
Kuasa atas kepemimpinan menjadi satu bagian penting dalam menjelaskan bagaimana menjadi pemimpin adalah mimpi untuk berkuasa, atas wilayah manusia dan gemerlap dunia.
Pemimpin atau pemimpi, tentu saja pemimpin boleh bermimpi dan pemimpi boleh membayangkan menjadi pemimpin. Hak bagi siapapun untuk menjadi apapun. Citra pemimpin kuat dapat dibayangkan dari rekayasa visual, badan berotot, cekatan, cerdas dan terampil. Film, komik, media propaganda yang sangat mungkin menjadi saluran komunikasi untuk membentuk citra yang kita inginkan. Film Rambo, terkesan jelas menggambarkan Amerika yang merasa negaranya super, atau James Bond sebagai tokoh mata-mata, dalam berbagai filmya dapat kita tafsir sebagai orang Inggris dengan gaya aristokrasi yang sangat kental.
Tafsiran segala besar seperti yang ditampilkan oleh Slyvester Stallone dalam film Rambo sebagai tafsir penunjuk kekuatan, anggapan tafsir seperti itu mudah dipatahkan oleh beberapa contoh nyata, Napoleon bertubuh kecil mungkin termasuk mini bagi standar orang Eropa, tapi jadi sejarah dalam percaturan pemimpin dunia, sepak terjangnya dalam penaklukan Eropa melambungkan namanya menjadi sosok terkenal sebagai kaisar Perancis yang terkenal, dan harus berakhir tragis dalam pengasingan di pulau Elba. Pemimpin tidak juga harus selalu terlihat tua dan berjalan tertatih tatih seperti tokoh Oogway kura kura bijaksana yang jagoan Kungfu di film Kungfu Panda. Sejarah mencatat lain, Muhammad Al fatih anak muda yang kharismatik pemimpin tentara muslim, merebut Konstantinopel di abad 15 di usia 25, dan tercatat sebagai sosok pemimpin arif dan bijaksana.
Orwell, menciptakan tokoh pemimpin otoriter dengan cakap, tokohnya seekor babi. Si babi mengajak teman-teman hewaninya, untuk menggulingkan pemilik lahan, karena dia merasa, pemilik lahan memeras tenaga para pekerja yaitu para hewan, tanpa diberi hak yang sesuai. Teman-teman hewani diajak bersekongkol, ajakannya tentu saja berbuah hasil, pemilik lahan terguling dan si babi jadi pemimpin, ujungnya bisa ditebak, si babi jadi sosok otoriter baru setelah menikmati kekuasaan, dan berlaku sebagai wujud manusia yang haus kuasa.
Tokoh Cicero dalam trilogi imperium, conspirata dan dictator kira kira juga menceritakan hal yang demikian. Kuasa atas kepemimpinan menjadi satu bagian penting dalam menjelaskan bagaimana menjadi pemimpin adalah mimpi untuk berkuasa, atas wilayah manusia dan gemerlap dunia. Hubungan transaksional antara kepentingan dan kebutuhan, menjerumuskan orang lain, dan menjadi penjilat bagian penting tentang kekuasaan dan kepemimpinan, yang diceritakan oleh Robert Harris melalui tiga buku tersebut.
Berguru pada alam fiksi dan sastra sekaligus menjadi pedoman dan memperkaya pengetahuan tentang realita kehidupan tentu menjadi hal yang sangat mungkin. Konsep kepemimpinan mungkin tidak berubah sejak zaman revolusi kemanusiaan seiring zaman dan peradaban. Pemimpin tetap dibutuhkan, setidaknya menyelaraskan gerombolan menjadi barisan, atau mensejajarkan kerumunan menjadi lebih tertib, seperti komandan dalam upacara, yang menjadi ruwet adalah hubungan antara kepemimpinan dan kekuasaan.
Tidak lama lagi kita akan menghadapi pemilu raya, mulai tersebar mengganggu mata, poster, baliho, dan billboard, pohon-pohon media yang tidak ada oksigennya, substansinya masih sama dari zaman ke zaman, foto para calon dan diksi tentang keharusan memilih yang bersangkutan. Ditambah lagi di media sosial, bermunculan gambar-gambar para calon yang merusak kesenangan ketika berselancar. Gayanya sama, janji-janji manis dari kahyangan. Adapun mereka turun ke jalan, menghiba-hiba minta dipilih, makanan lezat para makelar suara. Anehnya, ada juga yang mau diminta tolong membuatkan media kampanye yang buruk seperti itu.
Keburukan lainnya lagi pemimpin di negeri ini seperti cari-cari masalah dengan sengaja, melempar batu ke dalam air, melihat sejauh mana gelombang yang beriak. Ribut memperpanjang masa jabatan pimpinan presiden dengan efek bahwa mereka akan terciprat masa jabatan yang lebih panjang pula, berharap efek domino.
Kekurangajaran mempermainkan nilai-nilai kepemimpinan adalah dasar dari ketidak mampuan mereka untuk mengisi kepala dengan bacaan yang berguna, membuat kepala jadi kosong melompong, serta arahnya mudah ditebak. Orwell bahkan menggambarkan babi yang lebih cerdik daripada manusia, mampu berfilsafat dan menggiring opini demi tujuan yang buruk, seperti pemimpi-pemimpi yang haus kursi empuk.***



