Sahabat Kami, Anjing!

 

 

Bayangkan seekor anjing bisa menjadi segalanya bagi sosok seorang manusia yang rapuh.

 

Anjing! umpatan, kata kasar, yang berpotensi mengundang keributan. Tak jarang juga setelah kata anjing diucapkan, baku hantam tak terelakkan, coba saja di jalanan perkotaan yang tidak ramah, macet serta panas yang mengundang emosi, pada puncak ketidaksabaran, mengeluarkan satu kata berbahaya ini bisa berpotensi duel satu lawan satu bahkan keroyokan. Sebaliknya, kata anjing, dapat terdengar juga sebagai akhiran dalam kalimat sebagai imbuhan, mungkin sebagai penegas dalam komunikasi dua arah, dan lawan bicara biasanya menerima dengan senang hati untuk dianjing anjingkan, atau fikirnya, saya toh, bukan anjing seperti yang dimaksud. Jadi, pembicaraan mengalir saja. Kata anjing ini jadi menarik, satu hal dianggap tidak senonoh, bagian lain malah bikin komunikasi tambah asyik.

Saya sebetulnya bukan ingin mengurus peranjingan ini dalam berbagai bahasan. Anjing yang saya maksud sebentuk hewan berkaki empat, dan tentu saja ciptaan Tuhan bukan buatan Cina. Binatang yang bagi kebanyakan orang akan menyingkir, menghindar bahkan lari ketakutan. Entah karena urusan mitos mengenai hewan galak, atau pula takut akan mencederai soal ibadah. Soal anjing galak, masih ampuh untuk buat ciut nyali para penakut, orang akan lebih waspada bahkan menjauhi pagar yang ada tulisan “awas anjing galak” lengkap dengan gambar anjing bertubuh bongsornya.

Cerita anjing yang saya maksud adalah, cerita dalam novel “Dog Stories” penulisnya James Herriots, nama aslinya James Alfred Wigh, seorang novelis yang merangkap dokter hewan, tepatnya dokter hewan yang merangkap pengarang novel. Tentu saja inspirasi James Herriots dari pengalaman dan dinamika yang bersangkutan dalam menjalani profesi sebagai dokter, hebat juga kalau di fikir-fikir menjadi dokter hewan, keluhan hanya bisa dibaca dari sorot mata dan bahasa tubuh pasiennya. Hal menarik lain dari penulis ini adalah, dia baru mulai menulis di usia lanjut dan buku yang dia tulis mendapat apresiasi yang luar biasa, terbayang seseorang baru memulai menulis di usia lima puluh tahun, tetapi dengan memahami dan mencintai apa yang dia lakukan, maka walhasil pengalaman tersebut bisa disampaikan dengan berbagai rasa, manis, gundah, serta gelak tawa.

Ada sekitar lima puluh cerita berbeda yang disajikan dalam tema yang sama, tentu saja dongeng hubungan si dokter dan para pasiennya, dan tidak lepas dari suasana manusia yang hadir diantaranya. Hubungan tripartit ini penuh jejak. Cerita-cerita yang tersaji mudah untuk difahami tapi kuat dengan bangunan kerabat. James berdinas di kota kecil, Yorkshire. Desa dengan latar belakang pertanian, dapat kita bayangkan hidup di desa dengan suasana kekerabatan yang kental dan para penghuni yang saling kenal. Di awal karir, dia membuka praktek bersama dengan teman sejawatnya. Ketertarikan James pada anjing, terpupuk semenjak zaman dia sekolah dokter hewan di Glasgow Veterinary College, bahkan sebelum itu. Menjadi anggapan aneh pada zaman itu, ada orang yang ingin belajar untuk menjadi dokter hewan. Di zaman resesi, dokter hewan kebanyakan menangani hewan ternak dan kuda dan mereka harus bersaing dengan para dukun, untuk anjing, tidak diperhatikan lebih.

Glasgow Veterinary College merupakan sekolah kedokteran hewan terkemuka, hari ini orang berlomba-lomba untuk masuk ke institusi pendidikan ini. Tapi, pada saat itu, apa yang diceritakan jauh dari kenyataan saat ini. Mahasiswanya belajar seenak hati, para pengajar melaksanakan tugas seadanya. Ada cerita, mahasiswa berjudi diatas piano, ketika pengajar sedang memberi materi dan suasananya santai saja, keren. Bahkan, ada beberapa pelajar bertahun-tahun tidak pernah lulus dalam mata kuliah dasar, ketika sudah bosan tinggal di kampus mereka cari jalan hidup lain, saking dirasa bahwa sekolah kedokteran hewan bukan dianggap ilmu penting, bukan sebagai jalan untuk mengail mata pencaharian yang mapan. James memiliki cita-cita sebagai ahli bedah khusus anjing, ideal sekali apa yang dia harapkan, tempat praktek serba bersih dengan alat alat bedah tertata rapi. Pokoknya, harapan menjadi dokter hewan profesional.

