Wajah-Wajah Dago! (Bagian 1)

Berkurangnya sawah secara ekstrim di wilayah Dago berganti pemukiman, mobilitas kendaraan yang semakin padat hingga usia yang semakin menua termasuk usia kerbaunya.

Jika ada orang mengaku sebagai warga Dago, pertanyaannya hanya dua. Apakah yang bersangkutan mengenal Mang Bana? lalu apakah mengenal Mang Dase? Jika tidak, maka saya bisa pastikan orang tersebut bukan orang yang tumbuh dan berkembang di wilayah Dago sebelum Dago mengalami ekstraksi kota modern termasuk dengan eksternalitas negatif yang diakibatkannya pasca 90an.

Keduanya tinggal di wilayah kampung-kampung di kelurahan Dago yang berserak diantara dua poros jalan utama, jalan Dago dan Jalan Cisitu. Dengan kawasan sawah dimana-mana, masyarakat Dago umumnya adalah masyarakat agraris sebagai petani. Selain persawahan, Dago dianugrahi lembah Cisitu dengan aliran sungai Cikapundung dibawahnya, dimana kucing hutan, celeng, elang, monyet hingga macan kumbang pernah saya jumpai setidaknya hingga awal tahun 90an sebelum desakan pembangunan modern masif terjadi.

Dago sejatinya sebuah kelurahan yang berkembang dari sebuah nama jalan Dago Straat dari era kolonial. Namun klaim turisme yang berlebihan membuat Dago melebihi batas teritorial administrasinya hingga persimpangan jalan Merdeka, padahal batas wilayah Dago itu hanya sampai pasar Simpang, yang juga sebagai melting pot utama mobilitas dan transaksional warga daerah utara ini termasuk yang naik-turun dari wilayah pengunungan.

Lantas Siapakah Mang Bana? Nama ini mungkin sekarang menjadi mitos, namun yang mengenalnya dalam medio 80-90an akan sangat familiar dengannya. Bagaimana tidak, sosok mungil berjalan perlahan bahkan tertatih dengan kerutan wajah tegas, kacamata plus menempel pada ujung hidung, lelaki itu diperkirakan berusia sekitar 50 tahunan yang penuh dengan ikhtiar menyusuri jalanan terutama gang-gang sempit di kampung kota dengan membawa kamera yang tergantung dilehernya menawarkan jasa fotografi.


Dengan topi koboi, sepatu boot untuk ke sawah (seperti merek AP boot), rompi ala jurnalis foto dan kemeja serta celana bahan akan sangat mudah mengenalinya. Hampir semua warga pernah menggunakan jasa fotografinya, untuk foto keluarga, foto untuk ijazah hingga foto buku kawin dan acara pernikahan di area Dago mulai dari Manteos, Cisitu, Tihes, Terminal, Coblong, Dago Barat, Dago Pojok, Dago Timur, Kanayakan, Banggayang bahkan hingga Tubagus dan Sekeloa sangat mengenalnya, karena satu-satunnya, ya satu-satunya. Termasuk untuk keluarga saya menggunakan jasa Mang Bana. Biasanya Mang Bana akan memotret keluarga atau perseorangan di rumah mereka masing masing, umumnya di ruang tamu.

Mang Bana setiap hari akan berkeliling menawarkan jasa foto portret individual atau keluarga. Prosesnya kan memakan waktu sekitar dua minggu hingga cetakan foto jadi, karena harus menunggu roll negative film dalam kameranya habis. Saya samar-samar mengingat tipe cameranya antara FM10 Nikon atau Canon AE1 dengan lensa standar 35-50mm. Mang Bana biasa mencuci cetak termasuk membeli negative film di Mitra Sari Foto, sebuah toko cuci cetak film satu-satunya yang berada di area Dago yang berada di Pasar Simpang diperempatan jalan dengan jalan Dipatiukur, sebelah warung Sate Simpang tak jauh dari Rumah makan padang yang terkenal.


Terkadang Mang Bana juga membeli negative film di Amir Foto yang terletak di Stasiun Bandung pintu selatan dekat terminal angkot, karena harganya lebih murah dan karena adanya angkot yang langsung bolak-balik dari Dago ke Stasiun. Mungkin secara tidak langsung, Mang Bana ini yang mengenalkan saya dengan fotografi, suatu hal yang masih saya lakukan hingga sekarang.

Mang Bana tinggal di daerah Bangbayang hingga wafatnya mungkin disekitar pertengahan 2000an, kabarnya pun simpang siur. Sepanjang karir fotografi kelilingnya, tidak semua orang yang difoto oleh Mang Bana mau mengambil negatif-nya, karena bagi mereka sepertinya yang penting hasil cetaknya. Negatif film yang tidak diambil ini kemudian menumpuk. Tumpukan negatif film yang difoto oleh Mang Bana itu sebenarnya menjadi artefak sosiologis-antropologis dari masyarakat Dago. Namun sayang jejak itu tidak bersisa sama sekali, keluarganya tidak menyimpannya. Catatan visual dari warga Dago yang rigid dan lengkap ini hilang bersama dengan hilangnya (wafat) Mang Bana dari jalan, dari gang, dari rumah-rumah warga yang ditemuinya. 


