Sekarang Jalan Naripan terbentang dari pertemuan Jalan Cikapundung Barat-Jalan ABC-Jalan Naripan, sebagai terusan dari Jalan ABC. Sementara pada zaman penjajahan Belanda, jalan tersebut bermula dari perempatan Jalan Braga dan Jalan Naripan, atau dari Naripanweg No. 1 (Gedung YPK) hingga perempatan Jalan Veteran-Jalan Ahmad Yani. Bila kita lihat Google Maps, Jalan Naripan memanjang sekitar 1,4 kilometer, tetapi bila patokannya zaman Belanda dari Gedung YPK panjangnya sekitar 1,2 kilometer.
Pada masa Belanda, Gedung YPK masih menggunakan alamat Naripanweg No. 1, kemudian berubah menjadi Jalan Naripan No. 7, seperti sekarang. Naripanweg No. 1 di masa lalu diyakini pernah menjadi kantor N.V. Javasche Boekhandel en Drukkerij en Handel in Schrijfbehoeften Medan Prijaji yang menerbitkan surat kabar Medan Prijaji.
Beberapa sumber lama menyebutkan kehadiran Medan Prijaji di Bandung. Di antaranya warta De Preanger-bode (10 Januari 1911) dan Deli Courant (19 Januari 1911) yang menyebutkan terbitnya mingguan De Maleische Pers: Weekblad ter bekendmaking in ruimeren kring van de belangrijkste uitingen der Inlandsche en Chineesche pers in Nederlandsch Indië di Bandung. Konon, mingguan tersebut diterbitkan oleh N.V. Medan Prijaji, surat kabar yang sudah diterbitkan untuk beberapa waktu di sini (baca: Bandung). Dalam Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie (31 Januari 1911) tercantum bahwa Medan Prijaji diterbitkan di Bandung di bawah pemimpin redaksi Raden Mas Tirto Adisoerjo.
Dari sumber-sumber itu, kita mendapatkan keterangan paling tidak pada Januari 1911, Medan Prijaji sudah diterbitkan di Bandung, meskipun belum dicantumkan alamat persisnya. Saya sendiri baru menemukan Medan Prijaji berkantor di Jalan Naripan dalam De Preanger-bode (12 April 1911). Pada kasus merebaknya penyakit kolera di Bandung, yang melaporkan berita di Jalan Naripan, di gedung tempat Medan Prijaji berada, seorang juru tulis bumiputra terbaring sakit (“Op den Naripanweg, in het gebouw van de Medan Prijaji ligt nl. een inlandsche schrijver ziek”).
Namun, pada pertengahan Oktober 1911, sudah mengemuka kabar miring mengenai nasib Medan Prijaji. De Locomotief (17 Oktober 1911) memuat laporan dari Bandung bahwa publikasi harian Medan Prijaji tidak bisa dilanjutkan karena terlilit masalah keuangan, meskipun secara pemasaran masih bagus. Sementara properti surat kabar itu sudah disita salah satu bank pemberi kredit paling besar. Bisnisnya kemudian dipegang Dankmeyer di Bandung dan Labberton di Batavia serta kemungkinan direktur Medan Prijaji, Raden Tirta Adisoerjo, dan mitranya, Arsad akan dituntut. Para pemilik saham yang hanya punya f. 10 paling mendapatkan kesulitan.
Kabar miring terus berlanjut. Konon, menurut De Locomotief (19 Oktober 1911), kebangkrutan Medan Prijaji merupakan penipuan, dengan f. 80.000 digelapkan. Lalu direkturnya, Raden Tirta Adisoerjo, menjual koran tersebut atas inisiatifnya sendiri kepada wakil direkturnya, Madhie, orang Lampung, sehingga kejadian ini menimbulkan kegemparan di tengah-tengah bangsa bumiputra.
