
Berkurangnya sawah secara ekstrim di wilayah Dago berganti pemukiman, mobilitas kendaraan yang semakin padat hingga usia yang semakin menua termasuk usia kerbaunya.
Lantas Siapakah Mang Bana? Nama ini mungkin sekarang menjadi mitos, namun yang mengenalnya dalam medio 80-90an akan sangat familiar dengannya. Bagaimana tidak, sosok mungil berjalan perlahan bahkan tertatih dengan kerutan wajah tegas, kacamata plus menempel pada ujung hidung, lelaki itu diperkirakan berusia sekitar 50 tahunan yang penuh dengan ikhtiar menyusuri jalanan terutama gang-gang sempit di kampung kota dengan membawa kamera yang tergantung dilehernya menawarkan jasa fotografi.
Mang Bana setiap hari akan berkeliling menawarkan jasa foto portret individual atau keluarga. Prosesnya kan memakan waktu sekitar dua minggu hingga cetakan foto jadi, karena harus menunggu roll negative film dalam kameranya habis. Saya samar-samar mengingat tipe cameranya antara FM10 Nikon atau Canon AE1 dengan lensa standar 35-50mm. Mang Bana biasa mencuci cetak termasuk membeli negative film di Mitra Sari Foto, sebuah toko cuci cetak film satu-satunya yang berada di area Dago yang berada di Pasar Simpang diperempatan jalan dengan jalan Dipatiukur, sebelah warung Sate Simpang tak jauh dari Rumah makan padang yang terkenal.
Mang Bana tinggal di daerah Bangbayang hingga wafatnya mungkin disekitar pertengahan 2000an, kabarnya pun simpang siur. Sepanjang karir fotografi kelilingnya, tidak semua orang yang difoto oleh Mang Bana mau mengambil negatif-nya, karena bagi mereka sepertinya yang penting hasil cetaknya. Negatif film yang tidak diambil ini kemudian menumpuk. Tumpukan negatif film yang difoto oleh Mang Bana itu sebenarnya menjadi artefak sosiologis-antropologis dari masyarakat Dago. Namun sayang jejak itu tidak bersisa sama sekali, keluarganya tidak menyimpannya. Catatan visual dari warga Dago yang rigid dan lengkap ini hilang bersama dengan hilangnya (wafat) Mang Bana dari jalan, dari gang, dari rumah-rumah warga yang ditemuinya.
Lalu, ada sosok Mang Dase. Ketika saya kecil, sosok ini sangat mudah dikenali termasuk mudah dikenali oleh banyak warga. Selain karena rumahnya tidak jauh dari rumah keluarga kami di sekitar lembah cisitu dan Kampung Biru, juga karena mobilitasnya yang menyusuri wilayah Dago setiap harinya. Sosok Mang Dase dapat saya gambarkan seperti tokoh film kartun Hulk, karena berbadan besar, berotot, selalu menggunakan celana pendek selutut, menggunakan kaos lekbong dan selalu tanpa alas kaki yang membuat kakinya nampak jebrag dan kadang-kadang terlihat sambil menghisap rokok bako menyengat atau padudan, termasuk juga kadang terlihat sedang mengunyah sirih, terlihat dari mulutnya ketika mengunyah sesuatu dan berwarna merah-jingga. Mang Dase kala itu mungkin berumur sekitar 50 tahunan.
Lantas apa dan siapa Mang Dase ini? Mang Dase tinggal di lembah Cisitu tak jauh dari aliran sungai Cikapundung dan menjadi bagian dari warga kampung Biru. Mang Dase tinggal di antara hamparan sawah di lembah ini bersama beberapa orang lainnya yang sebagian masih saudara-tipikal masyarakat petani. Selain memiliki sawah, entah sawah pribadi sebagai petani gurem tentu saja atau sebagai petani penggarap atau sebagai buruh tani, namun yang membuat Mang Dase ini berbeda adalah pekerjaan utamanya, sebagai penyedia jasa pembajak sawah.
Dalam sistem pertanian pedesaan, profesi atau kegiatan pembajak sawah itu bisa dilakukan secara komunal tanpa bayaran atau dilakukan secara individual sebagai pekerja harian lepas dengan bayaran yang disepakati. Bayaran bisa berupa uang atau dengan sistem barter bibit, gabah, beras, pupuk atau tanaman palawija lainnya termasuk juga barter jasa kerja yang sangat lazim terjadi. Proses membajaknya dapat menggunakan cangkul secara manual, menggunakan alat bajak yang dikenakan pada hewan seperti sapi atau kerbau, lalu versi modernnnya menggunakan tractor yang masih sangat langka pada tahun-tahun itu yang tidak dapat diakses oleh petani gurem-buruh tani karena sangat mahal termasuk untuk operasionalnya. Mang Dase adalah pembajak sawah yang menggunakan kerbau.
Mang Dase memiliki sebuah kerbau yang besar bertanduk lebar, belakangan kerbau ini beranak satu yang sering diikutkaan serta dalam pekerjaan membajaknya. Mang Dase menerima order membajak di banyak persawahan di sekeliling daearah Dago. Mulai dari sawah-sawah di sepanjang lembah Cisitu dari Siliwangi hingga Dago Bengkok, lalu sawah di daerah Dago Pojok, Dago Timur, Kanayakan, Awis, Babakan Muncang, Kidang Pananjung, Bangbayang hingga Tubagus Ismail.
Namun keberadaan Mang Dase di sekitar awal atau pertengahan 2000 menghilang seiring rotasi waktu, berkurangnya sawah secara ekstrim di wilayah Dago berganti pemukiman, mobilitas kendaraan yang semakin padat hingga usia yang semakin menua termasuk usia kerbaunya. Mang Dase kemudian hanya mengerjakan sawah-sawah di lembah Cisitu, tidak lagi jarambah ke Simpang, Bangbayang atau Tubagus Ismail. Disekitar tahun-tahun tersebut, terdengar kabar Mang Dase jatuh sakit lalu meninggal selain juga karena kerbaunya telah mati.



