
Konon, tahu Sumedang dilahirkan dari eksperimen Ong Kino seorang imigran asal Tiongkok yang diteruskan oleh anaknya, Ong Bung Keng.
Bagi Kang Hawe, arus mudik adalah istilah yang aneh. Karena arus berarti gerak air sedangkan mudik adalah bergerak menuju udik (hulu sungai). Coba Anda bayangkan air bergerak ke hulu sungai. Apakah ini tidak bertentangan dengan hukum alam? Tapi, jika Anda berusaha untuk menggugat istilah tersebut, kemungkinan besar Anda bakal dicuekin. Bagi kebanyakan orang, istilah yang sudah mapan tidak perlu digugat apa lagi dirubah, “yang sudah enak, buat apa dipermak” kata kang Hawe.
Tahun ini saya mengantar istri ‘mudik’ ke Majalengka. Sebetulnya tidak dapat disebut mudik juga. Karena kami pergi pada hari ketiga setelah lebaran. Itu juga PP, pulang-pergi bukan Pemuda Pancasila, ya. Kami memutuskan pergi pada hari ketiga setelah lebaran dengan menggunakan sepeda motor untuk menghindari kemacetan. Ini adalah pengalaman pertama kami berpergian jauh menggunakan sepeda motor.
Kami berangkat dari Bandung selepas subuh dan Jl. Soekarno-Hatta sudah ramai. Kami jadi was-was. Matahari mulai nongol saat kami berada di sekitar Jatinangor. Di sanalah, keramaian terurai. Perjalanan dari Jatinangor ke Sumedang lancar sekali. Hanya di Tanjungsari perjalanan kami rada tersendat, selebihnya lancar.
Seperti biasa, setiap kali sampai di Cadas Pangeran tepatnya di sekitar daerah Ciherang saya selalu menoleh ke arah kiri. Melihat dua patung yang saling berjabat dengan tangan kirinya. Kedua sosok tersebut adalah Gubernur Jenderal Hindia-Belanda ke-36 Herman Willem Daendels dan Bupati Sumedang Pangeran Kusumadinata IX (Pangeran Kornel). Patung tersebut dibuat sekitar awal tahun 80an oleh Sutarja, Bupati Sumedang ke-49 untuk mengenang heroisme Pangeran Kornel ketika menggugat kebijakan kerja paksa yang dilakukan oleh Daendels.
Setibanya di Sumedang, kami lumayan kaget melihat sampah yang berserakan. Bahkan di alun-alun, sampah lebih berserakan. Pangeran Kornel pasti menangis melihatnya. Saya pun demikian. Mengapa? Karena saya selalu merasa ada ikatan batin dengan Sumedang. Pertama, moyang bapak berasal dari sini dan kedua nama saya diambil dari tugu yang berada di alun-alun Sumedang.
Karena lumayan lapar, akhirnya kami berhenti di daerah Cimalaka. Sialnya, belum ada satu kios tahu satu pun yang sudah siap. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan. Di sepanjang jalan menuju Majalengka, hati saya tidak keruan karena gagal mencicipi tahu Sumedang. Konon, tahu Sumedang dilahirkan dari eksperimen Ong Kino seorang imigran asal Tiongkok yang diteruskan oleh anaknya, Ong Bung Keng. Dari tangan Ong Bung Keng inilah tahu warisan bapaknya menjadi wabah yang menjalar ke seluruh penjuru kota Sumedang.
Setibanya di Kadipaten, udara yang awalnya sejuk berubah agak panas. Apalagi ketika tiba di Majalengka, udara panas yang lembap langsung menyambut kami. Padahal saat itu masih pagi sekitar jam delapan lebih sedikit. Majalengka adalah kota kecil dengan sejarah yang mengagumkan. Konon, Prabu Siliwangi pernah bertahta di sini.
Setelah bersalaman, berbincang, dan tentu saja makan. Sekitar jam 11 siang kami memutuskan untuk pulang. Perjalanan dari Majalengka ke arah Sumedang lancar tapi ketika akan masuk ke Sumedang, kami disuguhi kemacetan yang menyebalkan. Baru sekitar jam setengah dua kami sampai di Sumedang kota dan langsung mencari tempat ngopi yang adem.
Kami tiba di rumah sebelum magrib. Perjalanan pulang lumayan ramai lancar dan rasanya sangat melelahkan. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana capeknya mereka yang mudik dari Bandung ke Jawa dengan menggunakan sepeda motor bersama istri dan anaknya.
Mudik mungkin sekali muncul pasca program transmigrasi yang dicetuskan oleh Orde baru. Mudik memiliki berbagai macam dimensi dari sakral sampai profan. Tapi bagi saya, mudik artinya dapat berbincang soal sejarah keluarga, menelusuri asal-usulnya—bukan untuk membuktikan saya keturunan raja anu atau sunan anu.
Tapi bagi saya, dengan mengenal asal-usul sendiri, saya semakin mengenal diri sendiri. Walapun, memang, mengutip Harari (2018), “mengejar tidak sama dengan mendapatkan”. Selalu ada yang dibesar-besarkan dalam setiap kisah. Itulah mengapa Harari kemudian menulis, “Sejarah sering dibentuk oleh harapan yang dibesar-besarkan.”
Notes:
Tulisan di atas ditulis tanggal 20 Juni 2018.
LINGGA AGUNG | KOLOMNIS & DOSEN DKV TELKOM UNIVERSITY



