
Kalau sudah emosi siapa juga yang masih berfikir, sikat saja, apapun resikonya, sing penting, terpuaskan.
Iklan dimana mana iklan. Mau cara apa? Papan reklame, poster, radio, flyer? Alih alih zaman serba digital, kita disuguhi juga iklan lewat tampilan media elektronik, atau melalui media sosial. Informasi produk apapun selalu ada dimanapun kita hadir. Hidup kita adalah iklan dan iklan adalah hidup kita. Seakan kita selalu diawasi oleh berbagai macam produk yang akan mengikuti kemana saja kita bergerak.
Dapat dibayangkan, bagaikan mata-mata, iklan mengamati kita dimanapun kita berada. George Orwell melalui novel 1984 sepertinya telah meramalkan hal itu jauh sebelum kita sadar bahwa setiap hari kita diamati dan dikuntit melalui media elektronik dan media sosial, tanpa sadar dan perlahan lahan, iklan menghantui. Buka sedikit iklan produk yang menarik, berhamburan informasi produk yang sejenis menghampiri, berhari-hari iklan tersebut bergentayangan dan menguntit. Bahasanya Orwell, teleskrin, belakangan kita akrab dengan internet, dua kata yang berbeda tapi artinya mungkin sama, kuasa pengendalian.
Bujuk rayu dan mempengaruhi hal penting dalam beriklan. Alam bawah sadar kita terus menerus disentuh sedemikian rupa sampai kita menentukan pilihan pada apa yang kita pilih. Berhasil! Tentu saja, terlepas dari apa yang kita pilih, penting, tidak begitu penting, atau barang sampah, yang pasti iklan seperti gerakan tangan para pesulap yang lihai, alakazam keluarlah kelinci dari dalam topi, penonton terpukau kagum dan tepuk tangan membahana. Begitupun dengan iklan, setelah terpana dengan tampilan dan rayuannya, maka tergeraklah untuk membeli, tanpa daya dan upaya.
Emosi adalah salah satu cara iklan untuk menggerakkan manusia dalam memilih. Diksi yang dipakai adalah rasional dan emosional, tapi, yang paling penting adalah menyembunyikan nalar dan rasio dibalik sentuhan emosi. Kalau sudah emosi siapa juga yang masih berfikir, sikat saja, apapun resikonya, sing penting, terpuaskan. Emosional dan rasional galibnya, dua hal yang bertolak belakang, tapi dalam iklan bisa menjadi satu kesatuan, beri sedikit ruang untuk logika, selanjutnya, diruntuhkan dengan pendekatan emosi, sim salabim, abrakadabra, koinnya hilang!
Kira-kira begini cerita singkat rasional dan emosional dalam bentuk bujuk rayu iklan. Siapa juga yang mau memeriksa dengan seksama bahwa isi minuman teh dalam kotak lebih banyak dua puluh persen dari minuman yang sejenis, bentuk kotaknya lebih tinggi, tidak berarti isinya lebih banyak. Dua puluh persen adalah rasional, persentase angka adalah logis. Tapi, yang menentukan apa yang dipilih cenderung emosional, sesuatu yang lebih daripada yang lain adalah kuasa kelas dan secara emosional manusia selalu ingin lebih daripada yang lain, serta iklan memberikan suguhan itu, maka, terpuaskanlah daya kuasa manusia melalui pilihan minuman, jitu bukan? tentu saja bukan.
Siapa penentu kebijakan berbelanja dalam rumah, ibu tentu saja, para bapak ikut aja lah. Konon, para pengiklan gentayangan mencoba mempengaruhi para ibu untuk mengalihkan produk pada produk lain dengan maksud mempengaruhi dengan berbagai rayuan. Rayu-rayu ini menyajikan berbagai harapan. Sabun cuci berhadiah umroh, pasta gigi yang lebih sehat, beli sampo berhadiah rumah, asal ada harapan hadiah maka sesuaikan pembelian produk dengan emosionalnya, rayuan iklan memang Ajaib.
Kepekaan seharusnya menjadi bagian penting dalam memberikan arah dan tujuan bagi para rakyat. Seorang ibu yang pernah menjadi pemimpin di negara ini, selayaknya mengedepankan logika dan nalar berfikir dibandingkan emosi menyalahkan ibu-ibu lain, kesulitan seharusnya diberikan jalan kemudahan. Menggoreng adalah standar kehidupan bagi masyarakat, terutama bagi para ibu, merebus dan membakar adalah pilihan sulit dan ketidak berdayaan. Artefak penting dalam melihat kehidupan masyarakat biasa, mudah saja, yaitu dengan melihat ukuran gorengan dan bakwan, semakin kecil ukurannya, maka ini menjadi simbol bahwa, semakin sulit kehidupan yang dihadapi oleh para ibu sebagai penentu kebijakan dalam rumah, yang mungkin tidak pernah dirasakan oleh ibu sepuh itu, tidak juga dalam iklan, para perempuan yang menjadi pemimpin atau anggota partai yang selalu menebar senyuman bahwa kita akan baik-baik saja, tanpa mereka tahu, bahwa kaumnya sedang mengernyitkan dahi dan berfikir keras bagaimana cara merebus bakwan di penggorengan. Akhirnya, seperti kata kawan ngopi saya Bung Frans, bahwa tidak semua juga perlu digoreng, bahkan Indomie Goreng saja sesungguhnya direbus. Salam hormat untuk para ibu, kecuali yang disana.***



