Observasi ke Pasir Cabe

Kami menempuh ke lokasi dengan waktu 2 jam 8 menit. Tujuan kami ke Kampung Pasir Cabe, Kabupaten Cianjur. Tentu saja, bukan hal yang mudah untuk bisa sampai ke wilayah yang belum pasti keberadaanya. Namun saya yakin dapat menemukan tempat itu. Saya dan Wa Hawe Setiawan berangkat dari Bandung pukul 07.30 menggunakan sepeda motor. Setibanya di Cimahi kami berhenti sejenak untuk mengisi bahan bakar.

Perjalanan kami lanjutkan dengan kecepatan sekitar 50 sampai 60 km/jam. Kondisi jalanan sangat padat, tetapi tidak mengurangi semangat dalam berkendara.

Sepeda motor yang kami tumpangi itu milik Wa Hawe. Umurnya sekitar 30 tahunan. Bagian body berwarna hitam dengan disertai rak di depan dan isi silinder 100cc. Motor ini mengantarkan kami dalam sebuah observasi. Sepanjang perjalanan kami melewati jalan berliku, terutama di daerah Citatah atau yang lebih dikenal dengan Tagog Apu. Jalur itu terlihat sangat estetis penuh dengan kelokan serta sedikit menurun. Panjangnya sekitar 3 km seperti tertera dalam tulisan marka jalan.

Dalam pikiran saya, ini pencarian data yang menarik. Berharap dapat divisualisasikan seandainya kami sudah menemukan tempatnya. Apalagi, boleh dibilang, saya sangat beruntung mendapat ajakan dari Wa Hawe, seorang budayawan ternama sekaligus dapat menimba ilmu secara langsung.

Saya membayangkan seperti Bujangga Manik mencari ilmu ke wilayah timur Pulau Jawa; mencari apa yang sebelumnya dia tidak tahu, sehingga dapat menemukan nilai spritual untuk dirinya.

Seraya membayangkan hal itu, tak lama kemudian akhirnya kami sampai di jembatan Sungai Citarum. Sungai ini menjadi pembatas antara wilayah Kabupaten Bandung dan Cianjur.

Sebagai tukang foto keliling, saya setidaknya harus bisa menginterpretasikan secara visual ke dalam sebuah citra imaji terutama tentang keberadaan lokasi yang sedang diteliti. Pasir Cabe, lokasi yang sedang diteliti itu disebut-sebut pada catatan Tirto Adisurjo. Saya sendiri, sebetulnya, berkepentingan untuk memotret. Sementara Wa Hawe orang yang memiliki kepentingan soal informasi Pasir Cabe. Berikut saya kutip tulisan Wa Hawe yang sudah dimuat bandungbergerak.id beberapa minggu silam.

“Diksi “nampaknya”, tentu, menyiratkan keraguan. Itu sebabnya saya lebih tertarik oleh informasi yang terkandung dalam deskripsi Tirto sendiri. Begini bunyinya: ‘Pasircabé adalah sebuah desa berpenduduk padat. Sebuah halte keretaapi ada di tengah-tengahnya sedang jaraknya dari kota Bandung hanya tiga pal’.”

Rasa penasaran semakin tumbuh, dengan adanya sedikit petunjuk yang dapat meyakinkan bahwa tempat itu ada. Secara geografis, posisi tempat tersebut tepat berada di dekat halte kereta api yang padat penduduk. Bahkan tempat tersebut tidak jauh dari pendopo Cianjur dengan jarak sekitar 3 pal.

Belakang Halte Pasir Hayam (Foto: Dicky Purnama Fajar)

Tepat pukul 10.30 tanpa disadari kami melintasi rel kereta api itu. Terlihat dari jauh tulisan Pasir Hajam di sebelah kanan jalan. Jelas terpampang tulisan tersebut di bangunan halte kereta api tempo dulu yang sudah tidak berfungsi.

Sepertinya saya tidak asing dengan lokasi itu. Kurang lebih sekitar 7 tahun silam, saya sempat menginjakan kaki 300 meter dari lokasi itu. Setelah ditelusuri ternyata tempat tersebut memiliki nilai bersejarah bagi perkembangan surat kabar pertama yang ada di wilayah Priangan. Akhirnya kami berdua turun dan coba mengabadikan tempat tersebut dari berbagai sudut pandang. Siapa tahu hasil fotonya bisa menjadi bahan untuk laporan dokumentasi. Lalu memastikan tempat itu ada sesuai apa yang tertera dalam teks yang ditulis Tirto Adisurjo.

Untuk lebih memastikan kebenaranya, saya coba menghubungi seorang rekan yang berdomisili di wilayah itu. Sebut saja Reza. Dia seorang informan lokal warga Cianjur dan mengajar di Jurusan Ilmu komunikasi, Unpas. Kami menarik informasi juga dari Reza untuk memastikan bahwa tempat tersebut benar Pasir Hayam.

Penelusuran etnografi yang bersifat intuitif ini menghasilkan temuan yang luar biasa. Bagi saya sendiri hal ini memberikan pengalaman yang mendalam walaupun dilakukan secara singkat.

Dengan memanfaatkan peta digital yang terdapat dalam gawai pintar, tidak jauh dari lokasi tersebut, akhirnya dapat ditemukan Kampung Pasir Cabe. Jarak dari Pasir Hayam ke Pasir Cabé dapat ditempuh sekitar 10 menit, kurang lebih sekitar 3 kilometer. Nama lokasi tersebut memang tidak bisa terdeteksi dalam sebuah peta, sesuai apa yang tertulis dalam Sang Pemula karena daerah ini merupakan sebuah perkampungan dengan hamparan sawah yang cukup luas. Bahkan bisa tembus menuju makam keramat Gunung Jati Cianjur.

Hamparan sawah di Pasir Cabe (Foto: Dicky Purnama Fajar)

Menurut saya ini merupakan temuan penting dalam sebuah pencarian data yang bisa direkonstruksi secara visual melalui medium fotografi. Akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan menuju Makam Keramat.

Makam keramat Gunung Jati berada di Kampung Jebrod, Desa Rahong, Kecamatan Cilaku, Kabupaten Cianjur. Tempat wisata religi ini selalu dibanjiri oleh para peziarah dari luar kota untuk melaksanakan prosesi tawasul.

Kawasan Makam Keramat Gunung Jati, Kabupaten Cianjur.

Tawasul menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti mengerjakan suatu amal yang dapat mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Bahkan tawasul merupakan bagian dari suatu proses pola komunikasi yang bersifat transendental. Prosesi ini mempunyai daya tarik tersendiri bagi yang meyakininya.

Sosok yang dipendam di makam tersebut dipercaya sebagai seorang tokoh yang berkaitan dengan sejarah Cianjur dan merupakan anak dari Eyang Dalem Cikundul yang bernama Raden Aulia Aria Nata di Manggala (Dalem Aria Kidul Gunung Jati). Itulah informasi yang saya peroleh.

Setelah mengunjungi Makam Keramat itu kami pun langsung bergegas pulang ke Bandung. Sungguh, perjalanan etnografi yang amat berharga, sehingga dapat memetik sebuah pengetahuan baru.

 

Editor: Hafidz Azhar

Foto: Halte Pasir Hayam yang sudah tidak berfungsi (Dicky Purnama Fajar) 

Picture of Dicky Purnama Fajar

Dicky Purnama Fajar

Sehari-Hari mengajar di Jurusan Desain Komunikasi Visual, Unpas, dan juga membantu jalannya siniar Hanya Wacana.