Fiksi menunjukkan sesuatu barangkali dengan cara berputar, melingkar, naik-turun, berlika-liku, melalui rangkaian insiden yang dialami oleh manusia konkret, yang punya darah dan daging, dan bukan manusia abstrak yang hanya ada dalam statistik.
Sebelum saya membaca Petualangan Huckleberry Finn, terbaca sebuah “peringatan” dari pengarangnya, Mark Twain. Bunyinya: “Barang siapa yang coba-coba mencari motif dari cerita ini akan didakwa; barang siapa yang coba-coba mencari pesan moral dari cerita ini bakal binasa; barang siapa yang coba-coba mencari plot dari cerita ini akan didor.”
Peringatan demikian selalu terlintas dalam benak saya setiap kali saya bertemu dengan mahasiswa sastra yang sedang menulis skripsi tentang “pesan moral” dalam novel ini atau kumpulan cerpen itu atau tentang “elemen intrinsik” dari cerita ini atau kisah itu. Malang benar nasibmu, Dik, harus mendulang butiran emas dari gundukan pasir di dasar sungai atau mengobrak-abrik perut kerang siapa tahu ada mutiara di dalamnya.
Dengan kata lain, kenapa tidak saya baca saja novelnya. Tidak usah banyak pikir. Lagi pula, kalaupun saya harus main analisis, rasanya saya tidak sanggup membuat uraian yang lebih baik daripada uraian mendiang Harold Bloom. Edun itu orang, lautan sastra dia arungi begitu rupa. Dan Mark Twain (nama pena Samuel Langhorne Clemens) beserta masterpiece-nya, Petualangan Huckleberry Finn, termasuk ke dalam seratus nama genius, “pikiran kreatif teladan”, pilihan Profesor Bloom.
Jika sesekali saya harus menemani teman-teman muda itu mengulas bacaan, saya berikhtiar untuk selalu sadar bahwa langkah demikian mengandung banyak risiko. Saya bisa “didakwa”, dibuat “binasa” atau ditembak. Saya mesti berhati-hati. Selalu ada ular di tengah semak-belukar. Jangan sampai dia mengigit kamu dalam perjalanan.
Buat saya, jauh lebih baik kalau sebelumnya orang membaca Petualangan Tom Sawyer. Biar orang tahu bagaimana ceritanya dua sekawan Tom dan Huck yang bengal itu sampai menemukan harta karun, jadi orang kaya di masa kanak, dan jadi beken di kampung halaman. Sampai-sampai ada orang yang bilang bahwa anak sehebat Tom — juga Huck, tentu saja — bisa-bisa kelak jadi presiden Amerika — sepanjang bisa menghindari hukuman gantung. Jangan lewatkan pula percakapan mereka berdua yang minta ampun kocaknya tentang harta karun atau tentang budi pekerti ksatria. Kisah Seribu Satu Malam, Don Quixote, dan Robin Hood seperti mendapatkan resonansinya sendiri di situ.
Namun, tanpa Petualangan Tom Sawyer pun tak mengapa. Huck Finn sendiri, sebagai pencerita, bilang begitu di halaman pertama. Dia pun mengatakan, “Buku Petualangan Tom Sawyer dibuat oleh Pak Mark Twain, dan sebetulnya dia menceritakan yang sebenarnya. Memang ada hal-hal yang dia otak-atik, tapi pada dasarnya dia menceritakan yang sebenarnya sih. Tapi bukan Itu soalnya. Aku tidak pernah ketemu orang yang tidak berbohong, sesekali, entah itu Bibi Polly, atau sang janda, atau mungkin Mary.”
Ringkasnya, itulah fiksi, dunia yang direka-reka sehingga tampak kebenarannya. Fiksi menunjukkan sesuatu barangkali dengan cara berputar, melingkar, naik-turun, berlika-liku, melalui rangkaian insiden yang dialami oleh manusia konkret, yang punya darah dan daging, dan bukan manusia abstrak yang hanya ada dalam statistik.
Petualangan Huck sendiri adalah rangkaian cerita rekaan di sepanjang jalan, tak terkecuali cerita rapuh yang dikarangnya ketika dia menyamar sebagai anak perempuan yang akal bulusnya mudah terbongkar. Dalam rangkaian cerita yang dikarangnya seringkali Huck lupa nama diri yang didakukan olehnya. Bagi Huck, mengarang-ngarangcerita tentang nasibnya sendiri tampaknya jadi jalan satu-satunya untuk melangsungkan perjalanannya. Dengan mengarang cerita, dia lolos dari pemeriksaan dua lelaki di sungai, dia mendapat tempat bernaung di tengah keluarga bangsawan Kolonel Grangerford, dan seterusnya.
Zaman perbudakan ikut melatari kisah ini. Sedemikian kuatnya sistem itu sampai-sampai dalam petualangannya, Huck memendam rasa bersalah karena telah secara tidak langsung membantu Jim, sahabatnya, lari dari juragannya, Bu Watson. “N-word”, yang kini tidak patut, masih dipakai dalam novel abad ke-19 ini bukan saja oleh tokoh cerita berkulit putih melainkan oleh tokoh cerita berkulit hitam sendiri.
Dialek dan logat kalangan budak dalam cerita ini menuntut perhatian tersendiri, khususnya bagi pembaca seperti saya, yang bukan penutur bahasa Inggris. Buat saya sendiri, kata-kata seperti dey (they), fambly (family), gwyne(going to), jis (just), ole (old), wid (with), dan sebagainya menimbulkan kesan bunyi yang rendah dan berat, seperti keluar dari rongga dada orang yang sedang terjangkit influenza. Yang juga terngiang-ngiang adalah perdebatan yang kocak antara Huck dan Jim seputar keragaman bahasa dan budaya yang berakhir dengan putus asa dari salah satu pembicara.
Barangkali seiring dengan lukisan perbudakan, terlihat pula lukisan lingkungan kalangan bangsawan, para juragan yang hidupnya tertib sarat etiket, dalam rumah besar penuh dekorasi, dengan tangan bersih yang memegang kitab suci di tengah tanah perkebunan dan peternakan ratusan hektar. Pada saat yang sama terlukis juga betapa hidup mereka dibayang-bayangi rangkaian cerita bunuh-bunuhan antarkeluarga, cekcok (feud) turun-temurun, dan kegilaan semacamnya.
Soal kebebasan (freedom) sudah pasti tidak bisa dilewatkan. Huck lari dari lingkungan yang sedang mendidiknya supaya jadi pria beradab, juga dari kungkungan Pap yang nista dan hidupnya tak berketetapan. Jim lari dari lingkungan majikannya, yang sewaktu-waktu bisa menjual dirinya kepada majikan lain dalam pasar perbudakan, dan berangan-angan untuk menebus istrinya dan merebut anak-anaknya dari majikan masing-masing.
Lari dari etika Kristen, juga dari sistem perbudakan, dalam bentangan sungai besar merupakan petualangan yang tak tepermanai, terlebih-lebih jika hal itu dituturkan oleh narator yang berumur belasan tahun. Pada hemat saya, umur 12 tahun adalah kisaran umur nan ideal dalam hidup manusia. Pada kisaran usia itu, seseorang, barangkali seperti Huck Finn, masih sangat leluasa untuk keluar sebentar dari dinding peradaban manusia dan melihat segala seginya tanpa banyak beban.
Sampai di situ, saya sendiri tidak mau menempuh risiko lebih jauh. Ngeri juga dengan peringatan Mark Twain tadi. Ya, sudah, baca saja ceritanya.***



