Sawala Mesin Ketik

Mesin ketik tua itu teronggok di sudut perpustakaan, di bawah meja terhalang banyak benda lainnya. Entah berasal dari mana, mesin ketik itu bermula disimpan. Kami bermaksud memindahkan benda itu ke lantai pertama, letak perpustakaan ada di lantai dua. Butuh tenaga dua orang dewasa untuk mengangkut mesin ketik itu ke bawah, cukup berat dan berukuran besar. Alasan mesin ketik itu berpindah tempat, konon, bekas pakai R.A Danadibrata, benda yang bersejarah, patut diketahui R.A Danadibrata adalah salah seorang penulis kamus Basa Sunda.

R.A Danadibrata merupakan pensiunan Wadana, dulu tinggal di sekitar alun-alun kota Bandung, Pak Danadibrata mengumpulkan kata-kata tidak  dari teks naskah atau majalah, tapi dengan cara mendokumentasikan melalui obrolan dengan masyarakat, berkelana di jalan-jalan kecil sekitar kota Bandung. Dituliskan satu persatu, terdapat sekitar 40.000-50.000 kata yang dapat terkumpul, terdiri atas 2000 halaman dan menghabiskan waktu sekitar 30 tahun.

 Wujud fisik kamus itu ada ditumpukan buku-buku di rumah kami. Seringkali saya gunakan dalam lintasan peristiwa apabila mencari padanan atau arti kata dalam Basa Sunda. Salah satu kamus  yang lengkap dan istimewa. Pasalnya, saya pernah memiliki kamus yang saya beli dari salah satu took buku di Kota Bandung, dari penulis berbeda tentu saja, setelah saya buka dan amati, banyak dari isinya yang menyesatkan. Salah kutip, ejaan dan bahkan salah arti. Mungkin saya yang salah, kurang teliti dalam membeli.

Secara pribadi belum pernah sekalipun bertatap muka dengan Pak Danadibrata, berbeda zaman, bahkan terpaut usia yang cukup jauh. Tempat mesin ketik itu kini disimpan di atas meja yang disediakan khusus, ditempatkan di Kedai Jante, Kedai Kopi  di lingkungan Perpustakaan Ajip Rosidi jalan Garut, kota Bandung.

 Penggagas dan pemilik Kedai Jante adalah Fitra Sujawoto, biasa kami panggil Mas Jawot. Mesin ketik itu saya kira masih terlihat kokoh, penanda perusahaan  pembuatnya masih terlihat jelas, “TRIUMPH”, seperti salah satu merek sepeda motor buatan Inggris. Saya amati lebih teliti jenis hurufnya sama, bahkan ada garis yang dinamis mengarah keatas diantara huruf. Perbedaan yang kentara pada penempatan garis, pada mesin ketik posisinya dibawah kalau pada merek motor posisi penempatan diatas, menarik juga sebagai bahan kajian logo atau sejarah produk.

Tubuhnya masih terlihat bugar, ada beberapa bagian cat yang terkelupas, ciri pekerja keras. Beberapa tutsnya sudah tidak berfungsi dengan baik. Apabila dipencet enggan berbalik. Tapi tidak terlampau sulit untuk memfungsikan kembali seperti sedia kala, tinggal dibawa ke Cikapundung ada beberapa ahli memperbaiki mesin ketik, tinggal  dibersihkan dan diperbaiki, saya kira dia akan kembali bisa bekerja. 

Tempatnya kini, ada di sudut dekat meja pembuat kopi. Selaras dengan bentuk meja, model tua. Berteman pula dengan ornamen yang terpasang disana, ada dua lukisan Tisna Sanjaya, dan beberapa buku yang ditulis Ajip Rosidi, sarat dengan ornamen budaya, saya kira.   

Setara waktu mesin ketik itu berpindah tempat, berbarengan pula dengan kegiatan rutin komunitas “Asia Africa Reading Culture”di hari rabu, yang saya tahu AARC dulu berkegiatan rutin di Gedung Asia Afrika di jalan Merdeka sering pula berpindah tempat. Belakangan berkegiatan di gedung Ajip Rosidi, di  ruangan yang berbeda, atas saran kang Hawe kegiatan dilangsungkan di Kedai Jante, ini kali kedua kegiatan tesebut berlangsung di Kedai Jante.  Adew Habtsa sang punggawa AARC sudah hadir di Kedai Kopi sore itu. 

Kami bertukar cerita, sambil menunggu kawan lain hadir. Tak berapa lama acara dimulai. Sajian nyanyian yang diringi gitar sebagai pembuka.  Kegiatan AARC hari itu membaca novel  “Pater Pancali”, dibaca bergantian oleh beberapa orang,  dengan intonasi keras dan jelas. 

