Nyanyian Pasar untuk Buku yang Membesar

Adew Habtsa sedang tampil pada Pasar Biru 4 di Lio Genteng bulan Desember 2024. (Dokumentasi Wanggi Hoed).

Di Teras Sunda, Cibiru, ada pembukaan Pasar Biru, tepatnya pada 9 Desember 2019. Saya datang mengisi panggung musik pada hari pertama. Saya tampil di tengah dua acara, yakni diskusi pendidikan alternatif dan bincang buku karya Hafidz Azhar.

Oh ya, ini bukan sembarang pasar. Pasar yang justru akan menumbuhkan sabar, sekaligus kendalikan gusar. Yang berlaku kasar dan kesasar, bijaknya disodorkan karya sodorkan hati bergetar. Seperti sebuah pasar dalam makna klasiknya, akan ada tawar menawar, obrolan antara penjual dan pembeli, dan tentu saja pertukaran pengetahuan juga pengalaman. Benar-benar lebih dari sekadar transaksi ekonomi, namun terdapat transaksi jiwa. Inilah pertemuan jiwa dari para pembaca, termasuk penulis, penerbit dan semua pihak yang terkait pada industri perbukaan. Demikianlah Pasar Biru namanya. Memang bukan pasar baru. Barangkali seperti sebentuk upaya memasarkan yang biru, yang seru dan bikin haru, yang biasa termaktub dalam lembar demi lembar buku atau yang serupa dengan itu.

Sementara itu lagu-lagu saya bukan biru, tidak pula seru, dan tak kunjung bikin haru. Namun saya bersyukur tak terhingga, saat mengikuti kegiatan yang akan banyak tonjolkan pengalaman berharga ihwal membaca, menulis dan atau melaksanakan hasil pembacaan dan perenungan selama ini.

Parahnya, sebagai warga kota saya baru kali pertama injakkan kaki di kawasan paling nyeni, nyunda, dan nyentrik di kawasan timur Kota Bandung. Dulunya tempat seperti apa areal ini sebelum menjadi ruang seni dan budaya? Seingat saya di samping lokasi ada kompleks makam atau pekuburan warga, dekat juga dengan pemukiman dan perkampungan warga. Bangunan tempat acara ini sangat strategis, berada di pinggir jalan utama, jalur ramai di ke arah timur, perlintasan menuju luar kota. Sungguh, istimewa ada tempat pertunjukan yang enak, gagah dan artistik. Rupanya dikelola oleh Pemerintah Kota, dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung. Kuat dugaan saya, bahwa kantung seni budaya bersama ruang pertunjukan yang representatif seyogianya menyebar dan berada di segala arah dan tempat.

Parahnya lagi, saya mestinya menyesuaikan diri dengan tema perhelatan ini. Berusaha masuk ke dalam gagasan yang dihaturkan pada tiap guliran panggung. Jika memang buku menjadi dasar pijakan kegiatan, bagusnya saya memang menampilkan karya musik dan lagu, yang terpantik dari satu bacaan tertentu. Entahlah saya merasa harus ada ketersambungan nyanyian dengan gagasan utama sebuah acara. Misalkan, lagu tersebut diambil dari puisi yang sudah dibukukan, karena memang sedang berlangsung diskusi buku yang termaksud itu. Lebih jauh dari itu, alangkah lebih baiknya lagu yang tercipta adalah produk apresiasi terhadap satu karya tulisan tertentu, sehingga lahirlah teks yang hendak dilantukan. Semacam alih wahana, memanggungkan isi teks merupa tafsiran, menjelma lirik lagu berdasar ketertarikan pada titik persoalan. Tapi, untungnya tidak ada arahan atau saran seperti itu. Jikalau ada arahan seperti itu, cukuplah menantang agenda pasar buku ini.

