Kenyataan bahwa orang yang pada 17 Agustus 1945 dinyatakan sebagai presiden Republik Indonesia yang merdeka itu cukup dipanggil Soekarno membuat para wartawan Amerika pusing tujuh keliling.
Buat sebagian orang Belanda dulu, juga kini, dia adalah inkarnasi iblis, sumber segala penderitaan setelah terbebas dari kuk Jepang. Untuk banyak orang Indonesia, dia adalah manusia setengah dewa, Bapak Bangsa, yang hendak memimpin Indonesia ke jalan negara adil dan makmur. Berikut ini adalah serangkaian anekdot tentang seorang tokoh sejarah, yang turut mengukir sejarah dunia. Karena yang dibicarakan adalah tokoh yang satu ini, kita semua dapat memakluminya.
Kenyataan bahwa orang yang pada 17 Agustus 1945 dinyatakan sebagai presiden Republik Indonesia yang merdeka itu cukup dipanggil Soekarno membuat para wartawan Amerika pusing tujuh keliling. Pasalnya, di Amerika setiap orang punya nama depan, dan karena American way of life itu unggul, semua orang di seantero dunia ini juga harus punya nama depan.
Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa para wartawan Amerika tidak percaya kepada kami ketika kami bilang bahwa di Jawa bukanlah hal yang aneh bila ada orang yang tidak punya nama depan. Namun, rupanya para redaktur mereka tidak gampang diyakinkan, dan mungkin saja sejarah akan lain jalannya sekiranya “problem” tersebut tidak terpecahkan, meskipun bertentangan dengan kebenaran. Jan Bouwer, wartawan Belanda yang berhasil bersembunyi selama perang dan kini jadi perwakilan dari sebuah kantor berita Amerika, memanggil rekan-rekannya seraya berkata, “Kita sebut saja dia Ahmed, itu kan nama yang lazim di Jawa, biar redaktur-redaktur kita senang.” Habis perkara. Ahmed Soekarno pun terbit jadinya.
Begitulah dalam pemberitaan pers Amerika nama Ahmed yang satu ini bertengger cukup lama. Protes dari rekan-rekan wartawan Indonesia terhadap “tambahan” atas nama pemimpin mereka tidak membuahkan hasil. Korban penambahan nama itu sendiri sudah lama tidak tahu-menahu bagaimana ceritanya dia tiba-tiba punya nama depan segala. Ketika pada gilirannya dia tahu duduk perkara yang sesungguhnya — sekian waktu kemudian — tentulah dia terbahak-bahak dibuatnya.
Benarkah dia “pemangsa blanda” seperti yang dituduh banyak orang? Dalam sebuah diskusi dengan saya, dia berkata, “Anda kan lebih tahu dari siapapun, yang saya benci itu bukan orang Belanda melainkan politik Belanda.” Lagi pula, banyak contoh mengenai hubungan baik antara sang presiden dan orang Belanda: dia adalah didikan “Belanda”, membaca banyak buku berbahasa Belanda, dan fasih berbicara dalam bahasa Belanda — bahkan pada mulanya dia lebih fasih berbahasa Belanda ketimbang berbahasa Indonesia.
Ketika dia menempati gedung bekas istana gubernur jenderal setelah penyerahan kedaulatan, dia mendapati ada sejumlah orang Belanda yang bekerja di bagian layanan rumah tangga istana. Mereka sedang diliputi ketidakpastian hari depan juga tidak bisa atau tidak fasih berbahasa Indonesia. Kelompok Belanda ini menghadap kepada presiden untuk meminta maaf sekiranya dalam pelaksanaan tugas mereka sehari-hari mereka berbicara dalam bahasa Indonesia yang kurang baik. Sang presiden menukas, “Ik zal antwoorden in de taal, waarin ik word toegesproken (Saya akan membalas dalam bahasa yang saya maksudkan).”
Untuk beberapa waktu lamanya kepala rumah tangga istana, dari kalangan Belanda, tetap berada di sana. Ketika dia akhirnya pergi, dia dihujani hadiah. Siapa yang loyal kepadanya, bisa mengandalkan kepercayaan Soekarno.
Contoh paling mencolok menyangkut sikapnya terhadap “seorang” Belanda adalah hubungannya dengan Pastor M., pemangku pos Missi di Ende. Bertahun-tahun lamanya Soekarno pernah diasingkan ke Ende. Ketika dalam salah satu perjalanannya dia singgah di Flores, baginya itu bukan semata-mata kunjungan kerja. Banyak hal yang mengikat dirinya dengan lingkungan setempat. Salah satu di antaranya adalah minat Insinyur Soekarno terhadap keberadaan sekolah kejuruan yang dikelola oleh Missi di Ende. Kepala sekolahnya adalah Pastor M.
Di antara kedua orang tersebut niscaya telah terjalin persahabatan nan karib. Selama ditahan di Ende, Soekarno sering berkunjung ke sekolah kejuruan itu: dia sangat berminat terhadap pengajaran di situ, terutama yang menyangkut bidang keahliannya sendiri. Di sela-sela kunjungan resminya, pada suatu pagi dia menyelinap ke lingkungan lamanya yang setelah sekian tahun masih dikelola oleh Pastor M.
Sore hari, saat rombongan kepresidenan hendak berangkat, di dermaga sempit di teluk kecil itu barisan pengawalan dan para pejabat setempat telah berdiri, bersiap siaga hendak mengucapkan salam perpisahan terhadap Kunjungan Kehormatan itu. Sekonyong-konyong presiden berbalik seraya berseru lantang: “Mana Pastor M.?” Tentu saja, sang pastor tidak berada di dermaga. Yang hadir di sana hanya para pejabat dan barisan tentara. Pastor M berdiri di bibir pantai untuk turut melambaikan tangan ke arah sahabat karibnya.
