Jumat, 9 Mei 2025, hampir seluruh sudut Kota Bandung dipadati oleh Bobotoh. Graha Persib di Jalan Sulanjana menjadi titik kumpul para suporter untuk menyaksikkan pertandingan Persib melawan Barito Putera melalui acara nonton bareng. Pertandingan yang digelar di Stadion GBLA berlangsung seru dan berakhir imbang 1-1 hingga turun minum.
Meskipun hanya meraih hasil imbang, Persib tetap kokoh di puncak klasemen dengan total 65 poin. Hasil ini menobatkan Persib sebagai juara liga musim ini. Prestasi tersebut membuat Bobotoh menyebutnya dengan istilah “B2B” atau back to back. Istilah ini memiliki makna khusus: keberhasilan mempertahankan gelar juara selama dua musim berturut-turut.
Antusiasme masyarakat Bandung malam itu sangat luar biasa. Konvoi kendaraan memenuhi jalanan, dilengkapi atribut klub dan bendera beragam ukuran. Suasana semakin meriah dengan gemerlap kembang api dan dentuman mercon. Sorak sorai suporter, yel-yel, dan lagu-lagu kebanggaan untuk tim kesayangan mereka bergema di setiap sudut jalan.
Persib bukan sekadar klub sepak bola, tetapi juga merupakan titik temu kebudayaan yang kental dengan fanatisme kolektif. Dari fanatisme inilah tumbuh sebuah medium komunikasi simbolik yang menyatukan para pendukungnya, yang dikenal sebagai Bobotoh.
Semangat dan kecintaan terhadap Persib tumbuh pesat dalam diri setiap individu, membentuk identitas kuat yang melekat pada para pecintanya. Kebanggaan warga Kota Bandung khususnya dan warga Jawa Barat pada umumnya semakin menggeliat setiap kali kemenangan diraih. Jalanan kota yang semakin malam justru makin ramai, dipenuhi sukacita. Ekspresi kebahagiaan terekam melalui gawai pintar, diunggah dalam bentuk status, cerita, dan video menjadi dokumentasi digital dari euforia bersama.

Oleh sebab itu, Persib telah menjadi bagian dari elemen budaya, khususnya dalam konteks subkultur yang berkembang di Tatar Sunda. Hal ini tampak jelas dalam pola komunikasi, baik verbal maupun simbolik. Identitas Persib dan Bobotoh tercermin dalam bahasa, simbol, atribut, serta tindakan-tindakan kolektif yang mewarnai kehidupan masyarakat terutama di jalanan kota yang mendadak berubah menjadi panggung selebrasi setiap kali Persib berlaga.
Fanatisme Bobotoh terhadap Persib dibangun atas dasar yang kuat: mulai dari latar belakang sejarah klub, perjalanan prestasi yang telah ditorehkan, hingga koneksi emosional yang terjalin antara tim dan para pendukungnya. Demikianlah, Bobotoh bukan hanya suporter, tetapi bagian dari jiwa Persib itu sendiri: perpaduan yang tak bisa dipisahkan dan terus mengiringi setiap langkah tim menuju kejayaan. Kini, Persib Bandung kembali mengukir sejarah sebagai juara dengan Bobotoh sebagai napas yang menghidupkannya.
Editor: Hafidz Azhar



