
Masing-masing bicara dalam bahasanya sendiri, tidak berkomunikasi, hanya berinteraksi. Satu menghardik, yang lain meradang.
Dalam semester yang baru saja rampung mahasiswa saya membaca karya klasik pilihan masing-masing. Biar tak cuma main tugas, dosen harus ikut baca juga dong. Kali ini pilihan saya adalah A Tale of Two Cities karya Charles Dickens. Di akhir semester mereka mesti menulis esai tentang pengalaman membaca buku dari masa lalu. Saya pun demikian: membuat tulisan tentang tulisan.
Waktu saya seusia mereka, sempat saya baca terjemahan novel tersebut dalam bahasa Indonesia: Kisah Dua Kota terbitan Pantja Simpati (kini tak ada lagi) tahun 1993. Karena penasaran, kemudian saya coba membaca karya aslinya. Bedanya, buku itu saya baca bukan karena tugas kuliah, melainkan karena minat pribadi. Kini, dalam usia paruh baya, apa yang saya tangkap dari buku yang sama sedikit banyak berbeda dari apa yang terpikir pada masa muda.
Kalau diingat-ingat, dulu saya tertarik oleh karakter Lucie Manette, gadis Inggris yang pergi ke Prancis mencari ayahnya, dan setelah keduanya bertemu, kehadiran sang anak dapat memulihkan ingatan dan kesadaran sang ayah. Setelah menikah dengan Charles Darnay, Lucie pada gilirannya mesti tahu bahwa suaminya adalah keturunan bangsawan Prancis yang menindas kaum jelata.
Beberapa hari lalu, begitu menamatkan halaman 367 (dalam terbitan Penguin tahun 1994), saya merenung-renung sendiri sambil berjongkok di kamar mandi. Barangkali, novel ini memberi saya gambaran tentang cara orang Inggris melihat Revolusi Prancis atau cara perubahan revolusioner mengendap dalam kesadaran kolektif orang Eropa.
Dalam kesan saya, cara pandang itu cenderung suram. Terhadap slogan termasyhur dari kaum republikan Prancis zaman revolusi, yakni “Kebebasan, Kesetaraan, dan Persaudaraan”, Dickens menambahkan satu kata yang lebih saklek: “Kematian”. “Liberty, Equality, Fraternity, or Death!” Simbolnya, sudah pasti, pisau Guillotine yang saban hari, di tengah gegap gempita revolusi 1790-an, memenggal kepala kaum aristokrat, tak terkecuali raja dan permaisurinya.
Tiap kali Dickens menyebut-nyebut Guillotine, saya teringat kepada buku lain. Itulah Asal-usul Logojo Paris (Asal Mula Algojo Paris), dua jilid terjemahan sastrawan dan jurnalis Sjarif Amin dalam bahasa Sunda dari buku karya A. Saalborn dalam bahasa Belanda, Uit de Gedenkschriften der Beulen van Parijs: 1685-1845 (Dari Kenangan Para Algojo Paris: 1685-1845). Buku aslinya terbit tahun 1930. Buku terjemahannya dalam bahasa Sunda terbit pada 1982. Sebelum dibukukan, terjemahan Sjarif Amin dimumkan secara bersambung dalam koran terkemuka yang ia pimpin, Sipatahoenan, pada 1934.
“Hasil ngulik lawas ti lawas bari kacida soson-sosonna, ahirna jadi kayakinan Dr. Guillotin, nu pangalusna jeung pangterhormatna ngarah pati nurutkeun hukum téh, ku jalan diteukteuk beuheung nepi ka sapat. Lantaran keuna kana mamatihna, kituna mah,” tulis sang penerjemah.
Bukan maksud saya menerjemahkan teks Sunda di sini. Saya sekadar berupaya menyadari bahwa ingatan kolektif dari Eropa itu, dengan caranya sendiri, rupanya sudah lama meresap pula ke dalam literasi di lingkungan budaya saya sendiri.
