Ke Cicaléngka, Menggambar Ingatan

“Kereta berangkat jam sembilan dua belas,” ujar Mang Hafidz kepada kami begitu turun dari taksi daring di Cikudapateuh. Di dekat stasiun kecil itu ada sejumlah jalan kecil yang namanya diambil dari nama bunga, misalnya Centé (ditulis “Centéh”), Pacar, Érgulo, dll. Membaca nama-nama jalan di “daerah perdu” sepanjang rel Cikudapateuh seperti mengingat bunga-bunga di taman dan […]