
Banyak orang jadi tua, dan tak sedikit generasi baru yang harus membangun keluarga dalam situasi yang baru.
Pernah saya ditanya oleh ibu. Kalau sudah besar nanti, kamu mau jadi apa? Kalau boleh sih, jawab saya waktu itu, saya ingin tetap jadi anak-anak. Ada ibu, ayah, kakak-adik, dan teman-teman. Ibu menyeringai, lalu mendekap saya begitu hangatnya.
Di lingkungan keluarga kami, ibu adalah orang pertama yang akhirnya meninggalkan dunia yang kekanak-kanakan ini, disusul oleh dua kakak dan satu keponakan. Sejak ibu pergi, saya kian sadar sudah tidak muda lagi dan pasti bakal mati.
Ketika ngobrol di Kedai Kopi Los Tjihapit, Pak Eko bilang bahwa setelah 50 tahun tubuh kita menyusut sepuluh persen saban tahun. Seketika saya membayangkan tubuh saya menyusut dan terus menyusut hingga jadi sekecil jenglot.
Waktu asam lambung naik, kesanggupan berpikir tidak begitu baik. Perut mual, kepala pening, bahkan muntah-muntah segala. Waduh, apa sudah saatnya saya mati? Wajah ibu berkelebat lagi, bahkan juga wajah nini, aki, uyut, dan banyak lagi. Inikah saatnya bergabung dengan barisan karuhun?
Untung ada Arti. Anak saya yang satu ini mengantar saya ke klinik, alih-alih ke kuburan. Kata sarjana sastra Indonesia yang baru lulus dari UPI, dokter lebih tahu tentang penyakit kita. Baiklah. Adapun pilihan kata dari Pak Dokter sangat menyenangkan hati saya: istirahat. Mendiang Pak Asmuni dari panggung Srimulat pasti melafalkannya dengan “o”: istirohat.
Celakanya, salah satu buku yang tergeletak di samping dipan tempat saya beristirahat adalah memoar Stephen King, On Writing (2000). Bab-bab awalnya malah menceritakan pengalaman Stevie di masa kanak ketika dokter menusukkan jarum ke semacam bisul di gendang telinganya. “The pain was beyond anything I have ever felt since,” tulisnya. Ah, nanti saja, gumam saya sambil menutup buku itu.
Setelah lebih dari seminggu hidup dengan kepala pening dan horor Stephen King, saya bisa keluyuran lagi. Los Tjihapit termasuk tempat pertama yang saya kunjungi. Oom Bayu, sang juru kunci, sebetulnya baru sembuh dari sakit pula. Seingat saya, sakitnya malah lebih dari tiga minggu. Katanya, selagi ia sakit, sempat terpikir olehnya untuk meminta saya mewakili keluarga besar bicara kepada orang-orang kalau sampai terjadi apa-apa. Wah, rupa-rupanya, ada yang lebih ngawur lagi daripada saya dalam urusan sakit dan pikiran yang bukan-bukan.
Mas Jawot dan Mang Tata, yang literasi kesehatannya membuat saya kagum, bisa menerangkan kait-mengait antara pikiran yang bukan-bukan dan kandungan asam dalam lambung. Bahkan penjelasan mereka mengenai urusan ini jauh lebih meyakinkan ketimbang penjelasan mereka mengenai kekalahan Arema oleh Persib di Kanjuruhan akhir-akhir ini.
Saya jadi penasaran, apa para filsuf punya masalah dengan lambung? Kalau kita buka catatan orang, kayaknya cuma Hegel yang mencurigakan dalam urusan ini. Konon, dia wafat di tengah wabah kolera. Adapun yang lainnya tak bisa dipukul rata. Lenin, misalnya, konon terserang stroke, Sokrates jelas minum racun, Nietzsche jadi gila, belum lagi yang bunuh diri atau dieksekusi oleh para tiran.
Yang jelas, saya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Oom Bayu: selain mesti menjaga asupan makanan dan minuman, kita patut menjaga ketenangan pikiran. Lagi pula, kalau kita perhatikan rumusan “kualitas hidup (quality of life)” versi Organisasi Kesehatan Dunia, ada penekanan pada soal “persepsi individu (individual’s perception)”. Apa pula maksudnya istilah itu kalau bukan pikiran orang per orang. Buat saya sendiri, sedikitnya ada dua kata kunci dalam rumusan itu yang dikaitkan dengan pikiran, yakni “budaya (culture)” dan “tata nilai (value systems)”.
Dari sebuah artikel karya dua peneliti Thailand dalam The Jakarta Post baru-baru ini, saya menangkap gejala penuaan susunan masyarakat di Asia dan kaitannya dengan urusan kualitas hidup itu tadi. Banyak orang jadi tua, dan tak sedikit generasi baru yang harus membangun keluarga dalam situasi yang baru. Kalau saya tidak salah tangkap, semua itu pada gilirannya menimbulkan kekhawatiran bahkan kecemasan kolektif menyangkut “kebutuhan fisik” dan “kebutuhan emosional”, dan tentu saja menyangkat pendapatan dan jaminan kesehatan.
Kalau saya kembali berpaling ke latar pribadi, terlihat oleh saya bahwa penyusutan yang diceritakan oleh Pak Eko tadi bukan hanya berkaitan dengan tubuh saya, melainkan juga dengan tatanan sosial yang melingkupi diri saya. Tegasnya, ada pula penyusutan keluarga. Sewaktu saya masih kanak-kanak, rumah kami sesungguhnya mencakup tiga generasi: aki dan nini, ayah dan ibu, serta anak-anak. Setelah saya berumah tangga, rumah kami hanya melingkupi dua generasi: ayah dan ibu serta anak-anak. Kelak, kalau anak-anak kami sudah berkeluarga, rumah kami barangkali hanya mewadahi satu generasi: saya dan istri saya, hidup tua dan mengada-ada di dunia.
Untuk mengantisipasi perubahan demikian, saya sudah merancang rencana yang amat mantap. Sementara administrasi Jokowi lagi sibuk mengimbau aparat negara agar beralih ke mobil listrik, administrasi saya dan Teti lebih tertarik oleh peralihan ke mobil cilik. Kijang kapsul kian terasa kelewat besar. Inilah saatnya memperhatikan Karimun. Cukup toh buat kita berdua keluyuran di dunia, dan sesekali menjemput cucu kalau tidak dirasakan mengganggu oleh generasi baru.
Waktu kami berziarah ke kuburan ibu, Teti punya usulan yang lebih mantap lagi. Dia bilang, kuburan kita kelak, sebaiknya tidak dikasih pusara beton dan epitaf permanen. Cukup ditandai oleh hamparan kerikil dan bongkahan batu. Toh yang akan mengunjungi pusara kita nanti paling juga sampai generasi kedua. Selebihnya, kita bakal lenyap dari suasana. Saya bilang, biarlah urusan yang satu itu diserahkan kepada mereka yang masih hidup. Selagi kita belum mati, sebaiknya kita mengisi hidup, bukan dengan menulis epitaf, melainkan dengan menulis esai.***