Pendek kata, dari buku menjadi lagu. Pada tataran yang ideal, telah terjadi kerjasama alias kolaborasi yang apik dan ciamik antara pemusik dan penulis buku. Keduanya mendapatkan keuntungan. Saling memperkenalkan karya. Sama-sama berada dalam upaya mendekatkan bacaan pada sidang pembaca yang lebih luas. Melalui nyanyian, harapannya tergerak pula kita semua untuk membaca. Atau sebaliknya, lewat teks tertulis itu menjadi sumber inspirasi yang munculkan kreativitas baru. Sekaitan hal ini, bukanlah sesuatu yang baru, para seniman sudah banyak melakukannya. Tinggal kita teruskan tradisi baru ini dalam menggerakkan roda industri perbukaan di Indonesia. Lebih dari sekadar nyanyian dan lebih dari sekadar buku. Bahkan, dari buku tak mesti selalu harus juga dinyanyikan, segala gaya ekspresi seni dapat dikerahkan.

Akan tetapi kemungkinan besar tim penyelenggara berikan keleluasaan buat para penampil untuk sampaikan hasil tangkapan karyanya. Jadi aneh sebenarnya, kita tampil dengan sesuatu yang tak ada kaitannya dengan tema yang sudah diusung bersama. Bagaikan ingin menyamakan suara pada satu komposisi, jika ada yang melenceng, malulah hati ini, jadi bahan gunjingan nantinya. Itupun kalau memang yang hadir para apresiator terkhusus memberikan respons yang bagus, sehingga tertampilkan karya yang layak pentas. Kecuali memang sudah dari awal kesepakatan merupakan konsep bersama pada perhelatan kali ini, yakni menampung segala ragam curahan seni beserta kebebasan tema dan pokok pembicaraan yang mengapung. Itu memang lain soal. Artinya antara satu acara ke acara dengan musik sebagai pemecah kebekuan, dibiarkan hadir dan bergulir alamiah.

Dan makin parah, saat lagu pertama belum selesai. Jatuhlah gitar saya. Padahal sudah disiapkan strap gitar dengan pasti sebelum naik panggung. Bukankah perangkat pengeras tata suara juga terdengar mantap menggelar di tengah ruangan yang cukup besar, dilengkapi tempat duduk yang nyaman? Para pengunjung sudah bersiap mengapresiasi apapun itu hasil karyanya. Pemandangan sejumlah buku dan yang serupa dengan itu menjelma menu utama. Datanglah dari pelbagai kelompok penerbit, toko buku dan teman teman komunitas yang sama-sama ingin rayakan indahnya guratan pena.

Ah, setelah jatuh gitar saya, rupanya ada yang kena pada preamp gitar ini? Wah, pertunjukan mesti berlanjut. Suara gitar dibantu mikrofon. Tapi yang terjadi saya bernyanyi seolah tanpa sound, coba interaktif dan atraktif tadinya. Memang begitu, ke mana pun dan di mana pun serta apa pun tema acaranya, sesungguhnya lagunya masih yang itu-itu saja. Ahai. Sebab saya merasa belum bagus bernyanyi dan bermain musik, tapi betul-betul ini didorong perasaan ingin berbagi ihwal perkara yang dirasa penting soal hidup damai berdampingan dalam persaudaraan dan kesetaraan di tengah-tengah keriuhan suara yang beraneka. Hemat saya, lagu itu jadi sejenis mantra-mantra atau jampi-jampi untuk diri sendiri, syukur-syukur merambah pada yang mendengarkan. Maka, lagu yang berjudul ‘Egaliter’ ini, kiranya turut menguatkan diri dan lingkung sekitar bahwa kita sesungguhnya bersaudara dan juga setara.

Aih, berkaitan dengan gitar yang sontak saja jatuh saat lagu pertama dinyanyikan, jangan-jangan gara-gara saya lupa menyampaikan salam keberkahan rahmat dan kesejahteraan bagi penghuni semesta pun pada punggawa tempat yang luar biasa ini, sehingga terjadi sedikit kendala? Tak hanya itu, saya pun ceroboh tak menutup dengan sempurna penutup tumbler air minum, sehingga basahlah seisi kantong gitar. Amboi, mungkin saya terjebak perasaan yang aneh-aneh dan berlebihan.

Bandung, 9 Desember 2019

 

Editor: Hafidz Azhar

 

Picture of Adew Habtsa

Adew Habtsa

Tinggal di Bandung. Bergiat di Komunitas Balada, ManjingManjang dan Klub Baca Asian African Reading Club.