Sesungguhnya Tidak Semua Teh, Hidup di Dalam Botol

 

 

Apabila ada tamu yang berkunjung. Jangan sekali-kali menghidangkan air putih sebagai suguhan, kalau tidak ingin didamprat ratu dapur alias ibu. Teh adalah minuman hidangan utama bagi tamu.

 

Banyak upaya dan cara minum teh. Saya perhatikan, dalam ruang para peminum teh yang tidak jauh dari tubuh saya. Anak kami yang perempuan doyan minum teh panas, dicampur sedikit gula. Kalau anak lanang biasanya teh panas, tapi tidak terlalu pekat. Ibunya anak-anak suka sekali minum teh manis pakai es. Saya sesekali minum teh dengan gula batu, tehnya agak pekat. Teh, biasanya menjadi suguhan teman sarapan. Teh yang kami gunakan dalam bentuk bubuk. Dibungkus kertas dalam kemasan sederhana. Satu atau dua sendok, cukup untuk satu termos kecil. Sarapan berlanjut dalam kegembiraan.

Minum teh seakan menjadi ritual dalam keluarga kami. Seingat saya, Ibu selalu menyediakan air teh dalam teko besar disamping air putih hasil rebusan. Air teh adalah minuman utama. Andalan pendorong makanan, minuman kedua, barulah, air putih. Saya tidak terbiasa menyebut air putih dengan air bening, sekarang lebih mudah menyebut air mineral. Mungkin serapan bahasa Sunda, dari “cai bodas”. Biasanya teh yang kami konsumsi berasal dari daerah Garut, sejauh ingatan saya, tidak bermerek, tapi rasanya khas. Kalau saya makan di warung nasi tradisional, sesekali ada juga rasa teh yang mengingatkan saya akan masa lalu, seperti air teh yang biasa ibu seduh.

Makanan apapun yang anda santap terutama di daerah Jawa Barat, mau makan di warung nasi, di tukang baso, di tukang lontong kari, di warung sate dan gule, air teh menjadi teman setia, khawatir anda tersedak. Air teh menjadi penolong dalam keadaan terdesak. Tidak harus mengeluarkan biaya tambahan, gratis. Tentu saja teh tawar yang disajikan, Dan apabila masih dirasa kurang atau merasa masih haus, anda bisa tambah, bebas. Belakangan ada beberapa tempat yang harus membayar apapun yang anda minum, air teh pun berbayar. Terkapitalisasi. Beda lagi apabila di daerah wetan, teh disana memang berbayar tapi pasti disuguhkan manis, teh manis, lebih sedap lagi es teh manis atau Nasgitel, panas, legit, kentel. Beda tempat beda pula kebiasaan.

Hal yang menjadi aturan yang harus ditaati, apabila ada tamu yang berkunjung. Jangan sekali-kali menghidangkan air putih sebagai suguhan, kalau tidak ingin didamprat ratu dapur alias ibu. Teh adalah minuman hidangan utama bagi tamu. Kalau direnungkan, mungkin teh menjadi satu bagian penghormatan bagi para kerabat. air putih dianggap sesuatu yang kurang bermartabat, sebagai suguhan tentu saja.

Bentuk lain dalam proporsi pergaulan jarang sekali kata yang berhubungan dengan teh menjadi ajakan dalam konteks hubungan sosial. Misal begini, untuk mengajak seseorang atau sekumpulan orang untuk berkumpul, biasanya orang menyampaikan ajakan seperti ini, “hayu urang ngopi”, jarang sekali terdengar “hayu urang ngeteh”, kata ngopi disini lebih pada realita imajinatif. Karena, pada kenyataannya yang seringkali terjadi, tidak ada kopi yang dihidangkan, tapi air teh yang disuguhkan dan beberapa makanan kecil sebagai kawan setia. lagi-lagi, teh menempati strata tertentu dalam konsep hubungan sosial.

Akhir-akhir ini komoditas kopi menjadi topik yang sangat menggiurkan. Kopi yang tadinya tidak banyak dilirik, bahkan hanya menjadi pengisi warung, sekarang ini menjadi primadona. Sewaktu saya masih seumuran anak sekolah menengah pertama, apabila ketahuan minum kopi, ibu saya bilang, “Ngaleueut kopi! siga aki-aki wae” dan saya akan segera berhenti menyeduh kopi. Entah kenapa, kopi pada saat itu identik dengan bapak tua, nongkrong di warung seperti kurang kerjaan. Tapi anak muda sekarang, sudah bisa menikmati kopi seperti para fanatik. Bahkan bisa bernarasi layaknya para ahli. Tidak lagi ada sebutan seperti “aki-aki”. Sayangnya, teh belum mendapatkan kesempatan sebesar kopi, naik kelas menjadi minuman unggul, masih berkutat di warung, dalam botol yang tergolek serta butuh kasih sayang.***

 
TATA KARTASUDJANA | KOLOMNIS & DOSEN DKV FISS UNPAS
 
Ilustrasi oleh Adam Rizki Taufik
Picture of Redaksi

Redaksi