Pelarangan Study Tour Memicu Tuduhan terhadap Guru

SDN 083 Babakan Surabaya, Kota Bandung (Dokumentasi Viona Sri Nurazizah)

Hanyawacana.id – Kebijakan penghapusan study tour oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi memicu berbagai asumsi. Pada Minggu, 2 Maret 2025, Diana (43), guru SMPN 1 Padakembang, Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya memberikan tanggapannya terhadap kebijakan tersebut.

Mia mengungkapkan para guru yang dituding mendapat keuntungan dari study tour tidak sesuai kenyataan di lapangan. Di SMPN 1 Padakembang, misalnya, beberapa guru malah memperoleh kerugian. Menurut Diana guru-guru di SMPN 1 Padakembang terkadang harus menambal kekurangan uang pembayaran siswa-siswi yang dibebankan kepada masing-masing wali kelas.

“Ketika sudah ada tabungan, di tengah-tengah orang tua murid tidak bisa membayarnya, maka ditanggung dulu oleh wali kelasnya. Bahkan ada saja yang pada akhirnya tidak menggantikan uang tersebut” ucapnya menyeringai.

Dengan kondisi ini beberapa pihak dari SMPN 1 Padakembang termasuk Diana merasa lega terhadap kebijakan pelarangan study tour. Hal ini dianggap untuk mengurangi beban guru atas keselamatan siswa-siswinya.

“Kalaupun misalnya ditiadakan, ya itu tidak jadi apa-apa buat kami. Justru sebagian besar teman-teman bilang ya syukur alhamdulillah kita terbebas dari beban menjaga anak-anak siswa di luar sana” ujar guru bahasa Sunda tersebut.

Citra guru memburuk

Serupa dengan Diana, Mia (42), guru SDN 083 Babakan Surabaya, Kota Bandung menyangkal tuduhan miring yang telah beredar terhadap guru akibat larangan study tour. Menurutnya citra seorang guru setelah muncul kebijakan ini semakin memburuk.

“Pak Dedi emang gak ada kerja lain selain ngeiniin pendidikan? Karena kalau ngeruntutin dari pendidikan di Kota Bandung, bukan hanya di Kota Bandung tapi di Indonesia, pendidikan itu gaji paling kecil dibandingkan dengan dinas-dinas yang lain” ujar guru yang menjadi wali kelas 3 itu.

Mia juga mengekspresikan sikap tidak setujunya atas asumsi guru yang selalu mendapat keuntungan. Menurutnya para guru hanya mengikuti kewajiban sebagai seorang pengajar, sehingga Mia merasa tuduhan itu tidak berdasar.

“Jadi sampai ada guru jual buku ngabati lah itu-ini, mangga boleh di cek ke semua sekolah. Kita mah tidak menjual buku, cenderamata dan hal lainnya. Kita hanya murni mengajar saja. Udah ngebahas tentang study tour jadi goreng weh kanu lainna guru teh”, katanya.

Meski adanya pelarangan study tour Mia sendiri tidak mempersoalkan kebijakan itu sebagai masalah besar. Mia mengaku tidak suka dengan tudingan-tudingan yang kerap menyeret guru, sehingga menurutnya itu menjadi problem.

“Sebenarnya penghapusan study tour tidak menjadi masalah karena guru dituntut untuk lebih kreatif. Tetapi yang gak sukanya itu apa-apa yang kita kerjain itu jadi masalah gitu” ungkap Mia.

 

Reporter: Viona Sri Nurazizah

Editor: Hafidz Azhar

 

Picture of Redaksi

Redaksi