Poetika Sunda

 

 

Jadi, bisa saja istilah purwakanti di sini berlainan dengan purwakanti dalam sastra Jawa.

 

 

Buku yang saya terima tadi siang merupakan kumpulan beberapa karangan. Di antaranya terdapat tulisan begawan sastra jawa kuna I. Kuntara Wiryamarta, ia menulis Puitika Jawa dalam Kancah Sastra Indonesia. Inti dari tulisan ini adalah timbamgan atas karya Linus Suryadi AG, Y.B. Mangunwijaya, dan Darmanto Jt, Pengakuan Pariyem, Burung-burung Manyar, dan Karto Iya Bilang Mboten. Yang dimaksud “puitika” oleh Romo Kun di sini adalah kaidah-kaidah sastra, ia hendak merumuskan sebuah teori sastra Jawa yang menjadi pedoman dalam menilai karya sastra, serta dapat dijadikan dasar dalam menuliskan karya sastra, sebuah teori yang untuk diikuti atau pun diperbaharui, bahkan “diberontaki”. Namun, kali ini bukan poetika itu yang saya tuju, melainkan poetika yang seperti dimaksud Ajip Rosidi dalam judul bukunya Puitika Roestam Effendi, yang ringkasnya konstruksi bunyi dalam puisi. Benar atau tidak pemahaman saya itu, semoga pembaca dapat memaklumi kebodohan saya ini.

Alih-alih menggunakan kata “sajak” Ajip menawarkan istilah purwakanti untuk tataan bunyi–tadinya saya mau menggunakan kata rima, bukan ‘tataan bunyi’, cuman kata KBBI rima itu pengulangan bunyi–istilah dalam sastra Sunda, kemungkinan dipungut dari susastra Jawa. Memang di saat Tatar Sunda menjadi bahan bancakan para Dalem Bupati, banyak unsur-unsur budaya Jawa Mataram yang meresap ke dalam budaya Sunda. Walaupun selidik punya selidik, setelah saya selidiki kadang-kadang ada makna yang lesap dari anasir budaya Jawa itu, bahkan jauh sekali maknanya atau bentuknya dari yang ada di Jawa. Jadi, bisa saja istilah purwakanti di sini berlainan dengan purwakanti dalam sastra Jawa.

Lewat purwakanti kita bisa merasakan dari sastra kawih (puisi oktosilabik dalam lontar sunda kuna biasanya diawali dengan seruan “ini kawih…”), carita pantun, puisi karya Haji Hasan Mustapa, sampai puisi sunda mutakhir, memiliki corak yang berkesinambungan. Sebagai gambaran bagaimana tenunan itu, pembaca Indonesia bisa menyicicipi dari pusi-puisi Ramadan K.H. di bukunya Priangan Si Jelita. Di sini saya coba kutipkan dari kaca 25:

Di Cikajang ada gunung,
lembah lengang nyobek hati,
bintang pahlawan di dada,
sepi di atas belati;
kembang rampe di kuburan,
selalu jauh kekasih.

Di Cikajang ada kurung,
menahan selangkah kaki,
bebas unggas di udara,
pelita di kampung mati;
fajar pijar, bulan perak,
takut mengungkung di hati.

Puisi ini bermetrum kinanti, metrum yang konon berasal dari susastra Jawa, anda bisa mendendangkannya jika anda bisa. Meski kedua bait ini berbahasa Indonesia dan bermetrum Jawa, sibgah Sunda sangatlah nampak. Khusus untuk dua baris terakhir di masing-masing bait mengantar kita pada bentukan puisi lain yakni susualan, cara ungkap seperti ini sangat semarak dalam ungkapan carita pantun. Seperti ini juga gaya ekspresi dalam puisi sufistik Sunda karya Haji Hasan Mustapa yang hampir semua ditulis dalam metrum Jawa itu.

Seorang pakar sastra yang lain, Yus Rusyana membuat suatu kajian yang ciamik untuk sastra Sunda. Kajian itu tertuang dalam sebuah buku Bagbagan Puisi Mantra Sunda. Buku ini merupakan bunga rampai mantra dalam kebudayaan Sunda, yang paling menarik justru berada di bagian pengantar. Yus Rusyana tidak hanya menerangkan apa dan bagaimana mantra sunda, tapi juga membuat struktur purwakanti atas ratusan sampel mantra sunda yang tercakup dalam bunga rampai itu. Struktur-struk itu kemudian ia kelompokan. Yus mungkin terobsesi untuk menjadi Khalil al Farahidi versi Sunda, ia menawarkan semacam ilmu ‘arudh. Saya kira ramuan ini bukan hanya berlaku untuk mantra sunda saja tapi juga bisa menjadi wazan (penimbang) bagi puisi sunda yang lain, dari yang kuna sampai yang mutaakhir. Memungkinkan juga untuk menimbang puisi yang lian, selama dalam kurung rumpun Melayu. Saking ajaibnya ramuan ini tidak terpakai oleh pengkaji setelahnya, entah karena tidak tahu atau terlalu rumit. Bahkan oleh Yus Rusyana sendiri. Buah pikir pertama Yus Rusyana ini, seperti yang mati ketika ia lahir.

Kita bisa lihat di buku Puisi Guguritan Sunda–kebetulan buku ini disusun dengan bahasa pengantar bahasa Indonesia–ketika Yus membicarakan Guguritan Laut Kidul, dengan nada diplomatis ia menulis “Guguritan Laut Kidul karya (secara tertulis disebut kintunan ‘kiriman’) Kalipah Apo”. Pada zaman sastrawan generasi Yus memang sering terjadi polemik, di antaranya polemik penggubah Guguritan Laut Kidul. Bermula dari R.T.A Sunarya yang menyatakan bahwa guguritan ini digubah oleh R. Ece Majid. Namun yang paling bisa dipercaya dari polemik itu pernyataan bahwa guguritan ini dibuat oleh Kalipah Apo, atau pendapat yang menyatakan digubah Haji Hasan Mustapa. Ajip Rosidi berada di kubu Hasan Mustapa, sayang argumen Ajip menurut saya kurang kuat, Ajip tidak menyertakan bukti kongkrit. Sampai sekarang perdebatan ini “membuntut katak” buntu tak jelas, terkubur di tengah jagat data yang semakin meluas. Padahal dengan perangkat yang ia tempa di Bagbagan Puisi Mantra Sunda itu, bisa saja Yus Rusyana memungkas polemik ini. Namun apa sebabnya? Hanya Prof. Yus yang tahu.*

teundeun di handeuleum sieum
tunda di hanjuang siang

 

HADY PRASTYA | TUKANG KAYU

image: Sharm Murugiah

Picture of Redaksi

Redaksi