Pantun Ramayana

 

 

Bisa jadi bentuk metrum carita pantun adalah metrum lokal kuna yang masih hidup sampai saat ini, yang di zaman dahulu mengilhami para pujangga menciptakan metrum kidung atau disebut juga metrum sekar tengahan

Dalam lontar sunda kuna yang sampai kepada kita paling tidak ada dua naskah Ramayana, walaupun sepertinya naskah yang kedua salinan dari yang pertama. Satu naskah sudah dikaji Noorduyn dan A. Teeuw, konon naskah ini awalnya dari Kabuyutan Ciburuy, berpindah ke Kabuyutan Jasinga, Bogor, kemudian jadi koleksi orang Belanda, pernah disimpan di Perpustakaan Nasional sebelum berada di Museum Sri Baduga. Satu lagi penelitian terbaru yang membandingkan kedua lontar tersebut, yaitu Menyambung yang Terputus oleh Mamat Ruhimat. Menyambung yang Terputus adalah buku terbitan Perpustakaan Nasional yang berasal dari tesis Mamat Ruhimat dengan fokus kajian teks Ramayana di Kabuyutan Ciburuy, Bayongbong, Garut. Keberadaan naskah Ramayana di Kabuyutan Ciburuy sebenarnya sudah disinggung oleh J. Noorduyn di Tiga Pesona Sunda Kuna. Mamat menemukan bahwa di Kabuyutan Ciburuy tidak hanya ada salinan Ramayana, tapi ada sambungan teks dari Ramayana yang dikaji Noorduyn.

Saya mendapat buku Menyambung yang Terputus ini tanggal 24 Mei, satu tahun lebih satu hari dari hari pertama saya menyimak carita pantun Ki Arsan. Di beberapa referensi teks Ramayana disebut Pantun Ramayana termasuk dalam Menyambung yang Terputus, frasa Pantun Ramayana beberapa kali disebut. Walaupun begitu, setelah saya tanya secara langsung pada penulisnya, Mamat Ruhimat kurang setuju dengan istilah ‘Pantun Ramayana’, soalnya ia tidak mendapat referensi yang cukup jelas tentang term ‘Pantun Ramayana’ ini. Mamat menyebut dua sumber yang menggunakan istilah ini, di katalog Museum Negeri Jawa Barat Sri Baduga tempat naskah ini sekarang tersimpan, dan di karya ilmiah koleganya. Tapi Noorduyn yang mula-mula mengkaji naskah ini tidak menggunakan istilah itu.

Dari pelacakan saya, pengimbuhan pantun bermula dari katalog naskah yang disusun Edi S. Ekadjati Naskah Sunda Inventarisasi dan Pencatatan yang terbit tahun 1988. Pada bagian pengantar katalog itu Edi sudah menggunakan frasa ‘Pantun Ramayana’, tapi pada senarai tempat naskah ini dijabarkan ia hanya menggunakan kata ‘Ramayana’ saja (hal. 153). Di lema ini kata pantun terletak di kolom “Bentuk karangan: Puisi (pantun)”. Yang menarik lontar sunda kuna lain di katalog ini tidak mendapat keterangan itu padahal bangun puisinya sama dengan Ramayana.

Wallahu’alam apakah almarhum Noorduyn setuju dengan term ‘Pantun Ramayana’, tapi A. Teeuw sepertinya setuju. Di Tiga Pesona Sunda Kuna yang membahas tiga naskah lontar, Ramayana, Sri Ajnyana, dan Bujangga Manik, A. Teeuw menulis “Bahkan, sehubungan dengan bentuk puisinya, kita dapat menyebut teks-teks yang dibahas di sini sebagai pantun Sunda kuna”. Ya, mungkin, A. Teeuw setuju naskah ini disebut ‘Pantun Ramayana’ karena bentuknya, tapi jika secara tegas menyebut Ramayana ini carita pantun sepertinya tidak. Jika setuju maka akan bertolak belakang dengan argumen A. Teeuw sendiri–kebetulan masih di paragraf yang sama. A. Teeuw mengutip Siksa Kandang Karesian, naskah Sunda dari tahun 1518 yang sudah menyinggung carita pantun. A. Teeuw mengutip Siksa Kandang dari hasil kajian Atja dan Saleh Danasasmita:

“Hayang nyaho di pantun ma: Langgalarang, Banyakcatra, Siliwangi, Haturwangi, prepantun tanya.”
(jika kita ingin tahu tentang pantun, seperti Langgalarang, Banyakcatra, Siliwangi, Haturwangi, tanyalah juru pantun)

Mengingat besarnya peranan epos Ramayana dalam peri kehidupan masyarakat Hindu, jika memang benar lontar sunda Ramayana adalah carita pantun, seharusnya penyebutan Ramayana dalam kutipan Siksa Kandang atas lebih utama daripada yang lain.

