Vespa: Satu Rasa Sejuta Saudara

Vespa Super sebelum dimodifikasi. (Foto: Dicky Purnama Fajar).

Super 150, si Biru yang kini usang dengan cat yang mulai pudar, dahulu sama sekali tidak pernah dilirik. Kendaraan rakyat yang satu ini identik dengan tunggangan untuk belanja sayur ke pasar. Namun, lain dulu lain sekarang. Saya menemukan dia dalam keadaan tergolek pada tahun 1997, terparkir di depan kantor Kelurahan Sukajadi, Gang Erin. Tepatnya di samping SMP 15 Bandung. Badannya mulus tanpa ada noda sedikit pun. Mirip sama seseorang yang sedang lemas tak Bertenaga dan dehidrasi.

Setelah berpikir panjang, vespa tua itu coba saya selamatkan. 700 ribu untuk anak seumuran saya pada waktu itu, cukup mahal. Bahkan, saya harus membongkar kaleng celengan yang sudah tersimpan 7 tahun lamanya.

Sedikit demi sedikit vespa itu saya coba perbaiki, tapi tetap tidak bertenaga. Malah terkadang, sama sekali tidak bergerak. Solusi terakhir: mesinnya diturunkan, lalu dibelah menjadi dua, dikembalikan lagi ke setelan pabrik oleh dua montir andalan yang sudah tersertifikasi dari PT Dan Motor; Munir dan Napih. Dua bersaudara inilah yang memberikan napas baru serta asupan nutrisi buat Vespa yang satu ini. Sehingga kemudian, dapat bertahan sampai sekarang.
Kini usianya mulai senja. 55 tahun umurnya, dan dia masih tetap prima tanpa kendala. Bahkan, nyaris 28 tahun si Super ini menemani ke mana pun saya beraktivitas. Kalau lelah, itu satu hal yang wajar. Maka kami akan menepi sejenak di pinggir jalan, menunggu mesin dingin atau sekadar mengganti busi yang mulai menghitam karena kelebihan oli samping—kadang oli samping yang dimasukkan ke dalam tangki bensin kelebihan takaran.

Menurut catatan sejarah, Vespa merupakan legenda skuter di dunia. Digagas oleh pria berkebangsaan Italia bernama Enrico Piaggio. Pada tahun 1946, Piaggio mengajak rekannya, Corradino d’Ascanio—seorang perancang pesawat tempur ampibi dari kota Milan—untuk menciptakan kendaaraan roda dua berbahan pelat baja. Maka terciptalah prototipe Vespa yang unik: kendaraan yang menyerupai seekor tawon. Inilah kekhasan model yang terus dipertahankan sampai sekarang.

“Lebih baik naik Vespa dari Cimahi Ke Bandung”, ternyata bukan hanya slogan saja. Itu memang benar adanya. Vespa, adalah motor yang sangat nyaman untuk digunakan. Vespa bukan hanya cerita, tapi sebuah realita.

Kini banyak sekali bermunculan komunitas pecinta motor lansiran kota Milan ini. Bahkan saking banyaknya, nilai persaudaran bisa dijalin di jalanan tanpa saling mengenal satu sama lain. Minimal, saling memberi ucapan salam dengan cara mengganggukkan kepala atau sekadar mengangkat tangan. Lebih jauh, itu adalah simbol ungkapan rasa kebersamaan dan persaudaraaan yang erat.

Terkadang saya merasa heran. Ketika sedang melintas di jalanan dan kebetulan berpapasan dengan anak-anak sekolah dasar, mereka akan langsung mengangkat tangan dan hormat pada pengendaranya. Entah fenomena apa ini. Apakah mereka kagum dengan Vespa tua ini, atau mereka menghargai bentuk solidaritasnya, atau imbas dari kampanye sosial media yang masif, saya tak tahu. Yang pasti, hal itu sangat menyenangkan.

Pecinta Vespa makin hari makin bertambah. Bukan hanya pria saja, tapi kaum hawa pun mulai mengendarainya. Bahkan kini, Vespa menjadi bagian yang mendukung dunia fesyen yang identik dengan kesan vintage-nya. Hal itu berpengaruh besar terhadap nilai ekonomi. Dan makin hari, harga pasaran Vespa terus melambung tinggi.

Dengan makin menjamurnya komunitas Vespa, maka setiap setahun sekali pada bulan Mei, selalu diadakan acara riding bareng sebagai ajang berkumpul dengan sesama penggemar motor tua. Acara ini dinamai Moods Maydays. Biasanya, aktivitas yang dilakukan ketika berkumpul adalah aktivitas yang bersandar pada visi untuk membangun solidaritas dan kebersamaan dalam suatu persaudaraan.

Ada yang menarik. Pada tahun 2022, seluruh pecinta vespa mengadakan touring ke Bali dalam acara Vespa World Day. Peserta dari 16 negara berkumpul di Pulau Dewata, tepatnya di Nusa Dua. Di antaranya ada dari Amerika Serikat, Australia, Austria, Jerman, Italia, Jepang, Malaysia, Filipina, Inggris, Spanyol, Yordania, Vietnam, Perancis, Finlandia, Macedonia, dan Meksiko. Selama tiga hari, Pulau Dewata menjadi lautan vespa. Bermacam komunitas hadir di sana, memperlihatkan motor kesayangannya.

Hal itu mungkin hanya bisa terjadi satu kali dan tidak terulang lagi. Karena setiap tahun, gelaran tersebut harus pindah dari satu negara ke negara lainnya. Dalam acara tersebut, puluhan ribu Vespa membaur menjadi satu dalam balutan tali persaudaraan. Bermacam-macam ragam vespa berkumpul. Dari mulai yang klasik sampai modifikasi. Semua menyatu dalam kebersamaan. Jelas, Vespa bukan sekadar alat transportasi saja. Lebih dari itu, Vespa ternyata bisa membangun sebuah cerita.

 

Editor: Ridwan Malik

Picture of Dicky Purnama Fajar

Dicky Purnama Fajar

Sehari-Hari mengajar di Jurusan Desain Komunikasi Visual, Unpas, dan juga membantu jalannya siniar Hanya Wacana.