The Room 19: Perpustakaan Mandiri di Tengah Hiruk-Pikuk

Suasana di The Room 19. (Foto: Ratu Anita).

Saban sore di Jalan Dipatiukur selalu penuh dengan hiruk-pikuk. Jalanan ramai oleh orang-orang yang sibuk berburu takjil untuk berbuka puasa. Para pedagang mulai menata lapaknya, sementara para pembeli berlalu-lalang, memilih kudapan untuk mengakhiri puasanya.

Di tengah deretan toko dan kafe yang menghiasi ruas jalan ini, terdapat sebuah ruangan di lantai 2 bernama The Room 19. Ruangan ini merupakan perpustakaan mandiri yang menawarkan kenyamanan untuk mengerjakan tugas, atau sekadar tenggelam dalam halaman-halaman buku dari berbagai genre. Berada di Jalan Dipatiukur No. 66 C, Kota Bandung, tempat ini menjadi oasis kecil bagi mereka yang mencari ketenangan di antara riuhnya senja Ramadan.

Hasil kreativitas di The Room 19. (Foto: Ratu Anita).

The Room 19 ialah satu dari sekian perpustakaan mandiri yang ada di Kota Bandung. Di sini terdapat berbagai fasilitas yang disajikan sesuai segmentasi. Untuk pelajar, misalnya, dikenakan tarif Rp25000, sementara untuk umum dipatok dengan biaya Rp35.000. Sistemnya terbagi dalam tiga sesi: sesi A dari pukul 08.00-12.00, sesi B dari pukul 12.00-16.00, dan sesi C dari pukul 16.00-20.00. Saya sendiri biasa menghabiskan waktu menjelang berbuka dengan mengerjakan tugas di sini, sehingga saya tertarik memilih sesi C sebagai waktu yang paling pas.

Selain itu, fasilitas yang ditawarkan pun cukup lengkap. Ada akses Wi-Fi, rak-rak buku dari berbagai genre yang bisa dibaca bebas, free flow tea, art supply bagi mereka yang ingin menuangkan kreativitas, serta loker untuk menyimpan barang agar lebih aman dan nyaman. Selama Ramadan, tempat ini juga menyediakan takjil gratis berupa sepotong bolu dan kurma. Jadi jangan khawatir untuk memilih ngabuburit di sini.

Saya sempat berbincang dengan pengelola The Room 19. Sebut saja Bintang (22). Selama Ramadan, Bintang menyebut The Room 19 mengadakan kegiatan pesantren kilat. Kegiatan tersebut bekerja sama dengan pengurus Masjid Salman Institut Teknologi Bandung (ITB) dan berlangsung setiap Jumat dan Sabtu sore sambil menunggu berbuka puasa.

Salah satu meja yang tersedia di The Room 19. (Foto: Ratu Anita).

Sebagai ruang literasi, The Room 19 terbilang unik. Bintang mengungkapkan bahwa The Room 19 memiliki daya tarik tersendiri sebagai tempat bertukar gagasan dan kreativitas lainnya. Selain sering mengadakan event khusus sepert sanlat, tempat ini juga membuka peluang kerja sama dengan komunitas untuk mengadakan berbagai acara menarik. Salah satunya acara journaling yang digelar oleh komunitas. Dengan menampilkan kegiatan bersama komunitas, The Room 19 lebih sekadar tempat membaca, tetapi sekaligus menjadi ruang untuk berbagi kreativitas dan gagasan.

Hal lain yang membedakan The Room 19 adalah kebebasan dalam menikmati makanan dan minuman. Jika beberapa perpustakaan di Bandung melarang pengunjung untuk makan di dalam ruangan, The Room 19 justru menyediakan berbagai sajian kudapan. Dengan demikian para pengunjunng bisa membaca buku sambil menikmati camilan, teh, atau kopi.

Salah satu buku yang tersedia di The Room 19, yakni buku yang ditulis oleh Tan Malaka. Bintang merekomendasikan Madilog karya Tan Malaka kepada saya. Madilog sendiri merupakan singkatan dari Materialisme, Dialektika, dan Logika. Menurut Bintang buku ini menarik untuk dibaca karena dapat mengubah pola pikir dan mengajarkan kita agar berpikir lebih rasional dan kritis.

Setelah berbincang singkat, Bintang kembali melanjutkan aktivitasnya, sementara saya kembali tenggelam dalam mengerjakan tugas. Sesekali, mata saya tertarik pada deretan buku di rak dekat meja, mengambil dan membaca beberapa halaman dari buku yang terlihat menarik.

Azan Magrib berkumandang. Saya menikmati takjil gratis yang telah disediakan berupa sepotong bolu dan kurma seraya menyesap kesegaran air kelapa kemasan yang saya beli di tempat ini.

Waktu perlahan bergeser ke pukul 19.00, menandakan sesi belajar saya di perpustakaan mandiri ini harus berakhir. Suasana The Room 19 masih hangat dengan cahaya lampu dan aroma teh yang tersisa. Dengan langkah ringan saya meninggalkan tempat ini, membawa pulang tidak hanya tugas yang hampir selesai, tetapi juga ketenangan setelah ngabuburit bersama buku. Kini, saatnya pulang dan menikmati makan malam, menutup hari dengan kehangatan yang berbeda.

 

Editor: Hafidz Azhar

Picture of Ratu Anita

Ratu Anita

Mahasiswi Sastra Inggris, Unpas. Saat ini menjadi reporter di hanyawacana.id.