Yura menggunakan kalimat “na indung ngakandung” seperti yang digunakan orang Kanekes!
Lembur tempatna indung ngakandung
Salira téh Bandung
Bandung, Yura Yunita
Ada satu unsur penting dalam tradisi puisi guguritan sunda yang sudah terlupakan; pedotan. Ini terbukti di kumpulan guguritan Dyah Padmini yang berjudul Jaladri Tingtrim. Dyah mesti repot-repot membuat pengantar khusus yang membahas pedotan ini. Meskipun, menurut saya, Dyah agak keliru, seakan-akan dia membatasi bahwa pedotan hanya ada dalam seni suara cianjuran. Perlu diingat meski cianjuran identik dengan tembang sunda, bahkan orang Cianjur menyebutnya dengan mamaos, unsur tembang dan macapat sebenarnya kurang begitu dominan.
Jadi meskipun mamaos, mocopat dan mamaca itu berarti sama, bahkan dari akar kata yang sama yakni baca, seni mamaos di Cianjur berlainan sekali dengan tembang macapat di Jawa. Menurut saya, justru yang paling menonjol dalam cianjuran adalah anasir dari carita pantun. Saya ambil dua unsur saja, pertama repertoar lagu cianjuran yang utama adalah lagu-lagu aransemen dari fragmen-fragmen carita pantun, begitu juga alat musik yang dijadikan alat pengiring cianjuran era Dalem Pancaniti, identik dengan kacapi pengiring carita pantun, ini yang kedua. Walaupun begitu saya belum berani untuk mengatakan bahwa embrio tembang sunda cianjuran adalah carita pantun, ini butuh kajian yang mendalam.
Sampai sekarang orang jawa masih mengunakan kata pedhot dalam percakapan sehari-hari, pedhot dalam bahasa jawa berarti putus. Pedotan adalah tempat memutus pada sebuah melodi, biasanya kesempatan ini digunakan untuk mengambil nafas oleh penembang. Mungkin karena tradisi pendeklamasaian guguritan berangsur-angsur menurun, dan sampai pada tahap pembaca yang memperlakukan guguritan seperti membaca sajak umumnya. Kemudian lahirlah generasi yang menganggit guguritan tidak memedulikan pedotan. Walaupun kaidah pupuh secara umum, seperti guru lagu dan guru wilangannya terpenuhi. Sampai ada mitos guguritan yang dibuat oleh sastrawan sunda sulit untuk didendangkan berbeda dengan yang dibuat oleh juru tembang atau seniman tembang cianjuran.
Mungkin perlu saya jelaskan, guguritan dalam sastra sunda adalah puisi liris yang menggunakan aturan pupuh. Sebagaimana saya sebutkan di atas, pupuh dalam budaya Sunda ada tujuh belas bentuk. Intinya setiap pupuh terdiri dari sekelompok padalisan (baris), tiap padalisan memilik aturan jumlah suku kata disebut guru wilangan, dan tiap padalisan harus berakhir dengan vokal tertentu disebut guru lagu. Misalkan pupuh Maskumambang terdiri dari empat padalisan, padalisan pertama memiliki 12 suku kata (guru wilangan) dengan suku kata terakhir harus bervokal ‘i’ (guru lagu). Padalisan kedua guru wilangan 6 guru lagu ‘a’. Padalisan ketiga guru wilangan 8 guru lagu i. Padalisan keempat guru wilangan 8 guru lagu ‘a’. Saya ambil contoh dari bukunya M.A. Salmoen, Kandaga Kasusastraan Sunda.
Jalma kedul mumul ditambah jejerih (12 i)
Ulah ngarep senang (6 a)
Sabab mungguhing rejeki (8 i)
Tara datang teu disiar (8 a)
Dan, agar sebuah pupuh nyaman untuk didendangkan harus memenuhi pedotan. Aturan pedotan biasanya berada di padalisan yang relatif panjang, dalam Maskumambang hanya terdapat pada padalisan pertama. Misalnya:
a. jalma kedul + mumul ditambah jejerih (4 + 8)
b. jelema + ontohod meuli bari maling (3 + 9)
Yang betul itu ada pada contoh (a) sedangkan yang berada pada contoh (b) itu salah, walaupun guru lagu dan guru wilangan dalam contoh (b) terpenuhi. Pada contoh (b) penembang akan berhenti di suku kata ‘-on’ sehingga kata ‘ontohod’ terputus. Kira-kira kalau ditembangkan akan terdengar “jelema on tohod meuli bari maling”.
Ada satu hal lagi, setiap pupuh memiliki watak tertentu, walau pada kenyataannya aturan ini sering tidak digubris. Ini sudah terjadi dari awalnya, dari masa kaum feodal sunda getol mengadopsi kebudayaan jawa. Meskipun aturan watak pupuh ini dalam praktiknya tidak terlalu penting, dalam buku panduan sastra sunda sangat ditekankan. Berbeda dengan pedotan, saya hanya menemukannya di buku M.A. Salmoen Kandaga Kasusastraan Sunda.
