Sunmori dan Negeri yang Pemaaf

 

 

Mensana in Corpore Sano di dalam tubuh yang sehat bersemayam jiwa yang kuat. Udara pagi di Hari Minggu yang segar, bisa membuat pikiran jadi cerah, begitu kira-kira prinsip yang dianut para penyuka sunmori.

Kata sunmori, yang entah kenapa belum ada di KBBI ini sering terdengar hari-hari ini. Sunday Morning Ride alias sunmori ini adalah kata yang digunakan oleh teman-teman pengendara motor atau mobil untuk membahasakan kegiatan mereka ketika bersepeda motor pada Hari Minggu pagi. Bahkan banyak juga blogger atau vlogger yang menggunakan kata sunmori untuk menandai kegiatan mereka saat “sunday morning” itu.

Dari data yang berserak bebas di internet, saya temukan setidaknya beberapa sejarah yang kira-kira menarik untuk diceritakan disini. Sunmori ini awalnya dilakukan oleh pengendara motor besar (moge) dan motor modifikasi, bisa dilakukan secara sendiri atau bersama-sama. Ada juga yang melakukannya di Hari Sabtu yang otomatis mengubah nama kegiatannya menjadi satmori singkatan dari Saturday Morning Ride.

Apa yang harus disiapkan untuk melakukan kegiatan ini? Ya, sudah barang tentu alat berkendara, boleh jenis kendaraan bermotor apapun, tidak harus moge ataupun motor modifan. Mensana in Corpore Sano, di dalam tubuh yang sehat bersemayam jiwa yang kuat. Udara pagi di Hari Minggu yang segar, bisa membuat pikiran jadi cerah, begitu kira-kira prinsip yang dianut para penyuka sunmori. Apalagi sesudah kehidupan penuh rutinitas selama 1 minggu penuh.

Apakah ada kontroversi tentang sunmori? Sudah barang tentu, belum lagi soal polusi, baik udara ataupun suara. Knalpot bising dan asap yang dihasilkan bila dikonversi dalam hitungan tertentu menurut ilmu pengetahuan modern pastinya melahirkan angka-angka yang akan mengejutkan kita bersama. Tapi sudahlah, masih banyak lagi kegiatan yang menghasilkan polusi lebih dari sunmori. Lagipula, kita semua punya cara bersenang-senangnya masing-masing, asal tidak mengganggu sesama maka apapun bisa terjadi di negeri tercinta kita ini. Toh, kita memang sudah ditakdirkan menjadi negeri yang pemaaf, bukan?

Namun, sama halnya dengan kegiatan-kegiatan lain yang dilakukan secara beramai-ramai di Indonesia, pada awalnya pastilah baik-baik saja, tapi akhirnya selalu ada saja pihak-pihak yang melakukannya dengan cara berbeda hingga akhirnya mengubah suasana yang tadinya aman, damai, gemah ripah loh jinawi ini. Telusuri saja berita “sunmori viral” yang menerobos area ring 1 Istana Negara hingga akhirnya paspampres harus mengambil tindakan. Entah apa motifnya, yang pasti si pengendara sudah meminta maaf setelah diamankan ke Polda Metro Jaya.

Mari cerita tadi kita jadikan bahan renungan bersama. Eh tapi sebentar dulu, apa yang sebenarnya bisa kita renungkan dari peristiwa sunmori viral itu? Kalau dari sisi si pengendara jelas dia sudah mengutarakan permohonan maaf, sementara dari sisi paspampres tentu beliau hanya menjalankan tugas sebagaimana mestinya. Apalagi dari sisi presiden kita, bisa jadi beliau malah tidak tahu menahu atas apa yang sedang terjadi di dekat istananya itu.

Jadi, bolehlah saya merenungi dari sudut pandang bangsa yang dikenal menjunjung tinggi nilai-nilai adat budaya dan sopan santunnya. Sunmori jelas harus segera diupayakan masuk ke dalam KBBI, agar semua pihak bisa memahami apa sesungguhnya semangat yang diusung oleh para pegiat sunmori itu.

Lalu, bila perlu, kita harus merenungi kembali sebelum memaafkan kejadian sunmori viral di Hari Minggu yang cerah itu. Kenapa? Karena sesungguhnya masih banyak yang harus kita maafkan sebagai bangsa, mengingat banyaknya peristiwa-peristiwa yang jauh lebih besar dan menuntut rekonsiliasi kita sebagai bangsa dari negeri yang pemaaf ini. ***

Kedai Jante, 2 Maret 2021

FITRA SUJAWOTO | KOLOMNIS

Ilustrasi: Adam Rizki Taufiq

 

Picture of Redaksi

Redaksi