Oleh karena itu saya tidak setuju jika naskah Ramayana disebut Pantun Ramayana. Tapi jika menyebut teks Ramayana ini bertalian dengan carita pantun, saya sangat setuju. Sepertinya pertautan antara carita pantun dan lontar sunda kuna–terutama lontar kawih–tidak begitu diperhatikan oleh para peneliti belakangan (kecuali Aditia Gunawan dalam artikelnya Nipah or Gebang?). Padahal jika kita melihat kajian Noorduyn atas lontar sunda kuna, sepertinya dia terbantu sekali dengan korpus carita pantun.

Carita pantun memiliki pertautan yang jelas dengan teks-teks puisi Sunda Kuna, J. Noorduyn dan A. Teeuw dalam Tiga Pesona Sunda Kuna menegaskan “Penggunaan baris-baris puisi delapan suku kata sebagai pola persa­jakan yang menonjol, bukanlah satu-satunya keserupaan antara pantun dan teks kita; tampilan khusus lainnya yang terdapat dalam kedua jenis teks tersebut adalah karakter-pembentuknya: khususnya dalam pelukisan keduanya sering menggunakan ungkapan-ungkapan yang telah tersedia, dan beberapa di antaranya terdapat dalam kedua jenis teks tersebut.”

Khusus naskah Ramayana, yang paling menonjol adalah keserupaan bagian awal naskah itu dengan rajah carita pantun–yang mungkin oleh sebab ini beberapa pengkaji menyebutnya Pantun Ramayana. Bagian awal itu adalah:

Ongkarana sangtabéan.
Pukulun sembah rahayu.
Aing dék nyaksi ka beurang,
aing dék nyaksi ka peuting,
candra wulan aditia
deungeun sanghia(ng) akasa,
kalawan hiang pretiwi,
ka batara Nagaraja,
ka nusia Awak Larang,
ka luhur ka sang Rumuhun,
nusia Larang di manggung.
Aing mupulihkeun inya,
piri-piri nu bihari,
manak-manak nu beuheula,

Semoga Yang Maha Kuasa memaafkan.
Hamba berdoa mohon keselamatan.
Aku ‘kan bersaksi kepada siang,
Aku ‘kan bersaksi kepada malam,
bulan purnama dan matahari,
dengan sanghiang angkasa,
beserta hiyang pertiwi,
kepada batara Nagaraja,
kepada yang mulia Awak Larang,
kepada para arwah di dunia atas,
arwah suci di ketinggian.
Aku ‘kan mengisahkan mereka,
keturunan dahulu kala,
anak cucu mereka di masa silam,

Saya ambil potongan ini dari Ramayana yang telah disunting dan diterjemahkan di Tiga Pesona Sunda Kuna. Memang jika kita memerhatika rajah di carita pantun, hampir semua rajah itu memuat kata-kata dan rumpaka dari bagian awal Ramayana ini.

Sepertinya kasus teks Ramayana ini seperti gejala sastra sunda di zaman Tatar Sunda sesudah ditaklukan Mataram, pada masa itu patokan sastra bermutu harus berupa macapat, hingga korespondensi pribadi pun menggunakan metrum macapat. Ramayana ini selain menggunakan bahasa sunda kuna juga menggunakan metrum lokal, bahkan dari alur dan detail cerita ada kemungkinan berbeda dari Ramayana babon utama. Jadi teks lontar Ramayana ini bisa saja disebut Ramayana yang dilokalkan.

Saya pernah bertanya pada seorang ahli lontar Bali dan Jawa Kuna, apakah metrum dalam lontar kawih di Sunda kuna itu bertalian dengan metrum Kidung/Sekar Tengahan? Jawabnya, tentu saja. Jika demikian, bisa jadi bentuk metrum carita pantun adalah metrum lokal kuna yang masih hidup sampai saat ini, yang di zaman dahulu mengilhami para pujangga menciptakan metrum kidung atau disebut juga metrum sekar tengahan. Konon metrum kidung ini yang melahirkan metrum macapat atau sekar alit, yang di Sunda disebut pupuh atau guguritan.*

 

HADY PRASTYA | TUKANG KAYU

image: Sharm Murugiah

Picture of Redaksi

Redaksi