Salah satu hal yang unik dalam tradisi penca di Tatar Sunda: terpeliharanya silsilah atau sanad keilmuan, terlepas dari pusparagam aliran dan perguruan. Adapun kesaktian guru-guru itu, tentu, tidak turun dari langit melainkan tumbuh di bumi melalui latihan yang keras dan disiplin yang terjaga.
Dari Perpustakaan Ajip Rosidi, di Bandung, kami berkendara menuju ke Cianjur, kota yang dulu pernah jadi mustika Tatar Parahyangan, lewat Padalarang yang ramai, meliuk-liuk di sepanjang kawasan gunung kapur Citatah. Lukisan lanskap dalam untaian puisi Priangan Si Jelita karya Ramadhan K.H., penyair terkemuka dan anak patih Cianjur, dengan sendirinya muncul lagi di benak saya: “berbelit jalan ke gunung kapur//antara Bandung dan Cianjur”. Bersama saya ada tiga pendekar maénpo, termasuk seorang yang memegang setir. Di sepanjang jalan kami berbincang-bincang seputar dunia persilatan. Berangkat dari Kota Kembang sekitar pukul sepuluh pagi, kami tiba di Kota Tauco menjelang duhur. Perjalanan yang terbilang lancar untuk ukuran akhir pekan.
Tempat yang kami tuju adalah kawasan Warujajar di pusat kota yang sibuk, tepatnya di Jalan K.H. Hasyim Asyari. Toko, kafe, dan lapak kaki lima berjajar di kedua tepi jalan, dan mobil serta sepeda motor terparkir di samping trotoar. Jalan itu tidak begitu lebar, dan sebetulnya tidak mudah bagi kami untuk memasukkan minibus yang kami pakai ke sebuah gang yang bukan jalan umum. Gang itu lebih tepat disebut lorong, hanya cukup untuk dilintasi satu mobil, menuju halaman belakang sebuah rumah yang cukup besar. Di situlah letaknya rumah Wa Azis. Begitu kami turun dari mobil, tuan rumah sudah berdiri menyambut kami. Saya segera mencium tangannya dan memeluknya. Dua orang pria pekerja bangunan tampak sedang memasang batu-bata pada sebuah bangunan yang memanjang, tepat di belakang rumah, dipisahkan oleh halaman rumput yang dapat memuat dua mobil. Rupanya, Wa Azis sedang merenovasi padepokannya. Ia berharap, tak akan lami lagi murid-muridnya dari luar kota bisa juga bermalam di padepokan itu.
Pertama-tama, kami dipersilakan duduk-duduk di ruang tamu, dan saya memanfaatkan kesempatan itu untuk mengeluarkan buku catatan. Saya memilih kursi yang paling dekat ke tempat duduk tuan rumah. Saya lihat Wa Azis kini mengenakan alat bantu dengar di telinganya, seperti memberikan aksen tersendiri pada rambutnya yang telah menipis dan memutih. Hanya di bagian alisnya yang lebat saya masih melihat rambut yang masih hitam. Namun, bola mata, suara, dan terlebih-lebih gerak-geriknya tetap memancarkan semangat nan menyala-nyala. Untuk setiap pertanyaan yang perlu saya lontarkan, saya harus melantangkan suara saya, dan untuk setiap jawaban yang ia sampaikan, Wa Azis bercerita panjang lebar, diselingi derai tawa dan interupsi dari murid-muridnya, termasuk dua murid senior dari kota setempat yang turut hadir siang itu. Materi pertanyaan saya terutama berkisar di sekitar kiprah Wa Azis dalam upaya turut memelihara dan memperkenalkan lagi warisan karuhun yang berupa seni bela diri maénpo Cikalong, baik di dalam negeri maupun di mancanegara, terutama sejak zaman reformasi.
Nama kecilnya adalah Abdul Azis, tapi masyarakat luas lebih mengenalnya sebagai R.H. Azis Asy’arie. Ia lahir di Cianjur, 11 September 1949, sebagai anak ke-9 dari 10 bersaudara putra-putri H. Asy’arie dan Hj. Neneng Rahmah. Ayahnya putra Cianjur, sedang ibunya dari Cirebon. Sang ayah, H. Asy’arie, adalah tuan tanah yang memiliki lahan pertanian luas di Cianjur, hingga mampu menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang pendidikan tinggi. Wa Azis sendiri mengikuti kuliah teknik di ATN, Jakarta. Pada 1972 ia menikah dengan Hj. Iceu Suprianah (alm.), dan dikaruniai 4 anak. Dari 1976 hingga 2004 ia mengelola toko bahan bangunan “Ilham” di Cianjur dan bergiat pula sebagai pemborong di kota itu. Sejak bisnisnya berakhir, kiranya sebagai buntut tersendiri dari krisis moneter menjelang zaman reformasi, ia mencurahkan waktu dan tenaganya di bidang pemeliharaan dan pemajuan maénpo Cikalong.