Saya ambil contoh lain, dari lagu pop yang dinyanyikan Yura Yunita, berjudul Bandung. Kebetulan ketika saya pertama kali mendengarkan lagu itu saya sedang berada di Baduy, Kanekes. Saya agak kaget, ternyata Bandung selain menggunakan lirik berbahasa sunda, bahasa sunda yang digunakannya mengandung unsur arkais, seperti pola kalimat pada lontar kuno, atau pola kalimat di beberapa tempat yang cukup jauh dari Priangan. Yura menggunakan kalimat “na indung ngakandung” seperti yang digunakan orang Kanekes!
na dalam bahasa sunda kuna digunakan sebagai partikel penentu, begitu juga di Kanekes. Tapi di Kanekes lebih sering digunakan untuk kata benda pengganti orang, terutama untuk orang-orang terdekat yang kita ajak bicara. Dalam ‘na ambu’, ambu berarti ibu atau perempuan dewasa, ‘na ambu’ berarti seorang ambu yang sudah tentu, tapi seringnya digunakan untuk menunjukan ‘ibumu’. Misal dalam kalimat “mana na ambu?”, berarti “di mana ibumu?”. Saya belum menemukan frasa “na ambu” digunakan di Priangan, makanya ketika mendengar “na indung” dalam lirik Yura saya menjadi heran. Lirik yang saya maksud adalah:
Lembur tempatna indung ngakandung
Salira téh Bandung”
Antara “tempat” dan “-na” ada sedikit perhentian, seakaan pedot, terputus. Tapi karena lagu ini bertempo cepat jadi tidak terasa. Selain ini, bagi orang-orang yang akrab dengan kepustakaan sunda kata dan kalimat dalam lagu Bandung, terasa ganjil, garihal (kasar, tak beraturan) bahkan mungkin merasa garila (geli). Tapi, apa mau dikata, itulah bahasa sunda khalayak Bandung saat ini, dan Yura mengekpresikannya.
Mungkin perasaan garila ini, apa yang dirasakan oleh Satja Dibrata beberapa dekade lalu pada karya-karya sastra Wahyu Wibisana dan rekan-rekan seangkatannya. Saking gelinya Ama Satja, sampai Pak Wahyu yang memang bertubuh tambun, digelari “danawa basa”, monster bahasa. Toh, seiring berjalannya waktu danawa tetap danawa, tapi dalam artian yang berbeda, figur Wahyu menjadi raksasa dalam sastra sunda. Bahkan Wahyu menjelma menjadi dwarapala sastra sunda, orang yang bergumul dalam sastra sunda tak mungkin tak membaca karya Wahyu. Berbeda dengan generasi setelahnya, Satja Dibrata mengkritik disertai menulis bagaimana bahasa sunda yang benar itu, diantaranya berbentuk kamus, sehingga patokannya jelas. Kritikan Satja bukan semata berdasarkan perasaan bahwa dirinya memiliki otoritas menentukan bahasa sunda yang baik dan bener.
Jika direnungkan sebenarnya apa yang menjadi wajah budaya sunda saat ini, adalah karya para seniman di sekitaran dekade enam dan tujuh puluhan. Perlu ada kajian yang lebih serius tentang ini, ada atmosfer apa pada waktu itu hingga gelombangnya terasa hingga kini? Jaipongan yang dikreasikan Gugum Gumbira, Upacara Adat Pangantén oleh Wahyu Wibisana, dan Kawih Wanda Anyar karya Koko Koswara, merupakan sebagian karya-karya yang lahir di kitaran dekade itu. Dan, semuanya bermuara di Bandung.
Dalam karya Koko Koswara ada perbedaan antara kawih Mangkokoan di Indihiang,Tasikmalaya, serta kawih Mangkokoan setelah Mang Koko hijrah ke Bandung. Bandung memberi warna lain pada hasil kreativitas Mang Koko. Apalagi setelah Mang Koko mengajar di KOKAR (Konservatori Karawitan, sekarang SMKN 10 Bandung), pertemuannya dengan teoritikus karawitan Sunda R. Mahyar Angga Kusumadinata, membuat Mang Koko semakin getol mengeksplorasi karawitan Sunda. Tidak hanya dalam aspek musik, lirik dalam karya-karyanya sering menggunakan sajak dari kalangan sastrawan sunda, diantaranya Wahyu Wibisana, sehingga lagu Mang Koko yang awalnya didominasi oleh humor dan kritik sosial berubah suasana menjadi romantik.
Pertemuan Mang Koko dengan Pak Mahyar Angga Kusumadinata, menumbuhkan sifat puristis Mang Koko pada laras dalam karawitan sunda, hal ini tercermin dalam lagu Kasenian, yang diciptakan Mang Koko sendiri:
saléndro, pélog, degung, madenda
laras pirang-pirang
surupan teu kurang
sunda henteu perlu nguyang lagu ti Éropa
Saléndro, pélog, degung, dan madenda adalah nama-nama laras atau tangga nada dalam karawitan Sunda. Dalam penggalan lirik di atas Mang Koko ingin menyampaikan bahwa karawitan sunda itu sangat kaya, tidak perlulah kita untuk menggunakan tangga nada yang berasal dari benua Eropa. Tapi dalam aransemennya Mang Koko sangat terpengaruh musik barat, sampai oleh masyarakat di zamannya disebut gamelan Beatle. Dan Yura melakukan hal yang sebaliknya, dalam lagu Bandung Yura mampu memasukkan unsur-unsur seni suara Sunda pada musik jazz tanpa terasa wagu.
Tidak hanya dalam Bandung, juga dalam Kataji, lagu yang rilis beberapa tahun lebih dulu, Yura seakan memeras ruh Bandung dan menuangkannya pada lagu. Kataji berarti terpikat, menceritakan seorang mojang yang tidak merasa sedih atau marah ketika dikhianati, si mojang malah menikmati ‘permainan’ si tukang cidra. Aroma ‘kembang’ dalam kedua lagu ini memang pekat terasa.



