggaplah sejenis alternatif dari keniscayaan mencatat. Biar kita tetap ingat apa yang sempat kita lihat.
Tidak selalu sketsa saya buat langsung di tempat. Bergantung pada situasi dong. Kalau hujan tiba-tiba turun, atau kalau kehadiran saya sepertinya mengganggu orang lain, terpaksa saya mengandalkan kamera ponsel. Tentu, lebih menggembirakan menggambar langsung daripada menjiplak potret.
Dalam kesan saya, pada masjid-masjid yang mempertahankan pola atap nyungcung, terlihat pergulatan untuk menyiasati hal baru supaya adumanis dengan apa yang diwarisi. Atap tetap meruncing ke atas, sedangkan bagian pucuknya ditempati semacam kubah kecil yang dari kejauhan tampak seperti kuncup bunga. Umumnya, di bagian puncak kuncup itu terdapat kaligrafi logam yang mengagungkan nama “Allah”.
Apakah, dengan begitu, ikhtiar untuk mengagungkan nama Allah bersambung dengan persepsi Sunda Kuna perihal “buwana nyungcung”? Saya tidak tahu. Yang pasti, tiap kali saya melihat pucuk atap-atap masjid yang meruncing itu, saya merasa Tuhan begitu tinggi, jauh, tak tersentuh, tapi di bawah atap-atap itu saya merasa teduh. Adapun keteduhan, saya kira, adalah jenis lain dari kedekatan atau keintiman.
Tentang “buwana nyungcung”, saya baru sempat menggarisbawahi catatan kaki C.M. Pleyte sewaktu dia menelaah kisah epik “Radén Moendinglaja di Koesoema” pada awal abad ke-20. Dia mencatat: “Wat onder Boewananjoentjoeng, de recht omhoog gaande wereld, te verstaan is, bleef ons onbekend (Apa yang dimaksud dengan Boewana njoengtjoeng, jagat nan lurus ke atas, masih belum kita ketahui).” Wah, kalau peneliti sekelas Meneer Pleyte saja tidak tahu, apalagi diri saya. Bisa jadi, “de recht omhoog gaande wereld” itu semacam jagat langitan.
Yang pasti, kegiatan membuat sketsa, tentu, berlangsung di “buwana panca tengah”, yakni jagat kehidupan manusia tempat terjadinya berbagai kesalahan atau kekeliruan, misalnya dalam hal memilih media, menarik garis, mencermati gelap-terang, dan seabrek urusan teknis lainnya. Gambar-gambar nan gagal muncul bertubi-tubi, seperti hendak menguji daya tahan orang yang anteng dalam hobi. Oh, sekiranya saya bisa menggambar sebagus Hein Berlage.
Omong-omong soal daya tahan mah, insya Allah, saya bisa memetik Chairil Anwar: “aku sekarang orangnya bisa tahan, sudah lama bukan kanak lagi”. Yang penting, sebagaimana nasihat Bu Teti, terulah berlatih menggambar masjid, tapi jangan lupa salat.
Baik, Bu. Dalam umur yang bertambah tua, saatnya saya berdoa, semoga Gusti Allah Yang Maha Penyayang memberkati anak-anak kami yang telah dewasa kesempatan untuk unggah ka balé nyungcung. Amin.***



