Spongebob dan Sunda Kuna

 

Saya tidak setuju dengan Ilham Nurwansah di Penelusuran Jejak Musik Instrumental dalam Naskah Sunda Kuna, yang menafsirkan gobéng di Kawih Pangeuyeukan itu dengan kolécér

Mungkin kebanyakan pembaca tahu episode SpongeHenge di serial animasi Spongebob. Alkisah di suatu pagi Sakadang Sponge terbangun karena tertimpa sebungkus nasi bungkus yang terbawa oleh angin, waktu itu Bikini Bottom dan sekitarnya memang sedang berangin dengan deras-derasnya (harap kesampingkan dulu akal normal Anda). Saya lupa detailnya. Mungkin karena penasaran Sakadang Sponge melongok dari jendela. Wah! Lihat! Seekor ubur-ubur menari-nari di sekitar dan di tubuh Sakadang Sponge. Ubur-ubur itu tergoda dengan suara merdu dari angin yang menerpa lubang-lubang di badan Sakadang Sponge. Awalnya Sakadang Sponge merasa senang, akan tetapi lama kelamaan dia merasa tidak nyaman, lebih-lebih lagi ubur-ubur yang terpikat oleh alunan tubuh Spongebob semakin bertambah banyak. Oleh karena itu ia mengungsi ke sebuah gua. Di sana dia mendapat ide membuat replika tubuhnya dengan batu yang sangat besar. Dia berhasil. Tapi gagal, tubuh batunya itu tidak menghasilkan suara yang merdu seperti tubuh dia juga. Makanya Sakadang Sponge membuat beberapa buah tubuh batu, kemudian ditata melingkar seperti situs neolitik Stonehenge di Inggris. Syahdan! maka itulah awal mulanya SpongeHenge.

Di Kanekes ada juga yang seperti “spongehenge” namanya calintuh dibuat dari bambu buluh (schizostachyum brachycladum), kalau tak salah untuk membujuk yang merajuk, Pohaci Sanghyang Asri atau Dewi Sri sang dewi padi. Jadi Pohaci Sanghyang Asri kabarnya pernah pundung. Karena saya belum terang benar tentang kisah ini, maka saya akan mengutip yang jelas-jelas saja, begini:

Sada abah kaanginkeun,
sada calintuh di anjung,
sada gobéng ta di réngkéng,
sada kumbang ta di ranjang.

berbunyi abah tertiup angin,
berbunyi calintuh di anjungan,
berbunyi gobéng di balai,
berbunyi kumbang di ranjang.

Ini petikan dari lontar sunda kuna Kawih Pangeuyeukan, calintuh sudah disebut. Anjung diartikan anjungan mungkin karena melihat kata ranjang yang berada setelahnya. Selain bermakna anjungan, anjung juga bisa berarti atas. Ini menurut saya lebih pas, mengingat calintuh biasa diletakkan di posisi teratas dari sebuah lokasi. Kecuali calintuh di naskah ini berbeda dengan calintuh yang sedang kita bahas, tapi kalau melihat kata kaanginkeun (terkena hembusan angin), calintuh yang sedang kita bahas dan calintuh yang berada dalam Kawih Pangeuyeukan ini adalah calintuh yang sama.

Di daerah lain calintuh disebut sonari atau sondari, seperti di Kasepuhan Ciptagelar, yang menarik di Bali tersebut sunari. Yang lebih menarik lagi baik di Kanekes, di Ciptagelar, dan di Bali sonari berpasangan dengan baling-baling, yang di Sunda disebut kolécér di Bali disebut pindekan. Orang Osing juga memiliki tradisi permainan baling-baling yang sama. Yang saya heran kenapa di tengah-tengah pulau Jawa tidak ada tradisi membuat baling-baling seperti kolécér? Jawabannya, bisa jadi, saya yang tidak tahu.

Permainan kolecer sebenarnya bukan permainan anak-anak–tapi orang tua di Sunda jarang yang melarang anaknya untuk bermain kolecer–karena kolecer permainan yang cukup berbahaya. Anda bayangkan saja sebuah papan kayu lebar sepuluh senti, dengan titik tertebal lima senti, dan panjang enam meter, berputar seperti baling-baling helikopter, sedikit saja ada ketidak-stabilan akan membuat papan krek! patah! dan serpih-serpihnya berhamburan menuju orang-orang yang senang dengan permainan kolecer itu, kolecer melayang, nyawa dipertaruhkan, perangkat desa yang tidak pernah peka bahwa seharusnya menyediakan ambulan di lokasi kokolécéran. Kolecer bisa digolongkan ke kaulinan (permainan), yang digemari orang dewasa di Sunda, seperti juga memancing, berburu, memelihara binatang seperti domba atau ayam pelung (ayam yang suaranya merdu), ngopeni manuk, dan lain-lain. Jika malu dimasukan pada kaulinan yang berkesan permainan anak-anak, permainan orang tua ini bisa dimasukan pada bab kalangenan, satu bab khusus dalam kebudayaan sunda yang belum pernah ditulis.

Saya tidak setuju dengan Ilham Nurwansah di Penelusuran Jejak Musik Instrumental dalam Naskah Sunda Kuna, yang menafsirkan gobéng di Kawih Pangeuyeukan itu dengan kolécér. Saya lebih setuju jika abah yang jadi kolécér, sebab abah paling terang disebut teranginkan (kaanginkeun). Réngkéng yang juga ranjang itu akan tidak efektif jika di atasnya seseorang memainkan kolecer. Ditambah, kalau tak salah, Tuan Jaap Kunst dalam Music in Java menyinggung tentang alat musik yang dinamai gobeng, serupa celempung di Sunda, yakni alat musik dari seruas bambu dengan sembilu sebagai dawainya. Nah, kalau ini baru pas ditimang di atas ranjang.

Membicarakan kolécér saya jadi ingat pertanyaan polos saya waktu sekolah di KOKAR Bandung, “Pak, saya mau tanya, apa kolécér itu termasuk alat musik?”.*

 

HADY PRASTYA | TUKANG KAYU

image: Sharm Murugiah

Picture of Redaksi

Redaksi