
Saat itu Gedung Sate tidak berpagar. Melambangkan kedekatan antara pemimpin dengan rakyatnya. Tidak seperti sekarang, dilingkari oleh pagar besi, yang kokoh. Seolah memisahkan antara pemimpin dengan rakyat, yang dipaku dalam kotak-kotak mati yang kaku.
Saya sekolah di SMAN 2 Bandung. Masuk di Jalan Belitung bulan Juni tahun 1965, dan lulus dari Jalan Cihampelas pada bulan November 1968. Artinya SMAN 2 Bandung pernah dua kali berpindah alamat. Dan artinya lagi, saya pernah mengecap bangku sekolah tiga tahun setengah, terkait dengan gejolak politik di Indonesia pada waktu itu.
Sampai dengan tahun 1965, Gedung sekolah di Jalan Belitung Bandung digunakan oleh empat sekolah, mulai pagi hari sampai dengan sore, SMAN 2 dan SMAN 5 masuk pagi keluar siang, SMAN 3 dan 6 masuk siang dan selesai sekolah di sore hari. Sejak tahun 1966, SMAN 2 pindah ke bekas Sekolah Cina yang pernah pula dikuasai militer yaitu di jalan Cihampelas Bandung.
Pernah pula SMAN 4 yang menetap satu gedung dengan SMPN 2, di Jl Sumatera, kemudian boyongan pindah ke Jl Gardujati. Hanya SMAN 1 yang dari awal sampai sekarang tetap di Jalan Dago. Pada waktu itu SMAN baru sampai dengan angka 6. Karena sering tawuran, kemudian digagas PORISMAN (Pekan Olahraga Inter SMAN), dengan maksud mengakrabkan diri setiap murid SMAN di Bandung, yang pada kenyataannya angger wae tawuran mah teu eureun. Di tahun 2010 diselenggarakan REUNI PORISMAN dan diselenggarakan bergilir setiap satu tahun sekali. Menyenangkan, nini-nini sama aki-aki koboi Bandung baheula, ngarumpul deui.
Di zaman itu (hampir) setiap hari sekolah diliburkan kemudian para siswa dimobilisasi untuk demo sambil tidak faham apa yang sesungguhnya dilakukan. Saya sih, senang saja karena (hampir) setiap hari tidak belajar.
Pada tahun 1980-an banyak muncul organisasi yang memakai atribut Angkatan 66. Acapkali, para “tokoh” mengajak saya bergabung tapi saya selalu menolaknya. Karena, sebagai mobilisan saya merasa tidak punya hak untuk menyatakan diri sebagai aktivis 66. Tapi, aneh juga, banyak yang pada tahun 1966 masih di sekolah dasar, akan tetapi pada tahun 1980-an menyebut dirinya Angkatan 66. Saya suka kagum betapa hebatnya mereka, sudah menjadi aktivis saat masih bocah ingusan.
Sejak remaja saya termasuk orang yang miskin alternatif. Saya, lebih memilih setiap hari jalan kaki sekitar 15 KM daripada harus pindah ke sekolah lain yang lebih dekat. Tapi sekalipun berjalan kaki, tidak membuat badan pegal dan linu, Bandung pada waktu itu masih asri dan sejuk. Di sepanjang pinggir jalan masih tumbuh berjajar pohon-pohon rindang. Ada blok pohon mahoni, blok pohon tanjung, blok pohon damar dan lainnya. Tapi bagi saya, yang terasa paling indah adalah jajaran pohon flamboyan di sepanjang jalan Cilamaya, antara Jalan Banda sampai Jalan Diponegoro yang melintasi Hotel Bumi Asih, yang sudah berdiri sejak sebelum 1960. Apalagi saat musim gugur daunnya memenuhi jalan, saya membayangkan Iwan Abdurahman menciptakan lagu flamboyan pada tahun 1967 ketika melintas di jalan ini, entah pulang dari mana.
Flamboyan
Berguguran
Berjatuhan
Berserakan.
Ketika masih remaja, saya suka main di Oranyeplein (taman oranye = taman yang indah), sekarang dinamakan Taman Pramuka, yang sudah hilang keindahannya. Ditengah taman terdapat bangunan yang berfungsi sebagai toko. Sekalipun rumah itu nyengceling ditengah taman tapi belum pernah terdengar ada yang melakukan kejahatan. Mungkin, pada waktu itu, para bromocorah enggan berurusan dengan polisi, sekalipun kalau patroli, Pak Polisi hanya dibekali sepeda. Salah seorang Polisi yang saya kenal adalah, Oom Niko, penuh wibawa dan tegas, dan masyarakat merasa aman dan nyaman apabila berdekatan dengan beliau.
Di seputar Oranyeplein terdapat bangunan tua yang indah. Bangunan-bangunan tua yang kokoh itu sekarang sudah banyak yang raib tergerus oleh modernisasi keblabasan.
Acapkali saya bermain ditempat yang disebut lapang miring di bagian belakang Gedung Sate. Saat itu Gedung Sate tidak berpagar. Melambangkan kedekatan antara pemimpin dengan rakyatnya. Tidak seperti sekarang, dilingkari oleh pagar besi, yang kokoh. Seolah memisahkan antara pemimpin dengan rakyat, yang dipaku dalam kotak-kotak mati yang kaku.
Jalananpun belum pabaliut seperti sekarang, jalur transportasi umum masih terbatas, kawasan hunian terpisah dengan kawasan niaga, tidak seperti saat ini, terlihat ruwet dan rusuh.
TOS AH, CAPE.***
ARIFIN SUPRIATNA | PENULIS LEPAS DAN ANGGOTA WANADRI



