Belajar menulis dalam keadaan tangan masih penuh oli memberikan sensasi tersendiri karena saya jadi kenal apa itu metodologi.
Pada hari Rabu pukul 16.30 sebuah weker dikamarku berdering keras. Sebuah benda bermakna peninggalan orang tua. Sang waktu mengajak saya untuk masuk ke dalam sebuah dimensi digital, untuk menimba ilmu baru, yang belum pernah saya ketahui sebelumnya. Terlihat di atas meja beberapa buah tumpukan buku, hingga lembaran kertas dan sebuah pena sebagai media pembelajaran.
Tidak tertinggal secangkir kopi hitam serta singkong rebus sebagai penambah nutrisi otak tersaji berdampingan dengan media pendukung perkuliahan. Tepat pukul 17.00 saya nyalakan aplikasi digital penghubung yang dinamakan dengan zoom, sudah terlihat beberapa wajah terpampang di dalamnya, sambil menunggu pengajar datang. Penjelasan demi penjelasan mata kuliah metodologi terlontar dari seorang pengajar. Saya sebagai orang awam yang baru mengenal istilah tersebut hanya bisa terdiam, seolah harus mengerti bahkan memahami apa yang disampaikan. Karena metodologi ini merupakan suatu modal ketika akan melanjutkan penelitian.
Sebelum masuk ke dalam tugas yang diberikan, saya mencoba untuk merangkum hasil perkuliahan, yang dipaparkan oleh Prof. Dr. Hj Mien Hidayat, M.S yang akrab di sapa dengan panggilan emak, seorang ibu berumur 78 tahun, dan masih tetap semangat dalam berbagi ilmu kepada mahasiswanya, dengan penuh dedikasi dan disiplin tinggi.
Saya sedikit mengutip pernyataan dari emak, “Jangan kalah dengan nenek berumur 78 tahun kalian harus semangat dan resfonsip dalam Belajar”. Ungkapan itu merupakan suatu motivasi bagi saya, mahasiswa baru yang hendak menimba ilmu tentang teknik penelitian. Layar ponsel sebagai penyambung media daring pun terus menyala, puluhan bola mata terfokus pada satu titik ruang imaji. Puluhan daun telinga menerima sinyal gelombang suara, untuk disalurkan ke otak melalui alam pikiran, kemudian dicerna, lalu dituangkan ke dalam suatu tulisan. Tanpa disadari ada satu kata yang dilontarkan dalam bentuk pertanyaan, “Apa yang dimaksud dengan metodologi, Farika?” Saya hanya bisa terdiam, akhirnya emak memberi motivasi agar kami tidak mengantuk.
Tidak terasa hampir satu setengah jam perkuliahan berjalan. Akhirnya muncul tugas pertama untuk membuat proposal penelitian. Emak berkata, “Ingat ya tugas harus dikumpulkan hari Senin, dirumah, biar emak bisa ngasih feedback buat kalian”. Karena posisi tempat tinggal emak berjauhan dengan tempat tinggal saya, jadi dalam pengumpulan tugas saya selalu menitipkan kepada teman sekelas yang akrab disapa dengan panggilan Jalu. Pemuda tinggi besar ini selalu menjadi peluru yang selalu diluncurkan dalam setiap pengiriman tugas yang diberikan.
Sekitar jam 9 pagi, jatuhnya bayangan masih panjang, saya sesekali menyeruput kopi panas, dan menghisap sedikit kepulan asap yang keluar dari vespa tua yang sedang dipanasi. Tiba-tiba muncul notifikasi dari kelompok mata kuliah yang sedang diambil. Emak sempat periksa tugasnya, jadi yang betul cuma dua orang Ghina dan Rina yang lainnya salah, apalagi Dicky judul aja tidak ada, tidak ditulis sama sekali. Tidak lama muncul peringatan buat perbaikan, dalam grup percakapaan dunia maya mulai ramai membahas perbaikan tugas dan saling bertanya pada teman sekelas yang sudah benar pola stuktur penulisannya.
Tidak terasa bayangan matahari mulai bergeser perlahan, mesin motor tua segera dimatikan, lalu ku ambil gawai, tak-tik-tak-tik bunyi papan keybord tersentuh jari yang penuh oli. Perlahan dan pasti segara dibersekan tugas yang harus direvisi. Akhirnya selasai dengan pasti tugas siap dikirim sore hari.***



