Menulislah Sebelum Mati

Menulis, kata yang biasa kita dengar. Anak sekolah apalagi. Kegiatan menulis saat ini bisa dilakukan dalam berbagai medium. Menulis di buku atau kertas sudah mulai berkurang, teknologi pengganti kertas bertebaran berbagai macam. Kawan saya di kampus menunjukkan sebuah tablet digital pengganti buku, kita bisa membaca dan menulis pada alat yang sama, lucunya lagi, alat itu bisa mengeluarkan efek suara seperti sedang memindahkan halaman pada buku. Kesannya seperti membaca buku nyata.

Menulis bagi saya seperti sedang menyusun fikiran, Mengurutkan dari hal kecil pada hal yang besar, atau sebaliknya. Sering kali ketika menulis, sesuatu yang saya lupa, dapat saya ingat kembali, atau saya cari dari bahan bacaan, upaya menjaga diri terserang amnesia.

Menulis tidak terpisahkan dari membaca, gizi menulis adalah bacaan. Cerita apapun yang coba kita tuangkan tidak akan lepas dari bahan bakunya. Banyak membaca memperkaya kandungan vitamin dalam menulis. Ragam kata, penggunaan kalimat, cara penyampaian, merupakan isi dalam tulisan. Tulisan yang berotot, tentu saja dihasilkan dari para penulis yang sering berlatih.

Gagasan membutuhkan ruang dan wacana sebagai wadah. Seringkali gagasan yang menakjubkan lewat begitu saja karena tidak terawetkan, terbuang sayang. Salah satu cara kita mengawetkan gagasan adalah dengan menuliskan. Menulis, mengawetkan sekaligus menyimpan ingatan dalam bentuk yang paling sederhana. Kita bisa memanggil kembali gagasan, kapanpun kita perlukan.

Seorang Suhu penulis, pernah menyampaikan sabdanya, kadang orang menganggap bahwa menulis adalah hal yang sulit, karena mereka harus menyusun terlebih dahulu fikiran ketika akan menulis. Padahal, menulis adalah proses berfikir itu sendiri. Saya sepakat dengan pernyataan Oom Suhu, kita tak akan memulai menulis, karena kita sibuk memikirkan apa yang kita akan tulis. Pengalaman saya ketika menulis, ide dan pokok fikiran akan mengalir bersamaan, bahkan banyak gagasan yang muncul ketika kita sedang melakukan kegiatan menulis.

Bakat menempati ukuran yang terendah untuk menjadi penulis, sabda Oom Suhu. Kesannya menjadi seorang penulis atau membuat tulisan yang baik harus mempunyai bakat. Bakat sendiri menurut saya adalah jebakan, orang bahkan bisa berdalih, kalau tidak mampu melakukan sesuatu dianggap tidak berbakat, tidak berbakat menjadi pelukis, tidak berbakat menjadi penulis, dan tidak berbakat dalam banyak bidang, pernyataan yang menyedihkan, menilai diri tidak mampu berbuat banyak.

Menulis adalah kerajinan tangan atau bahasa kewl-nya craftsmanship atau istilah dalam KBBI keahlian. Sepakat, dong. Keahlian harus kita asah terus menerus sambil menambah nutrisi. Jadi, terus berlatih menulis, jangan lupa juga, untuk menambah kandungan gizi dari bahan bacaan, agar gagasan terus mengalir sampai jauh.

Paling asyik kalau sudah sunting menyunting tulisan sendiri. Memindahkan paragraf, mengganti kata, merubah kalimat dan tanda kalimat. Disini rasanya kita menjadi seorang pengrajin, mencoba terus berupaya agar bahan tulisan kita enak dibaca, dan menyuguhkan bacaan hasil dari kerajinan tangan sendiri.

Dahsyatnya teknologi digital memberikan saluran yang tidak terbatas, setuju dong. Tapi tanpa kemauan yang cukup untuk bisa mengolah sumber informasi yang bejibun seperti itu, menurut saya hanya membuat kita lumpuh. Serbuan data informasi yang deras akhirnya menumpulkan kemampuan kita dalam memilih informasi. Obat yang paling paling mujarab bagi saya sih, tidak lain hanya dengan membaca buku secara perlahan, menikmati bahan bacaan, dan melatih emosi untuk tidak rusuh menentukan alur cerita, bahan bacaannya bebaslah, enjoy saja. Dan setelah itu kita coba mentautkan atas peristiwa dan respon sosial dari sekeliling kita, menjadi karya tangan berupa tulisan. Mengasyikkan.

Akal sehat, nalar dan logika bisa lurus menempuh kebajikan dan terawetkan dan bisa terwariskan dari tulisan kita, quotes yang tidak penting memang. Jadi, menulislah, bikin quotes sendiri!***

TATA KARTASUDJANA | DOSEN DKV FISS UNPAS

Ilustrasi oleh Adam Rizki Taufiq

Picture of Redaksi

Redaksi