Kucing oranye meloncat dari kursi goyang ketika sapu si pelayan melayang. Kursi itu bergoyang-goyang.
“Kau tidak boleh duduk di sini, Rambo,” kata pelayan sembari berkacak pinggang. “Kecuali atas perintah Tuan.”
Rambo duduk di lantai, matanya menatap si pelayan, lalu mengeong. Wajahnya yang bulat merengut. Kumis dan telinganya bergerak-gerak. Pelayan itu kembali mengayunkan sapu. Kali ini Rambo lari melewati harimau yang diawetkan, menerobos kolong kandang burung kakak tua, lalu menghilang di ujung lorong.
“Kakak tua. Kakak tua.”
Burung berjambul itu meloncat-loncat sambil mengepakkan sayap, seperti ingin mengikuti langkah si Rambo.
“Dasar kucing kampung,” gumam si pelayan, tangannya menyeka peluh di dahinya.
Jok kursi yang berisi bekas cakaran Rambo dibersihkan.
“Tuk…tuk…tuk…”
Suara ketukan ke lantai lamat-lamat muncul dari rumah. Pintu depan terbuka. Seorang pria tua berjalan tertatih-tatih dengan tongkat rotan. Langkahnya kaku, kakinya gemetar
menahan tubuh yang tambun.
Si pelayan menghambur menyambut Pak Tua, tetapi tangannya dikibaskan.
“Jangan perlakukan aku seperti orang sakit!”
Pak Tua berusaha menegakkan tubuhnya, wajahnya mendongak. Pelayan mundur dan menunduk.
Susah payah Pak Tua mendekat ke kursi goyang. Langkah kakinya tidak lurus seperti orang umumnya, melainkan bergerak zigzag yang membuat kedua bahunya naik turun. Tubuhnya membungkuk kaku sebelum menjatuhkan pantat di jok kursi.
“Si Rambo masih suka duduk di sini tanpa perintahku?”
Napas Pak Tua terengah-engah. Kursi bergoyang pelan.
“Dia sudah aku peringatkan berkali-kali, Tuan.”
Pelayan mendekat, memperhatikan wajah bulat dan kumis tuannya yang memutih, ujung bibirnya berkedut-kedut. Ia jadi teringat wajah si Rambo yang merenggut tadi.
“Kau mengusirnya?”
“Tidak, Tuan. Hanya menakut-nakuti. Dia kabur ke kolam.”
“Bagus. Sekarang cari dia. Bawa ke mari.”
Si pelayan tidak langsung pergi. Keningnya mengerut.
“Kenapa masih diam?”
“Tuan mau saya carikan si Rambo?”
Pak Tua mendelik. Pelayan pun membungkuk lalu pergi melewati patung harimau. Ia sempat menjulurkan lidah ke burung kakak tua saat melewati sangkarnya, lalu buru-buru berjalan ke ujung lorong yang menghubungkan dengan taman belakang.
“Kakak tua. Kakak tua.”
Si Rambo biasa mengitari lorong-lorong rumah yang dipenuhi hewan-hewan liar yang diawetkan. Rambo juga sering bermain dengan ikan-ikan arwana di kolam taman. Namun meski rumah ini memiliki banyak ruangan dan halaman, Rambo selalu kembali ke kursi goyang meski pelayan sudah berulang kali memperingatkan.
“Kakak tua. Kakak tua.”
Mata si Pak Tua yang tadinya mengantuk, kini terbuka.
“Burung cerewet,” umpatnya.
“Kakak tua…”
“Diam!”
Di seberang halaman, para pekerja sibuk merawat taman, buah, sayur, dan ternak. Dua orang buruh melintas, membungkuk dan mengangguk kepada Pak Tua. Tapi tatapan Pak Tua lurus ke depan, nyaris kosong. Tiba-tiba napasnya sesak. Ia mengambil tongkat dan memukul-mukul lantai sebisanya.
“Tuk…tuk…tuk…”
“Kakak tua. Kakak tua.”
“Tuk…tuk…tuk…”
“Kakak tua. Kakak tua.”
Pelayan datang tergopoh-gopoh. Di pelukannya si Rambo berusaha berontak. Lengan baju pelayan robek bekas perkelahian kecil di taman belakang.
“Tuan. Tuan mau minum obat?”
Pak Tua mengangguk. Napasnya masih bergerak lambat.
Rambo loncat ke pangkuan tuannya yang megap-mengap. Si Pak Tua hanya mendelik saat Rambo menggerak-gerakkan kaki di perut tuannya.
Pelayan lari ke dalam rumah, melintasi ruang tamu yang lebih mirip museum: beberapa pucuk senjata berburu dipajang di atas meja jati tua, sebagian lagi menempel di dinding bersebelahan dengan lukisan tentang pasukan berkuda yang menghunus bayonet. Di samping lukisan tertempel foto seorang pria muda dengan seragam tempur, wajahnya yang bulat menyunggingkan senyum angkuh.
Pelayan sempat berhenti di depan foto itu, berusaha menirukan senyuman angkuh itu, lalu buru-buru melanjutkan langkahnya. Ia berhenti melewati meriam kecil yang berdiri di depan kamar tuannya, di sampingnya berdiri patung tentara dari perunggu.
Kamar sang tuan mirip tempat peristirahatan bangsawan zaman baheula. Dinding dan ranjangnya sama-sama dari jati.
Pelayan menyambar kotak obat di pinggir ranjang, lalu kembali berlari ke beranda.
Ia tiba ketika tuanya nyaris terkulai di kursi goyang. Ia mencari obat asam lambung yang tertumpuk di antara obat jantung, saraf, ginjal, stroke, encok, dan tablet-tablet berwarna-warni.