Sang maestro penca rupanya terbilang peka terhadap perut lapar murid-muridnya. Sebelum ia mengajak kami berlatih maénpo, ia memesan sate maranggi banyak sekali ditambah satu panci sup ayam plus satu stoples kerupuk. Satenya enak betul dengan bumbu oncom yang diulek hingga lumat. Saya melahapnya penuh selera, hampir-hampir lupa akan sopan-santun tamu. Setelah makan dan salat duhur, barulah kami bercengkrama di padepokan. Bangunan memanjang yang dijadikan Padepokan Mancika (Maénpo Cikalong) pimpinan Wa Azis merupakan bangunan permanen dari beton yang berkusen kayu. Jika melihat kerangkanya, bangunan itu tampaknya akan menjadi dojo dua lantai, dengan lantai pertama sebagai tempat berlatih. Pada salah satu dinding tempat berlatih maénpo itu tergantung sebuah lukisan cat air karya Yus Arwadinata, seniman dari Bandung, yang memperlihatkan Wa Azis sedang memperagakan maénpo. Lukisan akuarel itu diletakkan di bawah reproduksi lukisan potret R. H. Ibrahim, perintis maénpo Cikalong, yang berdampingan dengan nama dan semboyan padepokan: “semangat, rajin, istiqomah”. Matras dari karet terhampar di lantai tempat para pegiat maénpo berguling-guling. Kata Wa Azis, saya harus berlatih koprol biar tahu caranya berguling yang betul.
Sebetulnya, kunjungan siang itu, 22 Oktober 2022, bukanlah kunjungan pertama saya ke Padepokan Mancika. Kunjungan pertama terjadi beberapa tahun lalu ketika saya ikut rombongan Garis Paksi (Lembaga Pewarisan Penca Silat) dari Bandung pimpinan Bah Gending Raspuzi yang sedang bersilaturahmi ke Cimande, dekat Bogor, lalu ke Cianjur setelah bermalam di Sukabumi, di rumah keluarga Chye Retti Isnendes, dosen UPI. Kebetulan, Wa Azis termasuk salah seorang figur yang duduk di jajaran “Dewan Guru” Garis Paksi. Teti, istri saya, waktu itu ikut serta, dan ia senang sekali mendapat “pelatihan” singkat dari Wa Azis tentang cara melepaskan tangan dari cengkeraman lawan sekaligus menggulingkannya. Saya ragu, apa dia masih ingat teknik itu karena malas berlatih sebagaimana yang sering terjadi pada diri saya. Lagi pula, untuk menggulingkan diri saya mah dia toh tidak perlu repot-repot. “Silat” kami memang cenderung jadi semacam kontraksi dari “silaturahmi”.
Tentu, lain halnya dengan silat Wa Azis. Rasa tidak aman, juga mungkin semangat zaman, yang dulu pernah ia rasakan dalam lingkungan sehari-harinya, mendorongnya untuk berguru kepada mendiang R.H. Oewéh Soléh bin Purakusumah alias Gan Uwéh (1906-1991). Sapaan “Gan” tentu dari “Juragan”, pertanda orang yang disapa berasal dari lingkungan bangsawan, sedangkan “Uwéh” kiranya merupakan pelafalan akrab dari “Soléh”. Gan Uwéh sendiri suka menyapa muridnya “Néng Azis”. Di Tatar Sunda dulu, kata sandang “Néng” tidak hanya lazim dilekatkan kepada perempuan, melainkan juga kepada lelaki dari lingkungan aristokrat. Di lingkungan khusus itulah, rupanya, tradisi maénpo Cikalong tumbuh dan berkembang pada mulanya, dengan figur R. H. Ibrahim alias R. Djaja Perbata (1816-1906) yang dikenang sebagai perintisnya. Dari dedikasi Mama Haji Ibrahim telah lahir empat generasi maestro maénpo. Wa Azis kiranya termasuk ke dalam generasi keempat. Dan inilah salah satu hal yang unik dalam tradisi penca di Tatar Sunda: terpeliharanya silsilah atau sanad keilmuan, terlepas dari pusparagam aliran dan perguruan. Adapun kesaktian guru-guru itu, tentu, tidak turun dari langit melainkan tumbuh di bumi melalui latihan yang keras dan disiplin yang terjaga. Semboyan di dinding Padepokan Mancika tadi kiranya mewartakan hal itu.
Pada masa muda Wa Azis, rupanya, tidak hanya murid yang mendatangi guru, sebagaimana lazimnya, melainkan juga sang guru bisa saja mengunjungi muridnya sewaktu-waktu. Ia terkenang akan masa-masa tatkala Gan Uwéh sudi berkunjung ke rumah sang murid. Pertemuan seperti itu niscaya turut menjamin kelangsungan disiplin berlatih yang tak kunjung letih.