Mang, foto anjeun kanggo kulawargi abdi masih dipajang keneh dibumi. Nuhun!

Lalu, ada sosok Mang Dase. Ketika saya kecil, sosok ini sangat mudah dikenali termasuk mudah dikenali oleh banyak warga. Selain karena rumahnya tidak jauh dari rumah keluarga kami di sekitar lembah cisitu dan Kampung Biru, juga karena mobilitasnya yang menyusuri wilayah Dago setiap harinya. Sosok Mang Dase dapat saya gambarkan seperti tokoh film kartun Hulk, karena berbadan besar, berotot, selalu menggunakan celana pendek selutut, menggunakan kaos lekbong dan selalu tanpa alas kaki yang membuat kakinya nampak jebrag dan kadang-kadang terlihat sambil menghisap rokok bako menyengat atau padudan, termasuk juga kadang terlihat sedang mengunyah sirih, terlihat dari mulutnya ketika mengunyah sesuatu dan berwarna merah-jingga. Mang Dase kala itu mungkin berumur sekitar 50 tahunan.

Lantas apa dan siapa Mang Dase ini? Mang Dase tinggal di lembah Cisitu tak jauh dari aliran sungai Cikapundung dan menjadi bagian dari warga kampung Biru. Mang Dase tinggal di antara hamparan sawah di lembah ini bersama beberapa orang lainnya yang sebagian masih saudara-tipikal masyarakat petani. Selain memiliki sawah, entah sawah pribadi sebagai petani gurem tentu saja atau sebagai petani penggarap atau sebagai buruh tani, namun yang membuat Mang Dase ini berbeda adalah pekerjaan utamanya, sebagai penyedia jasa pembajak sawah.

Dalam sistem pertanian pedesaan, profesi atau kegiatan pembajak sawah itu bisa dilakukan secara komunal tanpa bayaran atau dilakukan secara individual sebagai pekerja harian lepas dengan bayaran yang disepakati. Bayaran bisa berupa uang atau dengan sistem barter bibit, gabah, beras, pupuk atau tanaman palawija lainnya termasuk juga barter jasa kerja yang sangat lazim terjadi. Proses membajaknya dapat menggunakan cangkul secara manual, menggunakan alat bajak yang dikenakan pada hewan seperti sapi atau kerbau, lalu versi modernnnya menggunakan tractor yang masih sangat langka pada tahun-tahun itu yang tidak dapat diakses oleh petani gurem-buruh tani karena sangat mahal termasuk untuk operasionalnya. Mang Dase adalah pembajak sawah yang menggunakan kerbau.

Mang Dase memiliki sebuah kerbau yang besar bertanduk lebar, belakangan kerbau ini beranak satu yang sering diikutkaan serta dalam pekerjaan membajaknya. Mang Dase menerima order membajak di banyak persawahan di sekeliling daearah Dago. Mulai dari sawah-sawah di sepanjang lembah Cisitu dari Siliwangi hingga Dago Bengkok, lalu sawah di daerah Dago Pojok, Dago Timur, Kanayakan, Awis, Babakan Muncang, Kidang Pananjung, Bangbayang hingga Tubagus Ismail.


Mang Dase menggiring kerbaunya yang lebih mirip dengan banteng bertanduk besar melewati jalan-jalan utama di Dago. Menyusuri jalan Dago Pojok, Jalan Cisitu Lama, Cisitu Indah, Pasar Simpang, Jalan Tubagus Ismail dan tentu saja Jalan Dago. Sementara kerbaunya berjalan didepan, Mang Dase memangggul sendiri alat bajak dari kayu termasuk mata bajak dari besi tajam yang sangat besar itu sambil mengarahkan arah jalan dari kerbaunya tersebut yang terkadang bersama anak kerbaunya juga. Jika mereka berjalan, menyusuri jalan-jalan tersebut kecuali Jalan Dago dan jalan Tubagus Ismail yang cenderung lebar, mereka akan memakan 2/3 dari ruas jalan tersebut.

Mobil-motor yang masih langka kala itu pasti kan berhenti sejenak membiarkannya lewat, anak-anak sekolah seperti saya antara senang dan takut melihatnya. Coba bayangkan kerbau bertanduk besar kadang ada dua sedang menyusi jalan Dago atau jalan Tubagus Ismail, sedang diangon oleh seorang dengan tubuh besar sambil membawa alat bajak!

Namun keberadaan Mang Dase di sekitar awal atau pertengahan 2000 menghilang seiring rotasi waktu, berkurangnya sawah secara ekstrim di wilayah Dago berganti pemukiman, mobilitas kendaraan yang semakin padat hingga usia yang semakin menua termasuk usia kerbaunya. Mang Dase kemudian hanya mengerjakan sawah-sawah di lembah Cisitu, tidak lagi jarambah ke Simpang, Bangbayang atau Tubagus Ismail. Disekitar tahun-tahun tersebut, terdengar kabar Mang Dase jatuh sakit lalu meninggal selain juga karena kerbaunya telah mati.


(BERSAMBUNG KE BAGIAN 2)


FRANS ARI PRASETYO | FLANÉUR DAN FOTOGRAFER

Picture of Redaksi

Redaksi