Usaha Wahyu Wibisana mengkaji carita pantun ini menjadi hal penting. Walau hasil penelitian ini sudah setengah abad lalu, dari segi ide bak hutan belantara yang masih perawan.
Tahun lalu (2021) telah terbit buku Dari Siwaisme Jawa ke Agama Hindu Bali, yang merupakan mangle dari tulisan-tulisan Andrea Acri selama lima belas tahun terakhir. Ada satu artikel yang memantik hati saya yakni Pancakusika dan Kanda Mpat: Dari mitos Pasupata ke Folklor Bali. Katanya, dari teks yang ada terbukti bahwa pancakusika memiliki sejarah yang panjang di Jawa dan Bali, malah melampaui kedua pulau itu, diantaranya Lampung di Sumatra. Begitu juga dalam khazanah sastra Sunda kuna, terbukti bahwa pancakusika menjadi leluhur/raja mitologis, mirip seperti Siliwangi yang dikultuskan oleh para bupati di masa kolonial.
Di antara naskah Sunda kuna yang membahas pancakusika adalah Sanghyang Hyang Hayu, Kunjarakarna, Carita Parahyangan, Siksa Kandang Karesian, dan Bujangga Manik. Adapun yang dimaksud pancakusika adalah lima resi yang terdiri dari Sang Kusika, Sang Garga, Sang Mestri, Sang Purusa, dan Sang Patanjala. Sampai kini pancakusika masih hidup dalam keseharian orang Hindu di Bali. Pertanyaanya apakah pancakusika sudah menghilang secara total dari memori kolektif orang Sunda?
Kalau kita membaca hasil dokumentasi carita pantun Lutung Kasarung yang diumumkeun ku C.M. Pleyte (1911) kita dapat mengetahui, karena ia memberi judul dokumentasi itu Tjrita Loetoeng Kasaroeng njaéta Goeroe Minda Kajangan anu Ngajadi Ratoe Goeroe Minda Patandjala. Tidak heran bagi sebagian orang Sunda carita pantun Lutung Kasarung, merupakan kisah yang sakral. Yang cukup menakjubkan, tak sedikit yang menyebutkan bahwa cerita itu mengkisahkan leluhur orang Sunda, walau tidak memgetahui asbab riwayatnya terhadap Guru Minda Patanjala.
Ini membuktikan dalam ingatan kolektif sebagian orang Sunda masih menyimpan remah dari tradisi Sunda kuna. Yang mengherankan saya sejak kapan ada ungkapan “seuweu-siwi Siliwangi”, anak-tunas Siliwangi?
Saya datangkan bukti lain, dari carita pantun Baduy. Saya kutip dua larik dari bagian pasaduan atau rajah:
sésékélér ti derma réhé
asal ti batara lima
tunas dari derma réhé
berasal dari batara lima
Batara lima adalah pancakusika atau pancaresi. Bahkan di dalam beberapa referensi etnografis yang meneliti tentang Baduy, orang Baduy mengaku keturunan Batara Patanjala. Hal yang menarik, kenapa Andrea Acri tidak mengungkit pancakusika dari folklor Sunda? Jawabannya, selain tersingkir oleh Siliwangi (nyatanya memang Siliwangi juga lebih gurih untuk dijajakan sebagai wacana politis), kalau bukan bodoh dan malas, orang Sunda mungkin belum merasa penting untuk meneliti hal itu.
Oleh karena itu, usaha Wahyu Wibisana mengkaji carita pantun ini menjadi hal penting. Walau hasil penelitian ini sudah setengah abad lalu, dari segi ide bak hutan belantara yang masih perawan. Apakah ini bisa menjadi bukti bahwa kajian kesundaan sesudah zaman Wahyu mandeg, bahkan menurun secara kualitas? Belum tentu juga. Tapi setahu saya belum ada yang meneliti carita pantun seperti Wahyu ini.
Skripsi minor (untuk kepentingan D3) ini disusun oleh Wahyu sekitar tahun enam puluhan, tentunya terbatasi oleh data pendukung. Makanya kita jangan heran ketika mendapati data-data yang tidak pas atau seadanya. Misalnya kutipan Wahyu atas naskah Sunda kuna Siksa Kanda Karesian (SKK). Pada saat skripsi ini disusun belum ada terjemahan utuh SKK, malah bisa jadi alih aksaranya pun belum ada.
Sedangkan saat ini baik SKK yang ditulis di daun gebang (naskah L630) dan SKK yang ditulis di daun lontar (naskah L624) sudah ada alih aksara dan terjemahannya. Oleh karena itu, tesis Wahyu yang mempersoalkan siliwangi dan silihwangi tidak relevan sebab dalam SKK lontar tertulis silihwangi, ditambah kita dapat bukti lain dari Bujangga Manik, dalam naskah itu tertulis “leuwih manan Silihwangi”, melebihi Silihwangi.
Bisa dibilang Wahyu merintis kajian yang memadukan carita pantun dan naskah Sunda kuna. Mengingatkan kita pada upaya J. Noorduyn dalam menelisik lontar Sunda kuna, ia juga memadukan lontar kawih (teks lontar Sunda kuna yang berbentuk puisi) dan pantun. Yang menarik kajian Wahyu dan Noorduyn kurang lebih terjadi berbarengan, walaupun mungkin Wahyu dan Noorduyn tidak saling ketemu.
Saya menyebut bahwa dalam buku ini terdapat data yang “seadanya”. Wahyu sendiri mengaku bahwa sampel yang ia gunakan belum tentu representatif. Oleh karena itu kita mesti hati-hati dalam membaca uraian Dadap Malang (Pantun Bogor), Radén Kamandaka (Babad Pasir Luhur), dan Nyi Pohaci Sanghyang Asri (Sulanjana).
Saya akan menjabarkan satu saja, Pantun Bogor. Di tahun 1992, Ajip Rosidi telah menyatakan bahwa Pantun Bogor adalah pseudopantun, untuk lebih jelas lebih baik membaca artikel bertajuk Pantun Bogor dalam buku Ajip yang berjudul Pancakaki. Sekedar tambahan, menurut saya “alam pikiran” Pantun Bogor tidak seperti “alam pikiran” keumuman carita pantun. Dalam buku ini pun Pantun Bogor paling banyak dikritik, cuman Wahyu tidak sampai seperti Ajip yang menyebut Pantun Bogor itu “lain pantun” bukan pantun.
Hal lain, walaupun Wahyu menerangkan apa dan bagaimana sastra tulis dan sastra lisan. Dalam buku ini Wahyu terjebak dalam dunia sastra tulis, misalnya dalam ungkapan “juru pantun selaku kréator boga kabébasan pikeun nyipta…”, juru pantun sebagai kreator memiliki kebebasan mencipta. Dalam hal lain juga Wahyu banyak mengenyampingkan ‘teks’ carita pantun dari konteks sastra lisan.
Terlepas dari berbagai kekurangannya buku ini merupakan contoh yang baik, bagaimana sebuah skripsi ditulis dalam bahasa Sunda.*
HADY PRASTYA | TUKANG KAYU
image: Sharm Murugiah




