Raja Penyair Sebenarnya, Itu Telah Pamit (Mengenang Umbu Landu Paranggi 1943-2021)

 

‘Dukamu kan jadi baka sempurna

Dan dukaku senantiasa fana’

(Umbu Landu Paranggi, Sajak Dalam Angin)

Penyair legendaris itu pergi dalam keadaan paling berbahagia. Dikelilingi kerabat, sahabat, keluarga dan tentu saja sajak-sajaknya yang masih terpatri dalam ingatan publik sastra tanah air. Pada hari Selasa, (6/4/2021) di RS Bali Mandara, Denpasar Bali, pukul 03.55 wita. Penyair Umbu meninggal di kota dimana yang pernah ia sebut sebagai sorga, selain Jogja dan Bandung, yang pernah ia lontarkan dalam tayangan youtube resmi Pusat Pembinaan Bahasa Indonesia, ketika Umbu diwawancara kala mendapat Penghargaan Pengabdian pada Dunia Sastra 2019. “Jogja, Bandung, dan Bali, hanya itu sorga saya, saya langsung tahu apa yang saya kerjakan kalau di tiga tempat itu

Umbu, meninggal dengan meninggalkan banyak sajak, kenangan, memori, dan lintasan-lintasan peristiwa dalam kesusastraan puisi Indonesia modern. “Umbu sudah melakukan gerakan-gerakan penyadaran kesusastraan pada generasi muda” ujar Wayan Jengki Sunarta. Jauh sebelumnnya, ketika Umbu pada akhirnya memutuskan menetap dan menjadi patron penyair modern di Bali, pada medio tahun 70an-akhir (ketika memutuskan menjadi redaktur sastra di harian Bali Post), Jogjakarta juga pernah mendapatkan sentuhan tangan dinginnya dalam membaiat, mendidik, dan mengapresiasi penyair-penyair muda di Malioboro pada medio tahun 1960-an. 

Tersebutlah nama-nama beken, yang pernah ada dalam naungan Umbu Landu Paranggi di Persada Studi Klub, yang didirikan pada 5 Maret 1969, seperti Emha Ainun Najib, Iman Budhi Santosa, Linus Suryadi A.G dan Eko Tunas. Tak ayal, julukan Presiden Malioboro pun melekat hingga sampai saat ini di dalam diri Umbu Landu Paranggi.

Emha Ainun Najib pun sendiri mengatakan “saya memerlukan catatan setandas-tandasnya tentang kepergian hamba Allah yang amat sangat berjasa memproses pematangan hidup saya di usai remaja pada era 1970-an” . Penyair yang lahir di Sumba Timur, 10 Agustus 1943, ini memang sangat dihormati oleh guru bangsa kita, Cak Nun. Terlebih lagi, jalan yang ditempuh penyair Umbu, cukup nyentrik, sufistik, bohemian, dan misterius (tidak mudah konon untuk bertemu dengan Umbu), menjauhi sorotan media, dan popularitas publik.

Sebagai sosok putra mahkota Paranggi, (raja) di tanah kelahirannya Sumba, Umbu lebih memilih berpetualang sebagai penyair kala usianya masih remaja. Darah ningrat di dalam diri Umbu, tidak membuat dia jumawa, “Dia tidak kepincut dengan dunia. Dia raja besar, dia tinggalkan kerajaannya tetap jalan tapi dia tidak mau jadi raja, dia jadi gelandangan di Jogja dan di Bali” tulis Emha Ainun Najib, mengenai sosok maha gurunya tersebut. 

Cukuplah sebenarnya, kalimat Emha di atas, menggambarkan seberapa besarnya marwah dari Umbu Landu Parangg, bagi perjalanan sastra Indonesia modern. Keunikan dan keotentisitasnya dalam sikap, laku dan karya, membuat satu metafor tersendiri bagi Umbu Landu Paranggi yang sangat jarang dimiliki oleh sastrawan di generasinya maupun generasi selanjutnya.

Belajar menikmati Umbu, kita belajar menikmati kekhusyuan dalam menjalani proses kreatif, belajar menikmati Umbu, kita belajar bagaimana caranya menjalani hidup sebagai penyair dengan daya, bukan dengan asal jadi, belajar menikmati Umbu kita jadi masuk ke dalam nilai-nilai spiritual dan sufistik. Sesungguhnya, manusia yang menjalani hidup seperti kaum sufi, itu masih ada di tengah jaman modern seperti saat ini, dan itu dilakoni oleh penyair Umbu selama puluhan tahun, yang secara garis takdir ia sebenarnya bisa menjadi Raja di tanah kelahirannya, Sumba. Bahkan ia menyebut dirinya hanya sebagai ‘pupuk’. 

Namun dari ‘pupuk’ kerendahatian itulah, kita berutang banyak pada sikap dan karya-karya Umbu Landu Paranggi. Selamat jalan Umbu Landu Paranggi. Kami akan senantiasa mengenangmu…. Al-Fatihah.

Bandung, 6 April 2021 

RENDY JEAN SATRIA | KOLOMNIS

ilustrasi: Juan Carlos Fonseca Mata

Picture of Redaksi

Redaksi