“Ini dia!” katanya, menyodorkan obat berwarna hijau tua kepada Pak Tua. Pak Tua cepat
menelannya. Si pelayan mendekatkan segelas air putih ke mulut tuannya.
Kepala Pak Tua menyandar ke bahu kursi goyang. Wajah bulatnya kini memerah. Napasnya masih satu-satu. Tangannya masih kaku, ujung bibirnya berkedut-kedut. Si Rambo anteng duduk di pangkuan. Mendengkur.
“Tuan mau saya pijit?”
Pak Tua menggeleng lemah. Matanya terpejam. Pelayan makin cemas.
“Tuan mau saya panggilkan dokter?”
Pak Tua tak menjawab. Ujung mulutnya kembali berkedut.
“Tuan, mau saya panggilkan dokter?”
Tiba-tiba mata Pak Tua terbuka dan melotot.
“Jangan perlakukan aku seperti orang tua sakit. Pergi!”
Rambo terbangun, mengeong.
“Rambo, cepat turun,” kata pelayan.
“Di sini hanya aku yang memberi perintah,” kata Pak Tua.
Pelayan itu membungkuk ragu sebelum pergi.
“Kakak tua. Kakak tua.”
Pelayan sempat tersenyum masam pada burung itu.
“Pelayan!”
Langkah pelayan tiba-tiba membeku.
“Ya, Tuan.”
Napas Pak Tua kembali teratur. Tangannya mengelus bulu si Rambo.
“Pindahkan burung cerewet ini ke kolam.”
Pelayan masih berdiri bingung.
“Bukankah burung ini penuh kenangan…”
“Cepat pindahkan. Sekarang.”
“Baik. Baik, Tuan.”
Susah payah pelayan menggeser-geser sangkar besi burung kakak tua. Keringat bercucuran di dahinya. Burung berjambul itu memberontak dengan mengepakkan sayapnya sambil berkicau-kicau cepat.
“Kakak tua. Kakak tua.”
“Kau terlalu cerewet. Akan kuawetkan juga,” bisik Pak Tua.
Si Rambo mengeong pelan.
“Kau tidak setuju, Rambo?” kata Pak Tua.
Rambo menggaruk-garuk kepalanya. “Kucing bodoh. Sejak kecil kau memang bodoh. Berapa usiamu sekarang?”
Rambo malah meringkuk dan kembali mendengkur. Jauh di halaman, para buruh tani memanen buah naga. Berpeti-peti buah dinaikkan ke mobil untuk dikirim ke pasar.
Para buruh tani pulang menjelang magrib. Kebun Pak Tua menguning kemerahan tersiram cahaya matahari terakhir.
“Rambo. Bangun, Rambo.” Rambo bergeming. Pak Tua mengetuk-ngetuk tongkat sambil memanggil-manggil Rambo dan menggoyangkan tubuhnya.
Pak Tua memukul-mukul tongkat ke lantai lebih keras lagi. Beberapa saat kemudian pelayan datang dengan wajah kusut dan napas terengah. Ia akhirnya berhasil menyeret sangkar burung kakak tua ke kolam. Sehelai bulu kakak tua masih menempel pipinya yang berpeluh.
“Si Rambo tidak mau bangun.”
“Akan saya pindahkan, Tuan.”
Pelayan mengangkat tubuh kucing oranye itu. Tiba-tiba wajah si pelayan pucat.
“Tuan. Rambo tidak akan pernah bangun lagi.”
***
Esok harinya para buruh diliburkan – kebijakan yang selama ini tak pernah terjadi. Mereka semua hanya wajib mengikuti permakaman Rambo pada pagi hari. Setelah itu pulang.
Namun kebijakan itu tak berlaku bagi pelayan. Dia tetap sibuk melayani Pak Tua sepanjang hari. Pelayan baru bisa bernapas lega ketika majikannya mendengkur.
Tengah malam Pak Tua terbangun karena mimpi buruk. Dalam mimpi itu ia berdiri di antara rawa dan bangkai-bangkai hewan buruan. Ia menangkap wajahnya di permukaan rawa, yang tampak hanya wajah harimau. Tubuhnya mandi peluh. Ia mengetuk-ngetuk tongkatnya untuk memanggil pelayan. Tapi pelayan tak kunjung datang.
Susah payah ia bangkit dan mengambil obat. Setelah itu ia baru bisa tidur kembali.
Pagi harinya ia terbangun dengan selangkangan basah kuyup. Ia mengetuk-ngetukkan tongkat ke lantai. Lagi-lagi si pelayan tak muncul.
Susah payah ia bangkit dari ranjang. Setengah menyeret kakinya ia keluar kamar. Air kencing masih menetes dari celana piamanya. Kakinya membentur mulut meriam. Ia hampir terjatuh jika tidak berpegangan pada patung tentara. Saat hendak menyeimbangkan tubuh, justru patung itu malah terjengkang. Bunyi logam yang membentur lantai memecah pagi. Beruntung Pak Tua tidak ikut terjengkang, tongkatnya masih bisa menahan tubuhnya.
Pintu depan terbuka. Angin pagi menerpa tubuh Pak Tua yang basah. Pak Tua tertegun menatap pintu itu, lalu mendekat, diiringi bunyi tongkatnya sendiri.
Di beranda ia mendapati pelayan terkulai di kursi goyang. Pak Tua pelan-pelan menghampirinya. Ia berdiri seperti patung di samping pelayan. Wajah pelayan pucat pasi, tubuhnya kaku dengan bibir membiru.
Satu tangan Pak Tua berpegangan pada bahu kursi goyang. Bibirnya berkedut-kedut. Kaki dan tongkatnya bergetar pelan.
Bandung, 27 September, 2026