Pastor M pun dipanggil. Di dermaga, di depan para pejabat Indonesia, presiden mengucapkan salam pamitan nan hangat kepada teman Belandanya.
Dia suka bercanda, tak terkecuali bercanda tentang dirinya sendiri. Sewaktu presiden mengadakan kunjungan kerja ke Bali, agitasi Irian sudah sangat memanas. Rombongan juga mengunjungi Nagara, Bali Barat. Perjalanan dari Denpasar ke arah barat didahului dengan pengenalan singkat dari presiden. Di Nagara niscaya kita tidak bisa berharap mendapat gambaran budaya Bali yang khas sebanyak di Bali Tengah dan Timur. Sebetulnya, satu-satunya hal unik menyangkut Nagara adalah kenyataan bahwa di situ masih ada harimau.
Kunjungan ke Nagara berjalan sangat lancar. Pidato kepala negara, yang biasanya memakan waktu berjam-jam lamanya, hanya berlangsung sebentar dan dilanjutkan dengan makan siang nan meriah dan menyenangkan. Kami telah berkumpul di dekat mobil hendak memulai perjalanan pulang ketika presiden berbalik seraya bertanya: “Bagaimana pendapat saudara-saudara tentang Nagara?” Salah satu di antara tiga orang Belanda dalam rombongan ini menjawab: “Bagus sekali, Pak Presiden, tapi saya merasa kehilangan sesuatu!” “Apa itu?” “Utusan dari kalangan harimau untuk merebut Irian!” Hadirin pun terbahak-bahak jadinya.
Kebetulan, sebuah kabaret yang diselenggarakan oleh para wartawan yang tergabung dalam rombongan kepresidenan di atas “perahu putih” setelah kunjungan ke Morotai, juga benar adanya. Cara Rombongan Kehormatan diolok-olok di situ kiranya terbilang langka bahkan mungkin di Belanda yang modern sekalipun. Bahkan sekiranya hal itu menimbulkan perasaan tidak nyaman, para pemain kabaret toh tidak menyadarinya. Sungguh, Soekarno yang informal tidak lebih dari salah seorang teman, sebagaimana nyanyian malam yang lazim, baik dalam perjalanan maupun di istana.
Dalam rombongan kami juga ada seorang pejabat tinggi yang sangat tajam dan bisa menirukan pidato kepresidenan nan jitu.
Semuanya dimulai begitu bersahaja: salah seorang wartawan menirukan pidato singkat, yang diberikan oleh pejabat tinggi tersebut untuk memperkenalkan presiden, dan hal ini langsung bersambung, sementara presiden sendiri tidak hadir ketika permainan dimulai. Namun, sang pembicara tidak sadar bahwa selagi dia memerankan tiruan presiden dengan sangat kocaknya sang petinggi masuk dan berdiri di belakangnya turut mendengarkan. Kami, para penonton, sia-sia mencoba memberi isyarat kepadanya dengan tangat bahwa situasinya sudah tidak terkendali dan korban karikaturnya ada di antara kita. Celakanya, sang pemeran begitu tersedot oleh tingkahnya menirukan sang kepala negara sehingga tidak ada yang bisa menghentikannya. Yang jelas, “pertunjukan” ini tidak menimbulkan konsekuensi apa-apa terhadap pelakunya.
Bagaimana mulanya saya berhubungan dengan sang presiden? Hanya sekali saya bertemu “langsung” dengannya ketika, setelah saya dibebaskan dari penjara Glodok, tiba-tiba saya mendapat undangan untuk meliput kunjungan Soekarno ke Kepulauan Sunda Kecil. Saya terkejut dan sema sekali tidak senang dengan undangan ini. Pertama-tama, sudah sepuluh minggu saya jauh dari rumah, perhatian saya dan istri saya terkuras sudah oleh pekerjaan surat kabar. Lagi pula, saya sama sekali tidak suka terhadap pemerintah Indonesia yang pada akhirnya harus bertanggung jawab atas penahanan diri saya. Lantas saya menemui kepala kantor kepresidenan, teman lama saya Pringgodigdo dan mengatakan kepadanya bahwa saya menyesal harus berterima kasih atas undangannya. Pringgo menukas, “Je bent gek (Kamu gila)! Apa kamu tidak melihat rehabilitasi atas dirimu dan bukti nyata bahwa presiden tidak percaya terhadap tuduhan yang ditimpakan padamu?”
Itulah yang pertama dari serangkaian undangan: saya jadi “tamu tetap” dalam rangkaian perjalanan kepresidenan antara 1950 dan 1956. Setelah itu, saya bersama istri saya dipulangkan. Hubungan baik saya dengan kepala negara tidak dapat meyakinkan saya bahwa kegiatan menjalankan suratkabar Belanda di Indonesia bisa diteruskan. Saya menyaksikan sendiri perkembangan usaha ini dengan penuh perhatian. Lagi pula, yang terutama, kekhawatiran terhadap kemajuan komunisme membuat saya bergidik. Selain itu, konflik menyangkut Irian mengarah ke timbulnya krisis. Maka berangkatlah saya menuju Belanda, dengan berat hati, setelah 35 tahun menjalankan “tropendienst (tugas tropis)”. Waktunya tepat, ternyata. Setahun setelah kepergian saya, bom meledak tatkala kasus Irian menghentikan segala kegiatan Belanda di Indonesia.***
—
[Diindonesiakan oleh Hawe Setiawan dari kolom “Zijlicht op Een Historische Figuur” dalam Journalistieke Herinneringen (1980), bungarampai kenangan jurnalistik karya J.H. Ritman (1893-1982). Dia adalah salah seorang wartawan Belanda yang pernah bertugas dalam tim wartawan kepresidenan zaman Soekarno.]




