Ojo Dibandingke Kak!

Lagi pula, tempat lahir dan tumbuhnya Farel adalah tempat di mana campursari telah menubuh bagi semua kalangan—menjadi bagian yang melekat yang tidak pernah dapat dipisahkan.

Batununggal, minggu pagi. Langit kelabu serupa kanvas Barnet Newman. Sebuah tanda kurang baik untuk mencuci mobil. Tapi apa lacur, nyaris sebulan mobil tidak dicuci, rupanya sudah layak disebut seni konseptual.

 

Di tempat cuci mobil itu, ada 10 orang pegawai dengan tugasnya masing-masing. Sat set sat set, gesit dan tangkas. Mobil yang tandas dicuci kinclong dibuatnya. Di antara 10 pegawai itu, ada satu admin yang mengawasi jalannya cuci mencuci dengan santainya.

 

Ia memutar lagu campursari yang belakangan ini viral: ‘Ojo Dibandingke’. Sesekali mulutnya komat dan kamit merapal lirik, kepala, pundak, tangan, lutut, dan kakinya digoyang tipis-tipis. Para pegawai mulai mengikuti irama, suasana kerja jadi asik ramai sekali.

 

Campusari memang magis, ia menyihir banyak orang. Tidak hanya orang Jawa. Popularitasnya menasional berkat militansi seniman dan penggemarnya. Pasca Didi Kempot, kini muncul Farel Prayoga dengan ‘Ojo Dibandingke’ karya Abah Lala.

 

Sebetulnya ‘Ojo Dibandingke’ sudah popular jauh sebelum Farel tampil di istana. Jutaan orang sudah menontonnya di YouTube! Ribuan orang sudah melihatnya di TikTok, Instagram, Twitter, dan mungkin di Facebook. 

 

Hal itulah yang kemudian membuat lagunya viral di berbagai sosial media hingga ia diundang ke Istana. Pola sebaran campursari di berbagai lini tersebar secara sporadis melintasi batas-batas teritorial kebudayaan—episteme jika Foucault menyebutnya. Ia menjadi hadir di mana-mana. Perlahan tapi pasti campursari menjadi dominan. 

 

Dominasi campursari dapat dilihat sebagai sebuah keniscayaan di era yang serba menjelipat ini. Bahasa daerah tidak lagi menjadi penghalang untuk menikmati musik, yang penting enak dijogetin. 

 

‘Ojo Dibandingke’ versi Farel direspon ini dan itu. Salah satunya oleh Kak Seto. Ia gelisah, karena Farel anak kelas 6 SD itu membawakan lagu tentang cinta-cintaan. Tidak sesuai umur. Bagi Kak Seto itu pertanda yang gawat!

 

Tapi, Kak! Lagu anak di belantika musik Indonesia sudah lama sekali tidak terdengar. Memang, tahun 90an silam lagu anak sempat mencicipi manisnya puncak popularitas di Indonesia. Banyak penyanyi cilik yang namanya bersinar kala itu, seperti, Trio Kwek-Kwek, Joshua, Meissy, Bondan Prakoso, Tina Toon, dan lainnya.

 

Sayang sekali, hari ini, nyaris tidak ada penyanyi cilik yang kita kenal—apalagi lagu anak yang popular. Nah, jika kita merujuk kegelisahan Kak Seto, apa Farel bisa disebut penyanyi cilik? Sepertinya tidak, karena mungkin sekali bagi Kak Seto penyanyi cilik sejatinya bernyanyi tentang dunianya, dunia anak-anak yang penuh dengan kecerian dan kebahagian bukan kegalauan apalagi cinta-cintaan ala mas-mas dan mbak-mbak SCBD.

 

Namun, dunia anak-anak dalam pandangan Kak Seto mungkin saja berbeda dengan dunia anak-anak dalam pandangan atau yang dialami oleh Farel. Sebelum tenar, Farel membantu bapaknya mengamen dari satu tempat ke tempat lainnya. Dunia Farel jelas berbeda dengan dunia anak-anak sebayanya atau anak-anak dalam bayangan Kak Seto. 

 

Farel lebih dulu merasakan manis dan pahitnya kehidupan. Lagi pula, tempat lahir dan tumbuhnya Farel adalah tempat di mana campursari telah menubuh bagi semua kalangan—menjadi bagian yang melekat yang tidak pernah dapat dipisahkan.  Di antara semua lagu yang pernah dinyayikan Farel, bisa jadi ‘Ojo Dibandingke’ memiliki sesuatu yang sangat personal baginya. Melampaui syair cinta-cintaan itu sendiri.  

 

Jadi, ya, ojo dibandingke yo, Kak.

 

LINGGA AGUNG | KOLOMNIS & DOSEN DKV TELKOM UNIVERSITY

Ilustrasi: Adam Rizki Taufiq
Picture of Redaksi

Redaksi