Dari novel, saya mendapat gambaran bahwa gaya hidup dan arogansi kaum aristokrat, yang digambarkan pengarang dengan cara yang getir, pada akhirnya menumbuhkan dendam dan pembalasan kaum tertindas. Monarki runtuh, republik berdiri. Namun, kaum tertindas hari kemarin rupanya jadi penindas hari ini, dan sejarah tergambar seperti pusaran kegiatan bunuh-bunuhan. Sosok Thèrèse Defarge dalam novel Dickens, yang duduk anteng menyulam sambil mengatur gerakan pembalasan dengan sikap yang dingin, tak sanggup melihat individu, dan hanya sanggup melihat simbol masa lalu. Baginya, anak manis yang tak berdosa sekalipun harus ikut dihukum kalau memang dia keturunan musuh republik.
Siapa pula yang bisa melupakan cara Dickens memulai kisahnya? Dari periode yang disebutnya sebagai “masa yang mengerikan” (terrible time), ia menangkap paradoks: “It was the best of times, it was the worst of times, it was the age of wisdom, it was the age of foolishness…”
Sesungguhnya setiap zaman dapat dilukiskan dengan tidak melupakan ungkapan “tapi juga”. Zaman edan tapi juga zaman penuh semangat, era reformasi tapi juga era korupsi, abad informasi tapi juga abad hoaks. Dan seterusnya.
Karena itu, barangkali, “dua kota” (two cities) tersebut bukan sekadar dua tempat yang berjarak sekian mil, melainkan juga dua karakter dari satu periode yang sama: tahun “seribu tujuh ratus tujuh puluh lima” dan seterusnya. Di satu sisi, ada Inggris yang tertib dan necis mengelola bisnis, dengan Tellson’s Bank sebagai simbolnya. Di sisi lain, ada Prancis yang gonjang-ganjing menjungkirbalikkan tatanan, dengan penjara Bastille sebagai monumennya. Di satu pihak ada London yang menyediakan suaka dan jadi tujuan pelarian. Di pihak lain ada Paris yang penuh dengan mata-mata dan ancaman hukuman mati.
Ada kalanya pradoks itu jadi bentrok. Ingat saja adegan berhadap-hadapannya Madame Defarge dan Miss Pross, yang berujung dengan kematian salah satu pihak. Yang satu revolusioner Prancis dengan belati dan pistol di balik busananya. Yang lain adalah “wanita Inggris” yang gagah dan loyal kepada juragannya. Masing-masing bicara dalam bahasanya sendiri, tidak berkomunikasi, hanya berinteraksi. Satu menghardik, yang lain meradang.
Tiap-tiap helai narasi yang pada mulanya seperti berlepasan kian lama kian menemukan titik simpul. Baca saja sampai ke ujung dengan sedikit kesabaran menyimak surat kesaksian Alexander Mannette yang panjang lebar di depan pengadilan revolusi. Kita pun jadi mafhum bahwa Charles Darnay adalah keturunan bangsawan Evrémonde yang menindas. Dokter Mannette adalah saksi mata penindasan yang begitu lama harus mendekam dalam tahanan. Madame Defarge adalah keturunan jelata yang ditindas oleh sang bangsawan.
Adapun Sydney Carton yang misterius, juga gadis kecil di sampingnya, akhirnya seperti jadi martir kemanusiaan di tempat eksekusi Guillotine, dengan kebajikan yang kiranya dipetik dari teks keagamaan: “I am the Resurrection and the Life, saith the Lord: he that believe in me, though he were dead, yet shall he live: and whosoever liveth and believeth in me shall never die (Akulah Kebangkitan Kembali dan Hidup itu sendiri, kata Tuhan: siapa yang percaya kepadaku, meskipun dia mati, dia akan tetap hidup: dan siapa yang hidup dan percaya kepadaku tidak akan pernah mati).”



