Menjadi Pinggiran

 

 

Kota adalah ruang yang berjarak dan asing. Menjadi warga kota dengan demikian adalah menjadi pinggiran.

 

Di dalam satu percakapan, tadi sore, Kang Hawe Setiawan bercerita bahwa Tom van den Berge penulis buku Puisi Sunda Zaman Belanda sedang memasuki tahap persiapan pensiun tahun depan. Untuk mempersiapkan masa pensiunnya, Tom menjual rumahnya di kota untuk pindah ke rumah yang lebih kecil di daerah pinggiran Kota Amsterdam. Tom mencari rumah yang lebih kecil supaya ia tidak kerepotan mengurus rumah yang terlalu besar pada saat ia pensiun kelak. Rumah yang lebih kecil di daerah pinggiran yang lebih tenang, akan membuat Tom bisa melakukan aktivitas dengan nyaman di masa pensiunnya.

Kang Tata Kartasudjana menanggapi cerita Kang Hawe tentang Tom. Ia mengatakan “Kalau di kita, sebaliknya, orang yang dalam usia produktif pindah ke daerah pinggiran kota supaya bisa membeli atau mengontrak rumah dengan harga yang bisa dijangkau.”

Sambil ngobrol, saya merenungkan cerita Kang Hawe dan Kang Tata. Untuk mendapatkan perumahan yang dapat dijangkau, orang-orang berbondong-bondong ke daerah pinggiran kota, kalau tidak dikatakan di luar batas kota. Selain harga perumahan yang relatif lebih “dapat dijangkau”, perumahan di pinggiran kota atau luar kota adalah pilihan yang sangat terbatas dibandingkan tidak punya tempat tinggal. Perumahan makin hari makin terdesak ke daerah pinggiran karena pusat kota diperuntukkan bagi pusat bisnis, perkantoran, mal, hotel, restoran, dan pemukiman bagi warga kaya.

Bagi mereka yang “memilih” tinggal di daerah pinggiran kota, setidaknya mereka harus menghabiskan waktu satu jam atau bahkan dua jam untuk sampai ke tempat kerja. Perjalanan satu atau dua jam dengan tingkat kemacetan lalu lintas seperti sekarang ini tentu menghabiskan energi mereka. Apalagi jika ada banjir, atau galian kabel, atau perbaikan jalan, atau perbaikan saluran PDAM, atau naik angkot yang ngetem-nya lama, waktu tempuh semakin lama dan tidak jelas. Bahkan sebelum memulai kerja, tenaga mereka habis duluan di jalan. Saya kemudian berpikir, jangan-jangan karena hal ini, banyak pekerja yang kemudian kurang produktif di kantor.

Di samping jarak dari rumah ke tempat kerja yang jauh, ada banyak persoalan runyam lainnya. Misalnya, beberapa tahun belakangan, pemerintah menerapkan sistem zonasi untuk pendaftaran sekolah. Pemerintah berargumen bahwa aturan ini diberlakukan untuk mengurangi kemacetan lalu lintas dan juga untuk pemerataan kualitas sekolah. Masalahnya, di daerah pinggiran kota, tidak banyak pilihan sekolah yang tersedia. Apalagi jika bicara tentang kualitas, sekolah di pinggiran kota dan di pusat kota punya kualitas yang timpang. Pemerataan kualitas sekolah juga tidak banyak beranjak dari tahun-tahun yang lalu. Alhasil, sekolah-sekolah berkualitas bagus atau favorit yang banyak berkumpul di pusat kota kemudian menampung mereka-mereka yang kaya saja, atau juga yang tersisa dari mereka yang tinggal di kampung-kampung kota. Sementara mereka yang tinggal di pinggiran, hanya bisa mengusap dada menerima apa yang tersisa, atau bagi mereka yang agak mampu mencari alternatif sekolah swasta yang bagus.

Perencanaan kota dari hari ke hari semakin berpihak pada mereka yang kaya, elite politik, dan para pemodal. Pembangunan terus digenjot untuk memperluas pusat-pusat bisnis, mal, restoran, hotel, pertokoan, mal, perkantoran, taman-taman kota dan plaza, dan berbagai fasilitas bagi mereka yang memiliki modal besar. Semakin lama warga kota akan semakin terpinggirkan dan dipinggirkan. Mereka didorong untuk berpindah ke pinggiran kota.

Sesekali warga kota ini kemudian menengok kota mereka sendiri sebagai wisatawan di akhir pekan. Mereka menikmati ruang-ruang kota yang telah berubah, bermain di taman kota, atau menikmati parade di acara-acara seremonial. Kota adalah ruang yang berjarak dan asing. Menjadi warga kota dengan demikian adalah menjadi pinggiran.***

 

JEJEN JAELANI | KOLOMNIS

Ilustrasi oleh Alex Castro

 

Picture of Redaksi

Redaksi