Kata Mang Yayat, pembaca dan “pembéca” setara di hadapan Allah SWT. Yang membedakan mereka, selain tingkat ketakwaan, hanya ukuran betis. Karena saya suka menggenjot sepeda, saya berharap betis saya seperti betis tukang becak. Dengan harapan itu, dan atas izin Allah, boleh dong di sini saya berbagi surat “pembéca” buat pikiran Yayat sebagai ungkapan terima kasih atas humor yang tersaji dari pikirannya.
Humornya terkumpul dalam buku Mikiran Yayat (2013). Tulisan-tulisan itu tadinya diumumkan melalui blog pribadi sejak 2011. Publikasi ulang tulisan-tulisan itu dalam bentuk buku dua tahun kemudian membuktikan adanya minat baca — dan mudah-mudahan minat beli buku — humor yang dia sajikan. Desain buku serta testimoni dari beberapa penulis terkenal pada sampulnya turut mewartakan bahwa buku yang satu ini dimaksudkan sebagai buku humor pula. Blognya sudah lama saya ketahui tapi bukunya baru saya baca akhir-akhir ini. Maklumah saya hanya mengandalkan pelapak buku bekas di Jalan Kautamaan Istri. Buat saya, buku bekas sama dengan buku baru, setidaknya bukan bekas buku.
Penulisnya menamakan diri Mang Yayat. Sapaan “mang“, tentu, berasal dari “emang” atau “mamang” yang dalam bahasa Sunda berarti “paman”. Dengan begitu, para pembaca humor adalah keponakan penulis. Nama Yayat juga merupakan nama khas Sunda, mungkin disingkat dari Asep Dayat atau Cece Hidayat. Nama orang Sunda lazimnya tolong-menolong semisal Dada Rosada atau Wawan Setiawan. Sayang, nama lengkap penulis yang satu ini tidak diberitahukan. Mungkin juga namanya memang semata Yayat, sesingkat nama Darpan dalam sastra Sunda. Boleh jadi, Mang Yayat adalah nama samaran seperti nama orang yang menulis komentar ini.
Sang penulis menyebut tulisan-tulisannya sebagai “wadul“. Dalam bahasa ibu saya, wadul berarti “bohong”. Adapun “ngawadul” selain bisa berarti “berbohong”, bisa juga berarti “mengobrol” atau mengobral wadul. Namun, ngawadul seperti yang dilakukan Mang Yayat sama sekali tidak seperti menebar hoaks. Hoaks merupakan disinformasi atau informasi palsu yang disebar buat menipu atau mengibuli orang. Wadul seperti yang dibuat Mang Yayat dimaksudkan buat menghibur dan dinyatakan secara jujur bahwa isinya memang wadul.
Bentuk humor yang diandalkannya adalah parodi atas Pikiran Rakyat (PR), surat kabar harian yang sempat mapan di Jawa Barat. Nama, semboyan, jargon, rubrikasi, dan maskotnya merupakan cerminan dari koran tersebut. Nama “Yayat” niscaya merupakan plesetan dari sebutan “rakyat”, dan nama “Yayat” sebetulnya lebih konkret ketimbang sebutan abstrak “rakyat”. Karakterisasi Mang Yayat, yang visualisasinya bercermin pada citraan Mang Ohlé milik PR, menegaskan bahwa dirinya bercita-cita jadi wartawan internasional tapi tidak terampil berbahasa Inggris. Walhasil, humornya bergaya jurnalistik seperti berita surat kabar: mengangkat isu aktual, mengutip keterangan narasumber, dan menyoroti segi-segi peristiwa. Dalam buku ini hanya ada satu tulisan yang dinyatakan sebagai “cerpen”, dan itu pun tidak kurang jenakanya.
Parodi jurnalistik, tentu, sudah jadi hiburan yang lumrah, dan biasanya kita nikmati dalam siaran radio dan televisi. Adapun dalam bentuk tertulis, apalagi di Jawa Barat dan sekitarnya, mungkin baru Mang Yayat yang sanggup membuatnya.
Tekniknya, tentu, bisa dan patut dipelajari. Yang paling kentara adalah teknik plesetan, terutama dengan memelesetkan nama orang dan istilah macam-macam. Contohnya nama presenter horor Hari Panca jadi Hari Pancaroba atau nama pakar seks Naek L. Tobing jadi Naik L. Tigaratus. Contoh lain, itu tadi, istilah “pembaca” menimbulkan istilah “pembéca”, sebagaimana istilah “valid” dibawa hanyut ke dalam pengertian istilah “palid” dalam bahasa Sunda.
Sisipan ungkapan atau idiom dari bahasa Sunda memperkaya teknik demikian, bahkan merupakan salah satu kekuatan humornya. Saking kentalnya sisipan itu, sampai-sampai editor buku menyediakan ruangan buat sejumlah catatan kaki yang, buat saya sih, tidak selalu perlu. Selain memperlihatkan warna lokal — katakanlah begitu –, ciri khas ini kiranya juga konsisten dengan karakterisasi wartawan gagal yang skor TOEFL-nya jeblok.
Ciri ketiga, sudah pasti, main ironi. Dalam urusan ini, Mang Yayat bukan hanya jenaka, melainkan juga cerdas. Contohnya adalah keberadaan Hotel Hésé Héés atau usulan buat Mark Zuckerberg agar dalam facebook tersedia fitur permintaan bertengkar.
Dengan tema humor yang diangkat dari berita-berita dalam surat kabar, mulai dari isu politik hingga isu ekonomi dan hiburan, sang penulis memperlihatkan keterampilan story telling yang terlatih. Kelancaran alur ceritanya cenderung mengandalkan logika plesetan pula. Misalnya, untuk memelesetkan Hari Panca menjadi Hari Pancaroba, dia bercerita tentang sang presenter yang kesurupan di tempat syuting, dan karena penanganan dukun yang kurang tepat suhu badannya jadi berubah-ubah di luar dugaan.
Ada dua hal yang membuat saya penasaran. Pertama, apakah pembaca yang tidak kenal bahasa Sunda bisa sepenuhnya menikmati humor Mang Yayat? Saya tidak tahu. Saya harap sih bisa. Kalau tidak, catatan kaki yang cukup banyak itu kiranya tidak akan banyak membantu, malah hanya akan merintangi alun pembacaan. Yang pasti, Mang Yayat telah membuktikan kesanggupannya mempopulerkan ungkapan atau idiom Sunda kepada khalayak pembaca berbahasa Indonesia.
Apakah keberadaan “media warisan” (legacy media) seperti Pikiran Rakyat dapat dianggap syarat tersendiri bagi keberadaan humor seperti yang diolah Mang Yayat? Taruh kata — tapi moga-moga tidak sih — kelangsungan hidup surat kabar Pikiran Rakyat sampai tamat. Konsekuensinya bagi Mikiran Yayat pasti akan seperti hilangnya cermin bagi orang yang suka berkaca. Setidaknya, kejenakaan semboyan “dari Yayat, oleh Yayat, untuk Yayat” juga kejenakaan jargon “beritanya dapat dicangcaya” akan berkurang jika orang tidak ingat lagi akan semboyan “dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat” serta jargon “beritanya dapat dipercaya”.
Demikianlah “surat pembéca” dari saya. Kepada redaksi “Hanya Wacana” yang telah berbaik hati memuat surat ini, saya haturkan banyak terima kasih. Wassalam dong.
Editor: Hafidz Azhar