Menarik, mengingatkan dulu ketika saya belajar mengaji, ada beberapa sepupu yang suka ikut belajar di rumah kami. Mendaras kitab suci bergantian, setiap orang membaca beberapa ayat tergantung panjang pendek ayat tersebut, setelah semua selesai, pak Ustad suka mengartikan ayat yang kita baca sambil menerangkan isi dari ayat tersebut. 

Begitu pula yang terjadi di acara senja itu, setelah selesai membaca beberapa halaman bergantian, tiba waktunya orasi budaya yang disampaikan oleh Sang Resi, Kang Hawe. Saya kira cukup menarik apa yang disampaikan dalam buku tersebut,  mengenai  tokoh yang berlatar belakang kehidupan sosial di India, lewat buku yang dibacakan, serta narasi yang disampaikan oleh Kang Hawe. Walaupun saya terima samar-samar, mengingat buku tersebut belum pernah saya baca. 

Di antara beberapa kawan yang hadir ada Untung Wardojo yang tak pernah putus bersilaturahmi. Saya kenal Mas Untung melalui kegiatan kesenian atau kebudayaan, sesekali saya hadir, kerapkali dalam acara tersebut saya bertemu muka dengan Mas Untung. Menurut cerita kang Hawe, Mas Untung pernah bersepeda sampai ke Tasikmalaya untukmenghadiri salah satu acara Acep Zamzam Noor, sebuah motivasi yang luar biasa. 

Kawan Untung, telah menghasilkan prasasti melalui dua buku, salah satunya buku kumpulan puisi yang ditulis sendiri. Dalam salah satu isi buku, mulai dari pembuat ilustrasi, yang memberikan kata pengantar sampai dengan penyunting, diisi oleh para tokoh, Profesor Jakob Sumarjo, Hawe Setiawan sampai Tisna Sanjaya hadir sebagai saksi dan tertera dalam buku. Kesetiakawanan yang mengagumkan.

Wujud sepeda Untung wardojo lebih dahsyat, saya pikir. Terparkir depan Kedai Kopi, saya perhatikan dengan seksama, hampir setengah busa dari sadel tersebut raib entah kemana, gir sepeda yang berkarat, yang paling unik sih, di setang sepeda, karet untuk pegangan  tangan, hilang tak berbekas. Terbayang semangat kawan Untung yang selalu bergembira, naik sepeda.

Saya teringat buku yang ditulis oleh Honore De Balzac, “Misa Atheis”. Buku tersebut terdiri atas tiga bagian. Dalam salah satu bagian diceritakan, seorang dokter yang sangat gemilang dalam profesinya, tidak pernah gagal menangani pasien, bahkan musuh-musuhnya sangat menghargai hasil karyanya. 

Ada kalimat menarik yang disampaikan.

 

“Kemuliaan seorang  ahli bedah disandingkan dengan kemuliaan seorang aktor: mereka hidup hanya selama mereka masih hidup, dan bakat mereka tidak berbekas ketika mereka mati”

Seakan setelah roh meninggalkan jasad, tidak ada apapun yang tertinggal, begitu pula kenangan. 

Ada pengalaman lain mengenai benda kenangan yang dapat saya utarakan. Ketika Ibu wafat, pada hari ketujuh kami membuka lemari baju beliau, semacam berbagi kerinduan. Kakak perempuan mengambil daster lama yang sering dipakai oleh Ibu. Warnanya sudah pudar. Saya bertanya pada Kaka, kenapa mengambil baju yang sudah lusuh, ada baju peninggalan yang lebih bagus, bahkan ada baju yang belum dipakai, “baju ini yang sering dipakai Ambu, wangi baju ini akan selalu mengingatkan keberadaan beliau”. 

Mesin ketik, sepeda, baju, daster adalah benda mati. Akan tetapi Kita seharusnya memiliki kesanggupan melihat pencapaian seseorang, melalui benda yang berada dekat dengan ruang lingkup kehidupan siapapun. Saya pribadi kurang sependapat dengan Honore Balzac, manusia bisa memberikan arti dalam hidupnya melalui benda yang mereka miliki. Untung Wardojo, dengan derit sepedanya seperti perlahan bergerak.  Ketika membaca puisi keadilan, matanya liar, dan bersuara lantang, saya saksinya. ***

 

TATA KARTASUDJANA | DOSEN DKV FISS UNPAS

Ilustrasi oleh Adam Rizki Taufiq

Picture of Redaksi

Redaksi