Saya diberi kesempatan untuk mengisi materi pada kegiatan Larap Jurnalistik. Temanya menarik dan tendensius: bermain isu. Kalau ditelisik lebih jauh, kata isu ini mengandung muatan yang cenderung negatif, tetapi tergantung dari jendela mana kita mengambilnya. Jika jendelanya faktual, tentu kita sedang melihat itu sebagai rangkaian peristiwa atau data yang sudah melalui uji metodik. Dengan kata lain, dapat dipertanggung jawabkan. Gambarannya sih, kira-kira begini.
Saat pandemi, semua paham bahwa ada suatu bentuk virus yang berbahaya dan menyerang manusia sehingga diperlukan sebuah cara untuk menanggulanginya. Antara lain, dengan mengubah cara hidup, berjarak, menghindari kerumunan dan menerima vaksin untuk menjaga kekebalan terhadap virus. Tidak sedikit orang yang menolak, namun dengan informasi yang dapat dipertanggung jawabkan, serta melalui metode yang jelas, isu mengenai hal di luar fakta yang menggunakan metode akhirnya redup dengan sendirinya. Intinya adalah, isu berkonotasi negatif itu, dapat kita halau dengan konsep sains, mengemukakan data-data terperinci dan metodik, serta teoretik.
Percepatan teknologi berdampak pada kebiasaan baru manusia memahami sebuah isu. Kita seakan dipaksa untuk cepat mengerti dan memahami sebuah permasalahan. Rentetan informasi bagaikan peluru dari senjata mesin bertubi-tubi menghajar alam pikiran. Pertanyaannya, sedalam apa para pembaca informasi ini memahami isu menjadi fakta? Rentetan informasi ini tidak memberikan kesempatan bagi kita untuk sekadar bernapas sedikit lebih dalam, mengunyah isu tersebut sedikit demi sedikit, dan memberi kesempatan menggunakan anugerah logika untuk berpikir. Sebagai salah satu cara kita untuk bertahan hidup, kemampuan berpikir logis ini saya kira ada dalam kebiasaan dan kemampuan setiap manusia. Sialnya, jika semakin jarang digunakan maka akan semakin tumpul kemampuannya.
Menggali Isu Bandung
Sebagai orang Bandung dan cukup lama tinggal di sekitar pusat kota, saya ingat betul bagaimana perubahan jalan Cihampelas. Dulu, kantor bapak saya ada di daerah atas, tepatnya di Jalan Setiabudi. Sepulang sekolah atau saat liburan, sering kali saya diajak bapak ke kantornya. Sambil menunggu bapak selesai mengajar, saya senang sekali bermain di sana sampai menjelang sore. Sejauh yang saya ingat, tidak pernah ada perasaan jemu ketika harus bermain sendiri. Itu karena, pertama, udaranya cukup sejuk. Kedua, halamannya luas dan pohonnya rindang bersama mainan yang saya bawa saya bisa main di mana saja: di dekat kolam atau di dalam terowongan. Dari situ saya memiliki banyak kesempatan berimajinasi sampai sore hari. Begitu juga dengan Jalan Cihampelas, sepanjang jalan dari Setiabudi menuju Cihampelas kita akan merasakan suasana sama: gedung-gedung tua yang menarik dan asri, jajaran pepohonan besar, bebas kemacetan, dengan udara yang segar, sehingga memanjakan ingatan apabila kembali ke masa itu.
Pada satu masa, salah satu pimpinan kota pada saat itu mengubah Jalan Cihampelas dari tempat hunian menjadi pertokoan, tepatanya pusat perbelanjaan yang terkait dengan produksi jeans. Pariwisata menjadi sandaran alasan mengenai perubahan wilayah di Cihampelas. Seperti biasa, dorongan ekonomi alasan paling mudah untuk mengubah sesuatu. Jalan Cihampelas berubah, dari jalan yang sepi dan tenteram, ke arah pertokoan yang ingar-bingar. Bayangkan saja kemacetan, penumpukan orang dan kendaraan dengan cepat mengubah wajah jalan Cihampelas menjadi memelas. Rumah dan suasana yang tadinya bermartabat telah kehilangan cahayanya, lesu dan letih, ditimpa patung-patung raksasa penghuni baru jalan Cihampelas.
Fakta bahwa ekonomi berputar deras tentu tidak dapat dipungkiri, namun Cihampelas membuat orang lupa bahwa para pendahulu sudah membuat peta wilayah yang cukup jelas mengenai tata kota di Bandung. Daerah atas untuk hunian, sedikit ke bawah untuk belanja seperti Jalan Braga, Asia Afrika dan Dalem Kaum. Namun, siapa yang mampu melawan titah penguasa pada waktu itu? Semua akan manut pada perintahnya.
Seiring berjalan waktu, kita saksikan wilayah Cihampelas semakin merana. Itu karena muatan wisata dan ekonomi yang muncul dari pemerintah. Setelah pamor industri jeans melorot, kini dibangun ruas jalan diatas Cihampelas, sky walk namanya. Alasannya tidak juga jelas, pokoknya, yang saya rasakan, setelah lepas dari kungkungan patung raksasa, kini Cihampelas dikangkangi besi-besi besar melotot ke bangunan-bangunan tua yang semakin renta. Seperti sudah dapat kita ramalkan, semuanya jadi barang hampa. Alih-alih ekonomi dan wisata membaik, sky walk itu jadi barang usang dan tidak berguna. Jalan Cihampelas semakin nestapa, pemimpinnya entah ke mana, si cantik Cihampelas kini merintih pilu.
Dari cerita diatas, saya ingin sampaikan bagaimana isu dan fakta adalah dua hal dengan batas setipis kertas tisu. Isu mengenai industri jeans dengan cepat mengubah suatu wilayah menjadi fakta kawasan belanja, tanpa mau melihat lebih dalam dan menguji isu tersebut lebih tajam. Alhasil, korbannya adalah daerah dengan wajah carut marut. Kini, besi-besi yang mengangkangi jalan semakin merenggut wibawa kota.
Intinya adalah, isu sebetulnya dapat dipermainkan sebagai fakta masa lalu. Dengan kekuatan otoriter serta berita yang diatur, Cihampelas direbut menjadi industri jeans. Kini dengan bantuan teknologi informasi Cihampelas terpuruk di antara besi-besi besar. Bahkan kemudahan teknologi informasi membuka kesempatan untuk mengutak atik isu, dengan syarat informasinya diproduksi terus menerus dan bertubi-tubi untuk mempengaruhi masyarakat, bahwa ini adalah sesuatu yang benar. Mesin logika dan akal sehat lumpuh oleh informasi yang datang seperti rentetan peluru.
Informasi akan menjadi kekuatan ketika kita memiliki kecakapan dalam literasi. Modal literasi ini dapat mengubah isu menjadi fakta, dan sebaliknya. Fakta industri membuang limbah ke sungai adalah nyata, namun dengan belokan-belokan data titipan penguasa, fakta tersebut dapat berubah menjadi isu. Fakta wilayah Braga adalah episentrum peradaban kota, benar adanya, namun isu ketimpangan wilayah ghetto di Cicadas ditutupi oleh manisnya Braga melalui fakta-fakta yang terus menerus diproduksi. Jadi, mari menjaga moral dan logika serta akal pikiran tetap tajam dengan selalu skeptis terhadap apa pun dan memiliki kemampuan untuk menjalankan mesin logika kita sehingga mampu untuk berempati terhadap siapapun. Tabik!
Editor: Hafidz Azhar