Kisah-kisah mengalir dengan kalem dan anteng. Namun, untuk seukuran saya cerita yang disampaikan James, cenderung menyentuh. Mungkin, karena saya dekat dengan anjing, kehidupan saya sehari-hari di rumah bagaikan kebun hewan. Dan, anjing adalah bagian dari keluarga kami.

Anjing yang disampaikan dalam kisah buku James bukan hanya riwayat anjing sakit yang diobati kemudian sembuh atau mati, menurut saya, kisah yang diutarakan merujuk pada kedekatan emosional antara sesama mahluk. Cerita yang cukup menyentuh, dan bukti bahwa ada kedalaman jiwa yang dapat kita telaah, bahwa anjing dianggap sebagai satu-satunya teman diantara dua sosok. Suatu ketika James bertandang ke bar terdekat, penduduk di desa kecil tentu saja saling kenal, mereka biasa bertegur sapa satu dengan yang lain. James mengamati anjing salah satu pengunjung yang menderita kelainan. Si teman percaya James bisa mengobati anjingnya, apa daya ternyata anjing jenis terrier milik Paul Cotterrell bernama Theo menderita sakit yang parah dan sulit untuk disembuhkan. Namun tidak terlihat kesedihan berlebihan pada diri Paul yang pada akhirnya Theo harus disuntik mati, daripada sakit berkepanjangan dengan fisik yang tersiksa. Di akhir pertemuan antara Paul dan Theo mereka hanya saling saling bertukar pandang, Paul hanya meminta James agar melakukan tindakan secepat mungkin. Suatu ketika, James berkunjung pada salah satu pasiennya, jiwa James terguncang bahwa mendapat berita bahwa Paul bunuh diri karena depresi, kemungkinan besar tekanan jiwa yang diderita Paul, karena kehilangan Theo. Bayangkan seekor anjing bisa menjadi segalanya bagi sosok seorang manusia yang rapuh.

Bagi keluarga kami, anjing terbiasa menjadi teman di rumah. Kami tidak perlu memiliki bel yang menjadi tanda kehadiran orang asing di seputar rumah kami. Gonggongan kencang si Titan bisa memberikan isyarat bahwa ada sesuatu yang mendekati rumah, atau memang ada tamu yang bermaksud bertandang. Satu ketika, manusia satu rumah pergi, rupanya ada paket yang kami beli diantar pengantar, karena di rumah tidak ada siapapun maka dilemparlah paket tersebut ke halaman, alhasil isinya terburai dan hanya beberapa benda yang terselamatkan.

Kemana pun istri saya pergi si Bradley selalu ikut, Bradley anabul keturunan Labrador, adalah penghuni kebun hewan kami yang paling bontot, asalnya dari Ciputri Lembang, pemberian Bu Irma dan Pak Rikrik yang dosen ITB. Karakternya senang bermain, inginnya selalu ditemani, mangkanya jadi buntut istri saya. Kalau si Titan paling jago jadi penjaga, si paling waspada, karakter bawaan jenis American Bully. Si paling penurut dan penghuni ruangan atas adalah si Jules jenis Alaskan Malamute, dapat adopsi dari teman keponakan, dilepas dengan berbagai alasan. Berbagai karakter menjadi bawaan lahir si anjing, satu yang tidak pernah berubah, mereka mahluk yang setia.

Ribut sana sini urusan kepentingan manusia akan jabatan dan takut kehilangan alas nasi, bahkan mempertahankan kekuasaan dengan berbagai upaya. Harusnya mereka belajar juga menerima tentang bab ikhlas dari si Bradley, walaupun istri saya sedang mandi dia tenang saja menunggu di pintu kamar sampai istri saya selesai. Atau si Jules tenang saja menunggu alas makannya diisi, tanpa khawatir jatahnya diambil si Titan. Semua orang sudah punya porsinya. Mau belajar santai dan ikhlas? Amati anjing-anjing kami.***

 
TATA KARTASUDJANA | KOLOMNIS & DOSEN DKV FISS UNPAS
 
Ilustrasi oleh Adam Rizki Taufik
Picture of Redaksi

Redaksi