“Saya ingin mengarsipkan kenangan, bukan hanya sekadar barang,” ujar Yadi Suryadi (44), pemilik Toko Kenangan Asyik yang menjelaskan asal-usul nama tokonya itu. Toko yang terletak di Jalan Binong Jati No. 152, Kota Bandung ini lebih dari sekadar tempat jual beli barang lawas. Di sini, para pengunjung dapat menemukan kaset, piringan hitam, buku-buku bekas, sekaligus dapat melihat upaya untuk menjaga dan melestarikan sejarah musik Indonesia, terutama pada era 90-an.
Bermula dari sebuah hobi, pada 2015 Yadi memulai perjalanan bisnisnya dengan membuka toko bernama Second Music Merch. Toko tersebut berfokus pada penjualan barang-barang musik second-hand, seperti kaset dan piringan hitam. Kedua barang itu berasal dari koleksi pribadi yang dikumpulkan sejak sekolah menengah atas. “Koleksi musik awalnya berasal dari barang pribadi saya. Saya mulai mengoleksi kaset sejak SMA dan beberapa kaset yang saya beli bahkan langsung dari tahun rilisnya,” tutur Yadi.

Pada tahun 2021, nama Second Music Merch berganti menjadi Toko Kenangan Asyik untuk menggambarkan perubahan visi dan ekspansi produk. Toko Kenangan Asyik tidak hanya menjual segala yang bernuansa musik, tetapi juga buku-buku dan barang-barang nostalgia lainnya. Yadi meyakini dengan menjual bahan bacaan dirinya turut mengembangkan dunia literasi.
“Dulu, toko ini hanya menjual produk fisik musik, tapi sekarang kami juga menyediakan buku dan majalah. Ini untuk mengembangkan literasi, bukan hanya untuk musik saja,” tambah Pak Yadi.
Memperoleh Barang Lawas
Untuk memperoleh barang lawas itu, Yadi aktif berburu di berbagai lapak, dari penjual barang bekas, tukang loak, hingga pada teman-teman angkatan 90-an. “Belum banyak yang sadar bahwa barang-barang koleksi itu sebenarnya sangat berharga. Kadang orang tidak tahu nilainya, tapi nanti suatu saat, barang itu bisa menjadi sangat bernilai,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa barang-barang langka dan bernilai seringkali sulit didapatkan kembali jika sudah terjual.
Salah satu barang yang paling unik yang pernah dijual di toko ini adalah kaset dari band Superkid, yang merupakan proyek kedua atau ketiga dari Deddy Dores dan Ahmad Albar. Kaset ini terjual dengan harga yang cukup tinggi karena langka dan memiliki nilai sejarah yang penting.
Yadi juga menyadari pentingnya pengarsipan untuk melestarikan barang-barang koleksi yang dimilikinya. Sebab, bagi Yadi, itu akan memengaruhi nilai jual kepada para kolektor.
“Salah satu hal yang akan meningkatkan nilai dari barang-barang ini adalah pengarsipan. Ini penting agar barang-barang yang kita jual tidak hilang begitu saja. Jika kita tidak hati-hati, kita bisa kehilangan barang tersebut, karena kolektor sejati jarang sekali menjual kembali koleksi mereka,” jelasnya.
Merawat Kenangan
Toko Kenangan Asyik tidak hanya berfungsi sebagai tempat jual beli, tetapi juga sebagai ruang untuk melestarikan kenangan. Yadi seringkali berbicara tentang koleksi kaset nasyid yang menjadi bagian dari sejarah musik Indonesia. “Beberapa koleksi kaset nasyid datang dari Malaysia dan beberapa di antaranya merupakan koleksi yang sangat berharga, bahkan setelah bertahun-tahun, kaset-kaset tersebut dibeli kembali oleh pemilik aslinya,” tutur Yadi.
Melalui aktivitasnya itu Yadi pun mempunyai mimpi besar untuk membangun Rumah Arsip Musik Bandung. Tempat ini ia yakini sebagai ruang yang akan menyimpan dan merawat koleksi musik lawas dan menjadi museum musik pertama di Bandung.
“Di Bandung belum ada museum musik. Banyak kolektor yang sudah meninggal dan koleksinya hilang begitu saja. Kaset-kaset itu sering kali berakhir di loak, dihancurkan dan hanya plastiknya yang dijual kiloan. Saya berharap suatu saat, ada tempat yang bisa mengabadikan koleksi-koleksi ini, seperti Lokananta di Solo,” kata Yadi.
Yadi berharap dengan adanya museum musik, koleksi-koleksi berharga bisa diwakafkan dan dijaga untuk generasi mendatang. Lebih jauh tempat itu, bagi Yadi, bisa mengedukasi masyarakat melalui musik.
“Rumah arsip ini akan menjadi tempat untuk menghargai karya-karya musik lokal yang terlupakan dan memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal sejarah musik Indonesia lebih dalam,” tambahnya.
Yadi menyadari di Indonesia masih kekurangan perhatian terhadap pengarsipan. Menurutnya, banyak pihak dari luar negeri malah lebih perhatian untuk melakukan pengarsipan barang-barang lawas.
“Sebagian besar pengarsipan dilakukan oleh pihak luar negeri dan itu yang saya coba dorong di sini. Pengarsipan bukan hanya penting untuk melestarikan barang, tetapi juga untuk memberi penghargaan terhadap sejarah,” tuturnya.
Yadi pun terus berusaha menjaga dan melestarikan kenangan-kenangan masa lalu melalui Toko Kenangan Asyik. Ia percaya bahwa setiap barang yang ia jual bukan hanya sekadar benda, tetapi bagian dari sebuah sejarah yang patut untuk dikenang dan dijaga.
Editor: Hafidz Azhar



