Persib: “Hade Goreng ku” Bola

Foto: Muhammad Iqbal Fathoni

Di tengah keberhasilan sorak-sorai di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, terdapat kisah yang mengharu biru: Persib Bandung kembali meraih gelar juara Liga 1 Indonesia. Ini adalah gelar ketiga dalam sembilan tahun terakhir, setelah sebelumnya menjuarai kompetisi ini di tahun 2014 dan 2024. Setiap kemenangan bukan sekadar angka, melainkan lembaran sejarah yang terukir dari usaha, air mata, dan keyakinan yang tak tergoyahkan. Bagi ribuan pendukung yang menyaksikannya, momen itu adalah puncak dari perjalanan yang panjang, sebuah pengakuan bahwa warna biru-putih bukan sekadar seragam, tetapi juga jiwa yang mengalir dalam diri mereka.

Menyaksikan Persib meraih juara untuk ketiga kalinya adalah pengalaman emosional yang tak bisa diukur dengan waktu. Pada tahun 2014, gelar itu datang setelah sembilan belas tahun penantian, membangkitkan kebanggaan biru-putih di seluruh Jawa Barat. Sepuluh tahun setelahnya, pada tahun 2024, Persib kembali membuktikan diri dengan permainan yang luar biasa, seakan menanggapi keraguan bahwa kejayaannya hanyalah kenangan.

Kemudian, di tahun 2025, mereka menunjukkan bahwa konsistensi adalah kunci utama, tidak hanya menang, tetapi juga mampu mempertahankan posisi teratas dengan cara yang memikat. Bagi para Bobotoh, setiap gelar adalah babak baru dalam cinta yang tidak selalu mulus: ada suka dan duka, pertengkaran, namun selalu diakhiri dengan pelukan bangga.

Menjadi penggemar Persib bukanlah hal yang kebetulan. Ini adalah keputusan yang diambil dengan kesadaran penuh, mirip dengan mencintai sesuatu yang kadang menyakitkan, tetapi bermakna. Oleh karena itu kami tidak memilih untuk dilahirkan sebagai Bobotoh, namun kami memilih untuk terus setia.

Di tengah riuhnya kritik atau ejekan dari lawan, kesetiaan itu tetap terjaga. Mereka yang bertahan memahami: Persib lebih dari sekadar tim, tetapi juga cerminan harga diri. Di sini, kesetiaan tidak diukur hanya dari sorakan kemenangan, tetapi juga dari keberadaan saat tim mengalami masa sulit.

Lebih dari itu, Persib adalah tujuan hidup. Bagi seorang guru honorer seperti kawanku, ia rela menabung untuk membeli tiket, ibu-ibu yang menjahit bendera kecil di teras lalu menjualnya di pinggir jalan, atau anak muda yang menggambar jaket dengan logo Maung Bandung, klub ini adalah tujuan yang seharusnya. Mereka tidak hanya hadir untuk menikmati pertandingan, tetapi juga mencari arti. Di tempat ini, sepak bola menjadi bahasa yang meruntuhkan batasan sosial. Ketika ribuan suporter menyalakan flare di Graha Persib di jalan Sulanjana setelah kekalahan, atau merayakan kemenangan di Jalan Pasopati saat juara, yang terlihat bukan hanya kegembiraan, tetapi juga sebuah komunitas yang hidup, bernafas, dan berpadu dalam satu irama.

Persib adalah kisah mengenai sebuah kota, tentang masyarakat biasa yang menemukan keberanian melalui nyanyian dari tribun. Ini adalah pengingat bahwa di tengah kesibukan hidup, ada hal yang tetap suci: cinta terhadap sebuah warna, kebanggaan terhadap sebuah nama, dan keyakinan bahwa selama bendera biru-putih berkibar, harapan tidak akan pernah pudar.

Foto bercerita ini menampilkan kebahagiaan saat laga terakhir Persib ketika menjamu Persis Solo di Stadion Gelora Bandung Lautan Api pada tanggal 24 Mei 2025.

Foto: Muhammad Iqbal Fathoni
Foto: Muhammad Iqbal Fathoni
Foto: Muhammad Iqbal Fathoni
Foto: Muhammad Iqbal Fathoni
Foto: Muhammad Iqbal Fathoni
Foto: Muhammad Iqbal Fathoni
Foto: Muhammad Iqbal Fathoni

 

Foto: Muhammad Iqbal Fathoni

 

Editor teks: Hafidz Azhar

Picture of Muhammad Iqbal Fathoni

Muhammad Iqbal Fathoni