Menulis seperti “Oray”

Foto bersama selepas kegiatan Larap Jurnalistik. (Foto: Dicky Purnama Fajar).

Menulis tidak selalu dimulai dari rencana. Kadang, ia tumbuh dari pertemuan yang tak disangka, dari percakapan yang tak sempat dicatat, atau dari suasana yang menyusup perlahan dalam ingatan. Begitulah kira-kira yang kurasakan ketika mengikuti kegiatan “Larap Jurnalistik” yang diselenggarakan oleh Hanya Wacana di Galeri Kendan, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung.

Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan menulis. Ia lebih menyerupai ruang perenungan tentang bagaimana dan mengapa seseorang memilih menulis. Dalam ruang-ruang yang sederhana, kami tidak hanya belajar tentang reportase, fotografi, dan kaidah jurnalistik pendukung lainnya, tetapi juga belajar tentang cara menata pikiran, merespons kenyataan, dan mengenali arah gerak gagasan.

Salah satu hal yang paling membekas adalah perumpamaan yang disampaikan oleh Kang Hawe Setiawan bahwa menulis itu seperti oray (ular) yang luar-léor mapay sawah (ular meliuk-liuk menyusuri sawah). Perumpamaan ini terasa begitu dekat, bahkan mengendap lama dalam kesadaran saya. Dalam sawah yang luas dan tak bertepi, seekor oray tidak memaksakan arah, tidak pula mematok rute yang kaku. Ia bergerak ke mana ruang membolehkannya, menyusuri celah, mengikuti kontur, dan menggeliat seiring medan. Menulis pun begitu. Jangan terburu-buru menentukan kerangka. Jangan menahan aliran gagasan hanya karena takut salah. Terkadang, menulis harus dimulai dari apa yang benar-benar ada di kepala, apa adanya. Biarkan dulu gagasan mengalir. Struktur bisa menyusul.

Namun, kebebasan dalam menulis bukan berarti kehilangan kendali. Kang Atep Kurnia menambahkan, meskipun oray bebas luar-léor di sawah, ia menekankan bahwa ketika berhadapan dengan galengan (pematang sawah), ia tak bisa asal menerobos. Galengan bukan untuk dihantam, tetapi untuk diikuti. Menulis pun demikian. Penyuntingan bukan proses yang mengekang, namun penataan agar setiap kalimat menemukan tempatnya, tersusun dengan rapi, dan tidak merusak keseluruhan bangunan tulisan.

Dalam proses ini, saya belajar bahwa tulisan yang baik tidak lahir hanya dari keluwesan berpikir, namun juga dari kepekaan dalam menyunting. Menulis bukan hanya tentang mengeluarkan isi kepala, tetapi juga tentang bagaimana menyusunnya menjadi bentuk yang bisa dibaca dan dipahami oleh orang lain.

Kang Hawe juga menyampaikan bahwa tulisan yang kuat setidaknya bertumpu pada tiga hal (setidaknya ini yang saya ingat): dorongan pribadi, pengalaman jurnalisme, dan kepekaan akademik. Dorongan pribadi membuat tulisan menjadi otentik. Menulis bukan sekadar menunaikan kewajiban, tetapi menjawab kebutuhan batin untuk menyampaikan sesuatu. Tanpa dorongan ini, tulisan akan mudah kehilangan arah dan nyawa.

Pengalaman jurnalisme menjadi penting karena tulisan yang hanya bersandar pada pikiran sendiri bisa kehilangan pijakan pada realitas. Berlatih jurnalistik berarti belajar mengamati, mendengar, dan mengalami langsung kehidupan orang lain. Sedangkan kepekaan akademik memberi kemampuan untuk membaca persoalan dalam kerangka yang lebih luas. Bahkan saya setuju dengan pernyataan yang ia sampaikan bahwa ada kebiasan pengelompokan tulisan ilmiah dan populer. Sehari-hari saya mengajar di perguruan tinggi dengan beban menulis ilmiah yang tinggi pula. Semakin sadar bahwa keilmiahan tulisan haruslah memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi di masyarakat, bukan hanya bejibun dengan banyaknya teori.

Dari ketiga fondasi itu, saya semakin menyadari bahwa menulis bukan semata-mata keterampilan teknis. Ia juga merupakan bentuk pertanggungjawaban intelektual dan etika terhadap realitas. Tulisan yang baik tidak lahir dari kemudahan merangkai kata, melainkan dari upaya terus-menerus memahami dunia dan diri sendiri.

Hal lain yang membuka wawasan saya adalah pemaparan dari Kang Tata Kartasudjana tentang pentingnya “bermain isu”. Di tengah citra negatif yang kadang melekat pada istilah tersebut, ia justru menunjukkan bahwa bermain isu bisa menjadi jalan yang sah bagi penulis untuk menemukan sudut pandang yang berbeda. Sebuah isu bisa ditulis dari banyak arah, tapi tulisan yang menarik sering kali justru hadir dari sisi yang jarang dilihat orang lain. Jika media umum mengambil sudut A, maka penulis bisa mengambil sudut B, bahkan C. Di situlah letak kebaruan dan keberanian seorang penulis: bukan dalam mengikuti tren, tetapi dalam menciptakan perspektif baru yang tetap bertumpu pada kejujuran dan akurasi.

Dari kegiatan “Larap Jurnalistik” ini, saya membawa pulang lebih dari sekadar catatan teknis kepenulisan. Saya membawa pulang cara pandang. Menulis bukan semata-mata kemampuan, tapi juga proses panjang menjadi manusia yang lebih peka, lebih mendalam, dan lebih bertanggung jawab. Menulis adalah cara untuk menyusuri sawah kehidupan; dengan lembut, pelan, tapi pasti. Seperti oray yang tahu kapan harus luar-léor, kapan harus berhenti, dan kapan harus menyatu dengan lanskap di sekelilingnya.

Kini, setiap kali duduk di depan layar kosong, saya mencoba mengingat satu hal: biarkan dulu tulisan ini berjalan. Jangan paksa dia sampai di tujuan terlalu cepat. Biarkan ia mencari jalannya sendiri, sebab seperti oray di sawah, kadang yang paling penting bukan seberapa cepat sampai, tetapi menemukan arah dengan terus bergerak.

 

Editor: Hafidz Azhar

Picture of Farid Rizqi Maulana

Farid Rizqi Maulana

Sehari-hari menjadi dosen di UPI, Serang, Banten.