Sindir Sampir

 

 

Gejala campur kode atau penggunaan satuan bahasa dari satu bahasa ke bahasa lain, dalam bahasa sunda memang sudah tercatat dari jaman baheula.

 

Yamet kudasi, yamet kudasi,
Bang Yamet parake dasi.
Ara ara kimochi, ara ara kimochi,
Bang Ara parake peci.

(Dewi Isma Khoeriyah)

Ada banyak hal yang bisa kita ulas dari lirik serupa pantun–saya kira dibuat spontan oleh–Dewi Isma ini. Gejala campur kode atau penggunaan satuan bahasa dari satu bahasa ke bahasa lain, dalam bahasa sunda memang sudah tercatat dari jaman baheula. Dari studi mutakhir terbuktikan bahwa buku pokok dalam keberagamaan zaman Sunda Kuna berbahasa jawa kuna, di antaranya dan yang paling penting, korpus Sanghyang Hayu dan Siksa Guru. Meski Siksa Guru merupakan teks berbahasa jawa kuna tapi terdapat anasir sunda disana-sini. Kebalikan dari Siksa Guru adalah Siksa Kandang Karesian dalam teks sunda kuna ini–teks yang ditujukan untuk orang banyak “kundangeun urang réa”–justru terdapat anasir bahasa jawa kuna.

Sebagai gambaran kecil, pantun ini bisa dijadikan ibarat. Alih-alih memakai kata ‘memakai’ Dewi Isma menggunakan formula paraké, jelas terpengaruh formula dari struktur bahasa sunda, walaupun orang Sunda sendiri tidak menggunakan formula ini juga. Orang Sunda menggunakan kata maraké dari kata paké (pakai), maraké artinya (banyak orang) memakai. Formula hybrid dari masa klasik dalam bahasa Sunda, kini masih bisa kita dapati dalam bahasa urang Baduy, seperti di kata bahuma (berhuma) yang saya dapati dalam carita pantun, awalan ‘ba-‘ cukup asing dalam telinga kebanyakan urang Sunda, biasanya orang Sunda menggunakan ‘nga-‘ untuk huma, jadi ngahuma.


Awalan ‘ba-‘ mungkin pengaruh dari ranah Melayu, yang sudah datang ke Sunda dari berabad lampau. ‘Ba-‘ bisa jadi berasal dari ‘bar-‘ yang dalam bahasa indonesia kini jadi ‘ber-‘. ‘Bar-‘ kita dapati di prasasti Kebon Kopi II yang berada di Bogor,sebuah prasasti yang ditoreh pada abad kesepuluh, di sana terdapat frasa “barpulihkan raja sunda”.

Membandingkan kata “pantun” antara Sunda dan Melayu juga hal yang menarik. Seorang sastrawan cum sarjana Sunda, Wahyu Wibisana ketika menelusuri istilah pantun dalam kebudayaan Sunda pernah mencoba membandingkan “pantun” di Sunda dan “pantun” di Melayu. Pantun atau carita pantun di Sunda serupa epos atau wiracarita. Menurut Wahyu, dari berbagai hal carita pantun Sunda serupa dengan “kaba” di Melayu. Dan puisi pantun di Melayu serupa dengan “sisindiran” di Sunda. Ia menyimpulkan istilah “pantun” di Sunda dan “pantun” di Melayu saling kait-mengait, tapi dari mana ia berasal serta mana yang mengembangkan istilah pantun hingga berbeda dari asalnya itu, belum diketahui.

Sarjana bumiputra yang mula-mula menelusuri pantun adalah Hoesein Djajadiningrat. Baik Wahyu maupun Hoesein mereka mengambil etimologi pantun dari hasil tilikan ilmuwan Swiss, Dr. R. Brandstetter. Menurutnya, sebagaimana dicatat Hoesein, pantun dari akar tun, yang juga ditemukan dalam bahasa Pampanga tuntun (teratur), bahasa Tagalog tonton (membacakan sesuatu menurut aturan), Jawa Kuna tuntun (alur), atuntun (dalam barisan), dan matuntunan (membimbing), bahasa Bisaya panton (mendidik), dan bahasa Toba pantun (kesopanan, sopan santun). Ringkasnya akar tun merujuk pada: yang teratur, yang lurus, baik konkrit maupun abstrak.