Sampai 21 Oktober 1911, di tengah hiruk-pikuk perampasan aset, percetakan, dan inventaris toko, Medan Prijaji tetap terbit setiap hari. Untuk sementara, koran tersebut dicetak oleh Firma Nix, dan para editornya menyayangkan Bataviaasch Nieuwsblad yang menuduh bangkrut sehingga usaha mereka disebut sebagai bisnis kotor. Meski demikian, koran itu menurunkan tulisan pendek ihwal kejatuhannya dan sindiran terhadap DD (Douwes Dekker). Sindiran itu menyebut DD sebagai “Dodol Depok; Delok Delok; Dowak Dowak; Dedel Doewel”. Tidak hanya itu, Medan Prijaji bahkan optimis dapat mendirikan sebuah hotel bumiputra lengkap dengan klubnya di Residentsweg (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 26 Oktober 1911).
Akhirnya, sejak awal Agustus 1912, aset N.V. Medan Prijaji di Bandung, termasuk mebel toko, buku-buku, alat tulis, lukisan, set huruf, lima mesin cetak manual, dan dua mesin pemotong, dilelang. Pelelangannya dilakukan di rumah L.T.H.G. Gout di Bragaweg pada 9 Agustus 1912 (De Preanger-bode, 7 Agustus 1912). Gout sejak 1909 dikenal sebagai pengusaha reparasi dan bengkel konstruksi seperti perbaikan sepeda, mobil, mesin jahit, mesin tik, hingga bangunan dari besi (De Preanger-bode, 21 April 1909). Dengan demikian, besar kemungkinan setelah N.V. Medan Prijaji bangkrut, asest-asetnya dijual kepada Gout.
Mengenai kaitan Medan Prijaji dengan Nix, Pramoedya Ananta Toer melalui Sang Pemula dan Karya-karya (1985) menyatakan Medan Prijaji dicetak di Percetakan Nix yang beralamat di Naripan No. 1. Ini tentu keliru. Sebab, dalam buku Ons bedrijf in het Handelsgebouw Nix (1921) bangunan pertama A.C. Nix & Co berada di Soeniaradjaweg (1904), lalu pindah ke sudut Soeniaradjaweg dan Bantjeujweg (1907), dan terakhir ke Landraadweg (1919). Artinya, A.C. Nix & Co tidak pernah beralamat di Jalan Naripan No. 1 sebagaimana yang disebutkan oleh Pram. Naripanweg No. 1 justru besar kemungkinan adalah kantor N.V. Medan Prijaji.
Dengan demikian, Medan Prijaji bisa jadi berkantor di Jalan Naripan No. 1 antara 1910-1911. Namun, dari De Preanger-bode (7 Januari 1911), Naripanweg No. 1 dihuni oleh A. Dubois, Opzichter 1e klasse BOW di Bandung, yang melakukan pelelangan barang-barang pada 14 Januari 1911, karena akan pindah.
Apakah ini mengandung arti bahwa Medan Prijaji tidak berkantor di Naripanweg No. 1? Atau bisa jadi sama-sama menggunakan rumah tersebut, tetapi beda ruangan? Misalnya di paviliun, karena dalam De Preanger-bode (16 September 1919) dipasang pengumuman kehilangan sebuah arloji perempuan yang terbuat emas. Bila bertemu si pemasang pengumuman mengatakan minta dikembalikan ke Paviljoen Naripan 1.
Betapapun, gedung atau rumah di Naripanweg No. 1 memang berganti-ganti penghuni. Saya mendapatkan keterangan, pada April 1913, diketahui Naripanweg No. 1 dihuni oleh B.H. Bommezijn (De Preanger-bode, 17 April 1913). Bommezijn sudah ada di Bandung paling tidak sejak 1901 (De Preangerbode, 18 Oktober 1901), menjadi agen Brand-Assurantie Matscjappij Merapi yang ada di Semarang (De Locomotief, 17 Maret 1904), dan semula tinggal di Merdika (De Preangerbode, 15 Maret 1909).
Enam tahun kemudian, muncul kabar Naripanweg No. 1 dihuni oleh J.E.M. Keunen (De Preanger-bode, 3 Desember 1919). Keunen adalah insinyur yang bekerja di Den Dienst van het Stoomwezen (Bataviaasch Nieuwsblad, 25 Juni 1915).
Lalu, sejak kapan Naripanweg No. 1 dijadikan markas Societeit Ons Genoegen, cikal bakal YPK? Mudah-mudahan saya dapat menjawabnya dalam tulisan mendatang.
Editor: Hafidz Azhar



