
Hanya berselang satu atau dua tahun dari masa yang sulit itulah novel ini mulai terbit. Di bagian-bagian akhir cerita ini, pengarang seakan memberikan motivasi kepada para pembacanya untuk kreatif bekerja buat berkelit dari situasi sulit.
Sumedang dan wilayah sekitarnya, seperti Dayeuhluhur, Cimalaka, dan Rancapurut, jadi latar tempat dalam novel klasik Katak Hendak jadi Lembu (1935) karya Nur Sutan Iskandar (1893-1975). Latar waktunya adalah zaman maleise alias zaman meleset atau zaman “kelam-kabut”, yakni masa-masa suram akibat krisis di Eropa di sekitar 1929-1933.
Selain wilayah Sumedang, latar tempat dalam novel ini juga meliputi Tasikmalaya, Bandung, dan Jakarta. Namun, ketiga wilayah yang disebutkan belakangan hanya jadi latar pelengkap. Sumedanglah gelanggang utamanya, tempat bagian-bagian penting dari cerita ini berlangsung.
Kisahnya sendiri — moga-moga Anda belum lupa pada bacaan sewaktu duduk di SMP atau SMA — menghadirkan Juragan Suria, seorang birokrat kecil, mantri di kantor kabupaten. Tabiat sang birokrat tinggi hati, gila hormat lagi boros, dengan angan-angan melambung bagai “katak hendak jadi lembu”.
Riwayat tokoh ini tidak kalah suram daripada maleise itu sendiri. Ia dililit utang, terdorong korupsi lantas kehilangan jabatan, ditinggal mati istrinya yang baik hati, dihalau oleh anak sendiri, dan menyesal di Rajapolah setelah segalanya terlanjur salah. Dengan kata lain, dia seakan jadi contoh seseorang yang di tengah krisis ekonomi tidak kunjung mawas diri dan tidak mau mendengar nasihat orang lain.
Tentu elok jika tokoh dan latar selaras. Sayang, pada kesan saya sekarang, keadaannya tidak (selalu) demikian. Nama-nama diri dalam novel ini memang khas Sunda seperti Suria, Édah, Aléh, Énah, Kosim, Suminta, Sastrawijaya, dan Atmadi Nata, begitu pula sapaan punten dan mangga serta panggilan seperti akang dan aceuk. Namun, tutur kata dalam dialog antartokoh sering terasa seperti datang dari ranah Melayu. Kesan begitu terasa, misalnya, dari ungkapan yang dijadikan judul novel, yang terbersit dalam percakapan antara Zubaidah dan suaminya yang sama-sama berasal dari Tasikmalaya.
Terlepas dari itu, dipilihnya Sumedang sebagai latar dalam novel ini kiranya turut menunjukkan kelebihan Nur Sutan Iskandar, salah seorang pengarang Indonesia yang paling produktif di generasinya. Sebagai pengarang yang berasal dari Sumatra, ia mencari latar kisah bukan hanya dari daerah asalnya sendiri, semisal dalam Salah Pilih, melainkan juga dari wilayah Jawa tempat ia kemudian tinggal dan bekerja, juga dari wilayah Bali seperti dalam Janger Bali.
Sumedang dalam novel ini terutama memperlihatkan wilayah perkotaan, tempat adanya “rumah bola”, “kantor gubernemen”, “oto” alias mobil, sado, sepeda, dan lingkungan tempat tinggal para priayi, tidak terkecuali kampung kota, yakni kampung Regolo tempat orang kebanyakan dan kampung Cangkudu tempat orang berada.
Sumedang di sini juga menghadirkan wilayah desa, terutama wilayah Rancapurut lengkap dengan sawah, kebun, dan kolam.
Panorama alamnya tak ketinggalan. Sumedang elok diceritakan selalu memikat pada pengunjung, khususnya kaum muda yang sedang menikmati masa liburan sekolah. “Memang di daerah Sumedang banyak pemandangan yang indah-indah, tiada kurang daripada di daerah tanah Priangan yang termasyhur permai sekalipun,” tutur sang pengarang.
Pemandangan yang diperlihatkan di situ antara lain “kota lama yang didirikan oleh Pangeran Geulan Ulun di atas sebuah bukit dalam permulaan abad keenam belas, Dayeuhluhur namanya”. Disebutkan pula gunung-gunung elok di sekelilingnya, terutama Tampomas. Disebut-sebut pula sebuah tempat pemandian umum di dekat Cimalaka.
Pengaruh zaman meleset terhadap Sumedang, sedikit banyak, tercermin dalam pandangan priyayi tertinggi yang tampil dalam novel ini, yakni Patih Atmadi Nata. Ketika Raden Suria, bawahannya, mengemukakan niatnya untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya, sang patih menasihati sang mantri agar menimbang-nimbang keadaan yang sukar.
“Den Suria, sebelum mengeluarkan perkataan itu, sudahkah Mantri berpikir habis-habis dahulu? Sebab mesti ingat situasi sekarang, musim segala susah. Kalau pekerjaan sudah lepas dari tangan, jangan diharap akan dapat kembali. Berapa banyaknya orang yang terlantar sekarang ini? Pada segala golongan: orang pandai-pandai tidak mendapat pekerjaan, menganggur; orang dagang merugi atau tak maju dagangannya; orang tani … Mantri selalu membaca rapor-rapor kesusahan di desa-desa dewasa ini, bukan? Mantri tahu bagaimana susahnya kita menjalankan perintah pada masa ini, bagaimana sukarnya memungut pajak, karena rakyat hampir tak dapat makan lagi. Dalam waktu semacam ini Mantri hendak meletakkan jabatan? Tidak sayangkah akan anak-anak?” begitu antara lain nasihat sang patih.
Hanya berselang satu atau dua tahun dari masa yang sulit itulah novel ini mulai terbit. Di bagian-bagian akhir cerita ini, pengarang seakan memberikan motivasi kepada para pembacanya untuk kreatif bekerja buat berkelit dari situasi sulit. Ijazah atau kedudukan sosial bukan lagi pertimbangan utama. Yang terpenting di masa itu adalah “terlepas dari bahaya nganggur dan lapar”. Adapun tokoh kita, Raden Suria, akhirnya meninggalkan Sumedang, menumpang di Bandung, cari kerja lagi di Jakarta, lalu menyesal di Tasikmalaya, dan dari situ entah pergi ke mana lagi.***



