Nasib Sang Pemeluk Teguh

Ilustrasi Adam Rizqi Taufik

 

Tanpa pemeluk teguh seperti Lennie, yang bahkan bisa mengingat kata per kata gambaran lahan impian mereka, tidakkah cita-cita pekerja seperti George tinggal jadi cerita, hanya wacana, semacam utopia?

Seusai membaca novel Of Mice and Men (1937) karya John Steinbeck, saya bertanya-tanya kepada diri saya sendiri: apa yang dapat dibicarakan dari novel ini oleh pembaca dari luar kawasan Amerika Utara dewasa ini? Adakah pokok soal universal yang terkandung dalam lukisan pengalaman partikular? Apa yang sanggup saya utarakan ketika novel 121 halaman ini dikembalikan ke dalam rak buku?

Karena saya bukan bagian dari masyarakat penutur bahasa Inggris, pertama-tama saya tertarik oleh kata-kata dalam judul buku. Istilah mice adalah bentuk jamak dari mouse, sebagaimana men dari man. Rupa-rupanya, urusan yang diangkat dalam cerita tidak cuma terkait dengan satu-dua ekor tikus dan satu-dua orang manusia. Jangan-jangan, soalnya terkait pada masyarakat tikus dan kawanan manusia.

Yang pasti, tikus yang bangkainya dilemparkan oleh manusia ke danau yang dialiri Sungai Salinas, sekian mil di selatan Soledad, hanya hadir dalam bab pertama. Halaman-halaman berikutnya memberikan tempat kepada warga margasatwa lainnya, khususnya anak anjing, kelinci, dan kuda. Lagi pula, mesti segera ditambahkan bahwa ini bukan cerita tentang kerajaan hewan, melainkan cerita tentang segolongan manusia. Adapun golongan manusia yang punya lakon di sini kiranya dapat disebut khas Steinbeck: kaum pekerja kasar yang acap kali harus bergerak, berpindah tempat, sesuai dengan tuntutan mencari nafkah, mengumpulkan cuan buat merealisasikan impian. Itulah kaum pekerja yang berbicara dengan dialeknya sendiri: ya untuk you, fella untuk fellow, ast untuk ask, dll.

Di titik situlah saya melihat pokok soal yang agaknya tidak hanya relevan dengan California di tahun 1930-an. Dari novel ini, kita mendapatkan gambaran mengenai kaum pekerja, yakni mereka yang mengurus ternak, mengangkut jerami, dan mendiami lahan yang bukan milik mereka melainkan milik satu keluarga tuan tanah. Pendorong semangat mereka, kalaupun ada dan meskipun terdengar lemah, adalah niat untuk mengumpulkan upah dari waktu ke ke waktu buat memiliki lahan sendiri, mengolah bidang usaha sendiri, mengurus diri sendiri; berdaulat atas tanah sendiri.

Tegangan cerita sudah terasa sejak bab pertama dengan situasi kemanusiaan yang terlukiskan dalam percakapan antara George Milton dan Lennie Small, sepasang teman seperjalanan, tokoh terpenting dalam cerita ini. Yang satu berperawakan kecil tapi liat lagi cerdik, yang lain tinggi besar kayak beruang tapi pandir. George adalah mentor dan pelindung bagi Lennie, tapi sepertinya dia tidak selalu mampu menghindari apa yang dikhawatirkan oleh dirinya sendiri. Lennie berhati tulus tapi tidak dapat mengendalikan kekuatannya sehingga acap kali dia melakukan perbuatan buruk yang tidak dia kehendaki.

Ketika Lennie lagi-lagi terjebak dalam masalah, bahkan dalam bentuk yang amat gawat, yakni terbunuhnya menantu pemilik lahan, cerita meruncing. Pertanyaan lagi-lagi timbul di benak saya, khususnya terpaut pada sikap dan tindakan moral tokoh cerita. Impian, harapan, cita-cita, atau “program” yang dirumuskan oleh “ideolog” seperti George, dan diyakini begitu rupa oleh buruh pandir seperti Lennie, lagi-lagi tidak terealisasi, lagi-lagi menjauh dari kenyataan. Lantas, apa mesti diperbuat? Patutkah sang pelindung dan mentor mengakhiri hidup si bodoh yang memeluk teguh impiannya itu? Tanpa pemeluk teguh seperti Lennie, yang bahkan bisa mengingat kata per kata gambaran lahan impian mereka, tidakkah cita-cita pekerja seperti George tinggal jadi cerita, hanya wacana, semacam utopia?

Saya tidak tahu. Untuk sementara, sambil menghalau debu dari lemari buku, saya menempatkan karya Steinbeck di jajaran novel, bukan di deretan telaah sosial politik apalagi di barisan manual perjuangan. Yang pasti, meski saya belum sempat menonton versi drama Of Mice and Men, percakapan antara George dan Lennie di tepi danau, di dekat unggun, ada kalanya seakan terngiang-ngiang dengan caranya sendiri.***

 
HAWE SETIAWAN | KOLUMNIS & DOSEN DKV FISS UNPAS
Ilustrasi: Adam Rizki Taufiq
Picture of Redaksi

Redaksi