Tubuh dan jiwa yang terlatih niscaya mampu menanggapi gelombang perubahan zaman. Tak lama sejak munculnya gelombang reformasi di Indonesia pasca Soeharto, ekspresi budaya dari berbagai wilayah Indonesia seperti mendapatkan peluang untuk tersampaikan lagi. Sementara di tingkat global, khususnya melalui organisasi-organisasi di bawah PBB, ada ikhtiar untuk mencatatkan, mengakui, dan memasyarakatkan lagi warisan-warisan budaya, baik budaya benda maupun budaya takbenda, dari berbagai belahan dunia. Geliat politik lokal bersambung gayung dengan peluang global. Para guru, pencinta, dan peminat seni bela diri tradisional, khususnya pencak silat, pun menangkap semangat zaman tersebut dan menanggapinya dengan cara tersendiri. Pertemuan para tokoh penca dan penyelenggaraan festival penca di dalam negeri, juga upaya-upaya diplomasi penca di mancanagara, berlangsung. Maestro penca seperti Wa Azis, khususnya sejak awal tahun 2000-an, ikut bergiat dalam semangat umum demikian. Ia mengajarkan maénpo Cikalong di Jakarta dan beberapa kota lainnya, juga turut serta dalam diplomasi penca ke Australia pada 2008 dan Prancis pada 2017.
Di tangan Wa Azis pembelajaran maénpo diperkaya dengan ikhtiar literasi. Sebegitu jauh, ia telah menulis dua buku: Silat Tradisional Maénpo Cikalong: Kaidah Madi, Sabandar, dan Kari (2013) dan Silat Tradisional Maénpo Cikalong R.H. O. Soléh: Panduan Dasar Maénpo Cikalong (2014). Ikhtiar seperti ini seakan meneruskan dedikasi penulisan yang telah dirintis oleh Gan Obing Ibrahim dengan menulis buku Sadjarah Kabudayaan Pentjak pada 1928. Langkah produksi pengetahuan seperti ini memungkinkan narasi penca yang begitu lama cenderung jadi tacit knowledge kini dapat diakses oleh masyarakat luas. Ia pun memanfaatkan kanal-kanal media digital untuk keperluan tersebut.
Barangkali karena Wa Azis adalah insinyur, yakni orang yang terbiasa bekerja dengan rencana dan perhitungan yang logis dan sistematis, pembelajaran maénpo yang ia upayakan mengalami penyempurnaan di dalam hal kurikulum, metode, dan sistematikanya. Dibuat, misalnya, semacam peta jalan bagi setiap pembelajar maénpo untuk menempuh tahapan keueung, nineung, leuheung, teuneung, dan ludeung. Pada tiap-tiap tahapan ditentukan semacam standar keterampilan yang diharapkan. Pada salah satu dinding Padepokan Mancika tertera pula peta jalan itu. Dengan kata lain, kerarifan pembelajaran penca yang ia warisi dari para pendahulu maénpo terus dipelihara seraya mengupayakan agar materi pembelajarannya lebih terbaca dan dapat diikuti oleh para pemula. Setidaknya, kesan seperti itulah yang saya tangkap dari obrolan dengan salah seorang anak Wa Azis yang bergabung dengan kami menjelang sore.
Dalam silang susup berbagai tema obrolan, terbicarakan pula rencana penyelenggaraan Festival Maénpo di Cianjur, 25 November 2022. Wa Azis, yang akan turut serta memeriahkan acara tersebut, berharap kami ikut hadir dalam acara tersebut. Kalau saya tidak salah dengar, inisiatif kegiatan tersebut berasal dari lingkungan pemerintahan setempat. Maénpo, selain mamaos (tembang Cianjuran) dan ngaos (mengaji Alquran), memang telah ditetapkan sebagai salah satu ikon yang membentuk identitas Cianjur. Sejauh yang tercatat, inisiatif sejenis pernah pula muncul pada 2007 ketika terselenggara kegiatan Wisata Silat di Cianjur. Namun, saya kira, dalam hal ini Cianjur dapat belajar kepada — katakanlah — Tangtungan Project di kota lain yang telah terbukti mampu melembagakan perhelatan periodik festival penca bercakupan nasional beserta kegiatan lainnya yang berkaitan dengan pemeliharaan dan pemajuan warisan budaya penca.
Perbincangan di sela-sela rehat berlatih maenpo terus berlangsung, sedangkan hari mulai gelap dan hujan terus mengucur. Istri Wa Azis yang ramah, Hj. Tini Supriyatiningsih, menyuguhi kami kue-kue, minuman cokelat hangat, dan rebusan mi instan. Enak sekali buat menghangatkan badan. Makin lama malah makin betah. Namun, apa boleh buat, para pendekar pada akhirnya harus pulang ke rumah masing-masing. Selepas magrib, dalam guyuran hujan, kami pun kembali ke Bandung.***




