Terlepas dari keyakinan-keyakinan tempatan tadi, saya teringat dengan judul lagu yang sama “Emen” yang sempat menjadi hits di awal tahun 90-an, dinyanyikan oleh Yosie Lucky, penyayi perempuan asal Bandung. Nama Emen juga dikaitkan dengan kenangan-kenangan getir.
Beberapa tahun ke belakang, rute Bandung-Ciater menjadi langganan saya hampir tiap minggu, sekadar mengunjungi rumah kerabat yang terletak tidak jauh dari kawasan wisata. Melalui jalur ini, saya akhirnya familiar sekaligus penasaran dengan satu nama, Emen. Nama ini diadaptasi menjadi sebuah tanjakan di jalur tersebut, yang diadaptasi dari cerita tragis yang menyertainya.
Konon, tanjakan ini, menyisakan beberapa versi cerita kelam dimasa lalu. Kisah tentang transportasi publik kala itu dan seorang supir bernama Emen. Tokoh Emen hadir dalam beberapa versi. Pertama, ia merupakan supir yang berdomisili di Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Bahkan beberapa portal berita yang mengklaim sempat mewawancarai anak keturunannya sebagai narasumber. Ada juga versi yang mengatakan bahwa Emen ini berasal dari Ciroyom, sebuah daerah di dalam batas administratif Kota Bandung. Singkat cerita, jalur Bandung-Ciater ini menjadi trayek yang sering dilalui Emen dan opletnya pada tahun 60-an. Hingga peristiwa itu terjadi, Emen mengalami kecelakaan dalam perjalanan. Oplet yang dikendarainya terbakar, hingga menewaskan penumpang di dalamnya, termasuk Emen.
Peristiwa tersebut menandai sebuah lokasi yang masih bisa kita temui di hari ini, jika kisah Emen tadi memang benar terjadi, tentu ini bukan sekadar mitos belaka. Walaupun pengendara seringkali memercayai ini sebagai sebuah mitos dengan melakukan ritual-ritual tertentu untuk “mengingat” sosok tersebut. Misalnya, membuang puntung rokok sebagai keyakinan tempatan, diasosiasikan dengan kebiasaan Emen yang nyaris tidak lepas dari rokoknya ketika sedang mengemudi. Ada juga, memperlambat laju kendaraan sambil membunyikan klakson 3 kali. Sebagai bentuk permisi, meminta izin kepada sosok Emen serta mahluk mitologis lain yang menyelubungi tanjakan ini, agar tidak menjadikan mereka tumbal selanjutnya.
Terlepas dari keyakinan-keyakinan tempatan tadi, saya teringat dengan judul lagu yang sama “Emen” yang sempat menjadi hits di awal tahun 90-an, dinyanyikan oleh Yosie Lucky, penyanyi perempuan asal Bandung. Nama Emen juga dikaitkan dengan kenangan-kenangan getir.
Duh, Emen
Mengapa hidup ini sengsara, Emen
Sejak aku ditinggal dirimu, Emen
Hatiku jadi merana
Duh, Emen
Mengapa kau mau dikawinkan, Emen
Hidupku terasa hancur-lebur, Emen
Hatiku jadi terluka
Maunya sih aku bunuh diri, Emen
Beli racun tikus dapat ngutang, Emen
Tapi aku masih ingin hidup, Emen
Biar sakit hati ini
Emen di dalam lirik diceritakan sebagai sebuah sosok yang meninggalkan kekasihnya untuk menikah dengan perempuan lain. Saking sedihnya, sang kekasih sampai berpikir untuk mengakhiri hidupnya, meskipun tidak kunjung ia lakukan. Hingga akhirnya sang kekasih memilih untuk menanggung rasa sakit itu hingga akhir hayat.
Kehadiran nama Emen, baik dalam lirik lagu dan sebuah lokasi, bagi saya semacam sebuah monumen kekalahan manusia, atas alam bahkan takdir. Monumen sejatinya sebagai sebuah pengingat peristiwa di masa lampau, berupa bangunan fisik hingga bahasa, melalui penamaan-penamaan yang banyak kita temui di sekitar. Monumen, hadir pula sebagai wujud memori, ingatan akan sebuah peristiwa, baik individu maupun kolektif. Kaitannya dengan sejarah, ia berfungsi sebagai pengingat kegagalan di masa lalu, tidak diulangi di kemudian hari.
Bagaimana dengan nasib tanjakan Emen tadi? Sejak tahun 2018, pemerintah melalui dinas terkait menawarkan alternatif penamaan, tanjakan “Aman”. Sebuah upaya untuk menghilangkan kesan angker dan berbahayanya jalur ini ketika manusia lengah. Namun, kembali lagi, se-aman apa tanjakan dan turunan itu sekarang? Apakah dengan bergantinya penamaan lantas berakhirlah segala peristiwa-peristiwa yang sama di kemudian hari?
Pada akhirnya, saya coba untuk melihat cuilan peristiwa-peristiwa tadi sebagai pola yang berulang. Upaya-upaya ahistoris yang biasa dilakukan untuk memberikan rasa tenang yang mungkin semu. Sama halnya ketika saya mendengar istilah normal baru, lawan corona, kartu-kartu elektronik, dan segudang jargon lain. Dugaan positif saya, mungkin nama disini sebagai sebuah doa dan harapan akan masa depan yang lebih baik. Jika sebuah doa, bukankah hendaknya ia diiringi dengan usaha? ***
WIBISONO GUNA PUTRA | KOLOMNIS DAN DOSEN DKV TELKOM UNIVERSITY
image: media.istockphoto.com