Selain pertautan antara kata pantun di Sunda dan Melayu, yang tak kalah menarik pertautan kata sindir dan sampiran. Kita sudah tahu bahwa sampiran adalah dua baris pertama dalam pantun yang merupakan persediaan bunyi kata untuk disamakan dengan bunyi kata pada bagian isi pantun. Dari penelusuran Maman S. Mahayana, ia menyimpulkan sampiran dalam puisi pantun di Jawa dan Madura bukan hanya untuk mengantarkan isi, atau sekadar persediaan bunyi kata. Sampiran dalam pantun Jawa dan Madura dalam beberapa kasus justru berfungsi untuk menegaskan isi, bahkan kadangkala bermakna simbolik. Saya kira di sisindiran Sunda sama dengan Jawa dan Madura, sampiran tidak hanya persediaan bunyi tapi juga bermakna simbolik. Dari penamaan sisindiran ini juga bisa jadi bahan spekulasi, dalam benak orang Sunda justru sampiranlah yang jadi pokok dalam pantun. Ada hal yang menarik lain, di Sunda ada kata sampir yang hanya digunakan sebagai pelengkap kata sindir, semacam reduplikasi, menjadi sindir-sampir. Sampir sama statusnya seperti culak dalam culak-colek hanya pelengkap. Sindir-sampir artinya kegiatan menyindir.

Tradisi puisi pantun di Sunda kayaknya rangkuman dari tradisi Jawa dan Melayu. Puisi yang serupa pantun Melayu di Jawa disebut parikan, yang di Jawa Timur dan Madura juga disebut kidungan atau kèjhung. Tak seperti di Melayu penggunaan parikan lebih terbatas, dari sumber yang saya temui parikan hanya di sekitar pertunjukan ludruk. Bahkan ada yang menyatakan kelahiran parikan tidak jauh atau bahkan bersamaan dengan ludruk.

Satu lagi puisi tradisi Jawa yang sering dikaitkan dengan pantun, yakni wangsalan semacam perpaduan antara puisi dan teka-teki. Dalam kumpulan memoar Prof. Poerbatjaraka, Achadiati Ikram membuat tulisan khusus yang membahas bandingan pantun dan wangsalan. Saya cutat satu contoh wangsalan dari artikel ini:

jenang sela
wader kalen sesondheran
apuranta
jén wonten lepat kawula

dodol batu
ikan kali yang berselendang
maafkanlah
jika ada kesalahan

Jenang sela artinya apu (kapur) yang memiliki asosiasi bunyi dengan kata apurantan, wader kalen sesondheran artinya sepat yang memiliki asosiasi bunyi dengan lepat. Achadiati menegaskan, persamaan antara pantun dan wangsalan adalah sugesti bunyi. Nampaknya puisi wangsalan ini tidak ada di Melayu.

Di Sunda wangsalan disebut wawangsalan, ada juga yang menyebutnya susualan atau wiwilangan. Nampaknya istilah wawangsalan di Sunda merupakan terminologi pinjaman dari Jawa begitu juga paparikan, meski begitu kedua istilah ini paling sering diulang-ulang dalam buku pengajaran bersama dengan rarakitan. Saya tidak tahu kronologinya seperti apa hingga masuk ke dalam sastra sunda, yang jelas istilah-istilah ini mengalahkan suatu terminologi dan sebentuk puisi yang sudah tercatat dalam naskah-naskah Sunda Kuna, yaitu bangbalikan.

 

HADY PRASTYA | TUKANG KAYU

image: Sharm Murugiah

Picture of Redaksi

Redaksi