Kakinya berjinjit, lalu menjunjung anak balitanya yang disambut uluran tangan sang ayah dari balik jendela. Namun perjuangan sang ibu masih belum berakhir. Ia masih harus mendesak di tengah sesak calon penumpang bus lainnya. Sesaat kemudian, langkah kakinya sampai di depan pintu, ia pun beranjak masuk. Bulir peluh bercampur debu tak menutupi kelegaan di raut wajahnya.
Di bawah terik matahari, lautan manusia menjejali terminal bus siang itu. Asap knalpot dan debu jalanan bercampur dengan harapan mereka untuk segera kembali ke kampung halaman. Ada kehangatan di bilik ingatan yang menuntun langkah untuk pulang. Ada yang hilang dan kini menjadi tambatan rindu, merambat di sepanjang pematang sawah dan petak-petak kebun tempat kita bermain dulu.
Seperti kepulangan ini, mungkin Ramadan adalah perjalanan kembali—dari fajar ke petang, dari hari ke hari, menuju fitri.
Setelah menyimpan tas bawaannya di atas penyimpanan, ibu itu kemudian duduk sambil memangku anaknya. Aku memicingkan mata menggoda anaknya yang sedari tadi memperhatikanku. Dengan malu-malu, dia menenggelamkan wajahnya di balik bahu sang ibu. Perempuan itu menoleh ke arahku, lalu tersenyum.
“Mudik, bu?” Tanyaku berbasa-basi.
“Eh, iya, A,” jawabnya pendek. Suaminya yang sedari tadi melepas pandangannya ke arah jendela melirikku, dan ikut tersenyum, lalu melontarkan pertanyaan yang sama, “mudik juga, A?” Aku pun mengiyakan.
“Bapak udah sakit-sakitan, A. Mumpung masih ada,” perempuan itu menambahkan, lalu tercenung.
“Oh”, jawabku pendek. Aku memang tak terlalu pandai berbasa-basi. Seperti juga Ramadan, hidup mungkin adalah sebuah perjalanan pulang. Kita terlahir, tumbuh, dan mendewasa, untuk kemudian kembali.
Ya, dalam hidup kita melangkah ke masa depan. Di antara sekian banyak ketidakpastian yang menanti, ada satu hal yang cukup pasti, yaitu kematian.
Terlepas dari tangisan, kita—orang Indonesia—juga mengungkapkan kematian dengan cara yang indah, “kembali ke rahmatullah—kepada kasih-Nya.” Kematian tak dilihat sebagai sebuah kepergian, melainkan kepulangan. Sebagaimana perantau yang kembali ke kampung halamannya.
Mungkin karena itu manusia secara naluriah selalu punya dorongan untuk pulang, mencari sesuatu yang terasa hilang. Secara naluriah pula manusia merasakan keterputusan dari asalnya. Jika mati adalah rumah atau kampung halaman sejati, maka kita hanyalah musafir di dunia ini.
Lamunanku terpecah ketika seorang gadis duduk di sampingku. Tatapannya tak lepas dari layar hp yang digenggamnya. Tak lama kemudian ia mengangkat panggilan masuk, “Iya, jemput ya, A. Nanti ditelpon lagi.” Dia lalu sedikit melirik padaku sambil tersenyum, meski tak bisa menutupi kegelisahannya.
“Suaminya, neng?” Tanyaku.
“Eh, anu, bukan …” Sejenak dia mencari jawaban, “calon,” jelasnya singkat. Aku pun tersenyum. Pandangannya lalu beralih ke depan, mengamati kursi sopir yang masih kosong, seolah sudah tak sabar ingin segera pulang.
Bagi sebagian orang, pulang memang bukan sekadar kembali ke sebuah bangunan atau kawasan. Kampung halaman lebih dari sekadar titik koordinat di peta; ia adalah rasa yang hilang dan kini menjadi tambatan rindu, atau sosok-sosok yang memberi kehangatan—orang tua, pasangan, atau keluarga. Seperti keterasingan dan kerinduan yang selalu berpasangan.
Sejak lama, keterasingan dan kerinduan menjadi benang merah dalam pencarian manusia. Dalam alienasi, ada kerinduan untuk kembali; dalam kerinduan, tersimpan jejak keterputusan yang pernah dialami. Dari Timur hingga ke Barat, dari Rumi hingga Marx, narasi ini terus ditelusuri dan dimaknai.
“Sejak direnggut aku dari rumpunku dulu, ratapan pedihku telah membuat berlinang air mata orang,” tulis Rumi dalam Matsnawi-nya. Mungkin seperti seruling itu, kita merindukan sesuatu yang terasa hilang.
Bagi Rumi, manusia adalah makhluk spiritual yang terjebak dalam cangkang materi, selalu merindukan asal-usulnya. Semakin kita terikat dengan dunia materi, semakin jiwa kita merasa terasing, dan memperingatkan kita dengan kekosongan, cara jiwa mengungkapkan kerinduan akan “kampung halamannya.”
Sementara itu, Marx melihat alienasi dalam bentuk yang berbeda—para pekerja tercerabut dari hasil kerja mereka sendiri, kehilangan makna dalam apa yang mereka lakukan. Hanya menjalani rutinitas yang sama setiap hari. Menurut Marx, mereka tidak hanya mengalami kelelahan fisik, tetapi juga kehilangan sesuatu yang lebih mendasar—hubungan dengan dirinya sendiri.
Keterasingan ini mungkin tak selalu kita sadari, tapi seperti bayangan, ia selalu mengikuti, perlahan menggerogoti tanpa kita sadari.
Memasuki abad ke-20, keterasingan manusia semakin menjadi—pekerjaan yang semakin terspesialisasi, terbagi-terbagi dan serba mekanis, hubungan sosial yang semakin berjarak, dan kota-kota besar yang dipenuhi orang-orang yang merasa sendirian di tengah keramaian.
Heidegger menggambarkan manusia seperti dilempar ke dunia tanpa peta, mencari pegangan dalam ketidakpastian. Bagi Sartre, kebebasan yang kita miliki justru membuat kita terjebak dalam kehampaan.
Sementara itu, Durkheim melihat bagaimana perubahan sosial yang cepat membuat manusia kehilangan arah. Mungkin karena itu, tanpa sadar, kita selalu punya hasrat untuk pulang—ke suatu tempat, kepada orang, atau bahkan kepada diri kita sendiri yang sudah kita tinggalkan dan tak kita kenali lagi.
Di abad 21, manusia mencoba menyambung keterputusannya dengan perangkat teknologi informasi, tapi tampaknya tetap tak bisa menggantikan rasa yang hilang atau menahan hasrat kita untuk pulang ke kampung halaman dan menjejakkan kaki di rumah yang menjadi asal kita bermula.
Lalu, di mana sebenarnya rumah dan kampung halaman kita? Sebuah tempat, ataukah suasana yang kita rindukan? Setiap perjalanan memberiku jawaban yang berbeda. Kadang rumah adalah tempat, kadang orang-orang yang kita cintai, kadang juga momen-momen kecil yang menghadirkan rasa cukup.
Bus mulai beranjak meninggalkan terminal yang masih dijejali manusia. Simone Weil mungkin ada benarnya, kita memang membutuhkan keterhubungan dengan akar kita. Ramadan dan perjalanan ini sebenarnya langkah untuk menyusuri akar kita, menemukan kembali kepingan makna yang hilang di sepanjang safar.
Editor: Hafidz Azhar



