Tibalah Kita pada Tulisan ke-100!

 

 

Toh setiap wacana, pasti saja akan memantik wacana lainnya, hingga suatu waktu mungkin ada yang memutuskan untuk membuatnya menjadi sebuah tindakan nyata.

 

 

Belum sempat rasanya kami bercerita tentang bagaimana laman ini bisa terjadi. Tapi juga jangan membayangkan bahwa cerita ini akan dipenuhi dengan bualan kisah bagaimana kami merancang strategi agar suatu saat media massa atau kini lebih trendi dengan sebutan new media ini akan menjadi media bergensi di bumi nusantara. Kisah laman ini benar-benar tidak dimulai dari hal-hal semacam itu, atau bahkan juga tidak diawali dengan menganalisa secara mendalam berbagai laman media daring lainnya yang sudah canggih begitu rupa. Memanglah mungkin berbagai strategi itu seharusnya dibahas dahulu sebelum memulai, tapi kami merasa itu bukan kemungkinan yang gembira bila dibahas terlalu serius dan njelimet.

 

 

Lalu bagaimana merumuskan gaya tulisan para penulisnya? Ya tidak perlu pakai rumus juga, selama dirasa tulisan itu bagian dari merapikan sekaligus mengawetkan pikiran sang penulis serta disajikan dengan cara sehari-hari tapi padat berisi, maka akan kami tayangkan tanpa suntingan dan pertimbangan yang terlalu ndakik-ndakik. Tentu pada mulanya kami memikirkan siapa saja yang akan menulis di laman ini, tapi itu pun tidak terlalu susah untuk dipikirkan, karena sesungguhnya kami-kami ini juga suka menulis pula dan ada saja catatan tentang keseharian yang timbul karena rutin berceloteh sambil ditemani beberapa gelas kopi. Jadi, bila sebelumnya ocehan kami itu hanya direkam oleh ampas kopi, maka sudah waktunya disimpan lebih awet pada semacam website yang tampak menyenangkan dan berwarna-warni.

Baiklah, cukup bercerita tentang kenapa hanyawacana.com bisa terjadi, mari kita kembali pada bagaimana hanyawacana.com ini diawali. Sama halnya dengan berbagai alasan yang cukup santai tadi, maka terjadinya pun juga sesantai itu. Di suatu sore yang berhujan, tiba-tiba tercetus pikiran untuk membuat satu wadah yang bisa mengumpulkan tulisan dan catatan kami. Dan kenapa bernama hanyawacana? Tentu saja itu berkesesuaian dengan akronim nama dari sesepuh kami, yaitu Kang Hawe Setiawan, yang sesungguhnya namanya juga berasal dari akronim lainnya, yaitu Haji Wawan Setiawan, lalu disingkat menjadi HW alias Hawe. Dari situ pulalah Hanya Wacana yang kalau disingkat adalah HW, lagi-lagi alias Hawe.

“Wah menarik itu! aku kan memang hanya wacana dalam artian sesungguhnya.” Celoteh Kang Hawe yang lalu disambut gelak tawa kami semua. Apalah arti wacana, begitulah kira-kira kesan kata wacana dalam keseharian kita. “Ah maneh mah wacanalah!” atau “lo mah wacana mulu brad!” yang seolah-olah ketika diksi itu terlontar pada kita, maka kita adalah semacam orang yang banyak bicara tapi tidak ada kerjanya, sibuk berkata-kata tapi selalu lupa berkarya. Apalagi kanal media ini juga diimbuhi dengan awalan kata “hanya”, maka sudah bisa dipastikan ini adalah semacam kumpulan tulisan yang cuma bisa berwacana tanpa tindakan nyata.

Tidak ada yang salah dengan pandangan itu, karena memang satu kata bisa beragam makna, dan tetap saja harus ditanggapi dengan gembira. Di sisi lainnya, kata wacana juga dibebani oleh konsep yang besar-besar, sebut saja Foucault dengan konsep wacananya, atau para pengamat studi politik internasional yang melihat situasi global hari ini sebagai perang wacana, atau juga amatan para penstudi sejarah yang melihat bahwa negara kita ini dibangun atas dasar sebuah wacana yang begitu besar dan dahsyat. Jadi, mereka seolah-olah ingin mengatakan bahwa tindakan tanpa diawali sebuah wacana maka pastilah bukan sesuatu yang bermakna apa-apa.

Dan dimanakah posisi hanyawacana.com dalam keriuhan pemaknaan kata wacana yang seringkali dianggap “hanya” itu? Tentu tanpa berniat glorifikasi berlebihan atas perjalanan kami hingga sampai ke tulisan ke-100 ini, maka menanggapi kata wacana yang dianggap remeh temeh atau sebaliknya dianggap serius dan luar biasa itu, kami hanyawacana.com akan senantiasa tidak kemana-mana dan menulis apa saja dengan gembira. Toh setiap wacana, pasti saja akan memantik wacana lainnya, hingga suatu waktu mungkin ada yang memutuskan untuk membuatnya menjadi sebuah tindakan nyata. Selamat bergembira dan sampai jumpa di tulisan ke-101!

 

FITRA SUJAWOTO | PEMERHATI PARIWISATA DAN APA SAJA

 

Picture of Redaksi

Redaksi