Wajah-Wajah Dago! (Bagian 2)

Mereka seperti toponimi artefak hidup dari wajah ruang hidup Dago yang sebenarnya/nonfiksi, mewarnai Dago dengan cara yang khas membekas intim dalam ruang geografis dan memori kolektif kehidupan keseharian warga yang dijumpainya.

Selain Mang Bana dan Mang Dase terdapat dua orang lagi yang warga kampung biasa memanggilnya Si Jalal dan Si Loper Koran karena tidak pernah ada yang tahu nama asli keduanya dan karena juga intensitas pertemuan yang singkat dan cepat. Keduanya pun tidak pernah diketahui tinggal dimana tapi daya edar mobilitasnya berada di wilayah Dago, berbeda dengan Mang Bana dan Mang Dase yang asli merupakan warga Dago.

Si Jalal berumur sekitar 30 tahunan pada waktu itu dan mungkin lebih jika melihat raut mukanya. Dia berpenampilan menggunakan sendal jepit terkadang nyeker dengan kemeja putih lengan panjang dilipat dan celana bahan katun hitam serta topi caping atau topi jerami mirip tokoh Lufi dalam One Piece yang kerap digunakannya ketika berkeliling Dago untuk menjajakan minyak tanah sebagai profesinnya. Kostum yang sama selalu saya lihat seperti itu, entah karena kebetulan saya meihatnya demikian atau memang hanya itu yang dia punya. Tapi saya pernah dengar bahwa pakaian yang dia dapat itu pemberian dari para pegawai khususnya PNS yang juga sebagai pelanggan minyak tanah yang dia jual.

Jalal mengambil minyak tanah setiap hari menjelang shubuh disebuah depot minyak tanah di pasar simpang tepat di belokan ke arah tubagus. Ada sebuah tangki sekitar 3000 Liter yang menjadi distributor minyak tanah untuk daerah Dago. Minyak tanah tersebut kemudian diambil oleh pengecer seperti Jalal dengan menggunakan 4 sampai 6 jerigen 20 liter yang diangkut dalam roda dua yang didorong lalu dijajakan ke warung2 hingga ke pintu2 rumah warga. Cukup banyak yang menjadi tukang minyak waktu itu, tapi itu tersebar dan Jalal nampaknya yang ‘kebagian’ untuk wilayah Cisitu Indah, Dago Barat dan Pojok, tepatnya RW 3 dan RW 4. Keluarga kami pun sebagai konsumen minyak tanah yang dibawa Jalal walau tidak setiap hari membelinya. Bayangkan mendorong roda berisi sekitar 100 liter minyak tanah menuruni jalan naik turun di Dago dan masuk ke gang-gang sempit kampung dan bayangkan pula kondisi jalan yang dialuinya masih berbatu karena jalan aspal hanya jalan utama Dago itu pun tidak mulus seperti yang sekarang ini. Setiap hari Jalal melakukannya, terlihat letih diwajahnya, terlihat lebih tua dari umur sebenarnya yang kurus namun berotot dengan aroma minyak tanah yang menyengat khas.

Saya biasa melihatnya melewati rumah ketika akan berangkat sekolah pagi hari sekitar jam 6.00 dengan jerigen yang masih penuh minyak karena baru diambilnya setiap shubuh dan ketika siang hari ketika pulang sekolah atau ketika akan berangkat untuk sekolah siang antara jam 11.00-jam 13.00 sedang melepas lelah di sebuah warung dengan beberapa jerigen yang sudah kosong. Seingat saya, harga minyak tanah waktu itu sekitar 250 rupiah/liter. Jalal hanya mengambil maksimum 50 rupiah per liternya, karena untuk warung lebih rendah lagi. Sejak saya kuliah tidak pernah melihat Jalal lagi dan tidak ada yang tahu juga kemana, mungkin juga berpindah profesi karena penggunaan minyak tanah di rumah tangga yang berkurang termasuk sulitnya mendapatkan minyak tanah dan sulit pula menjualnya. Jalal akan dikenang bagi para pembelinya karena berkatnya lah rumah tangga banyak orang di Dago bisa memasak dan ada penerangan dimalam hari.

Selanjutnya ada si loper koran atau pembalap sepeda begitulah kami semua menyebutnya, karena tidak pernah ada yang tahu namanya. Dia berumur sekitar 30 tahunan tapi mungkin lebih. Pertama saya melihatnya disekitar pertengahan 90an, dia menggunakan sepeda roadbike tahun 70-80an berwarna silver kusam dengan beberapa bagian nampak berkarat dan jok yang dibungkus plastik dengan tambahan karet bekas ban dalam sepeda/motor. Dia akan nampak seperti atlit balap sepeda karena nampak lengkap kecuali dengan tas karung terigu kadang kantung plastik hitam besar dengan tali rafia yang diselendangkannya untuk membawa koran berlangganan ke rumah-rumah di wilayah Dago antara jam 06-08 pagi, khususnya koran Pikiran Rakyat dan kadang-kadang koran Kompas. Dia juga akan membawakan majalah, koran entertainment, koran olahraga jika diorder khusus. Setidaknya jika kantung tersebut penuh dapat memuat sekitar 20 koran dan beberapa majalah.

Keluarga kami tidak berlangganan koran secara resmi yang dikirimkan untuk kerumah karena ayah sudah mendapatkannnya dikantor. Namun, melalui si loper koran ini, kami berlanngganan secara informal. Hari minggu pagi adalah hari yang pasti bahwa rumah kami akan dilemparinya koran-koran apa saja yang dia bawa dan kami membayarnya setiap bulan atau bahkan bayar langsung, suka-suka saja dan hal ini juga ternyata berlaku bagi semua orang.

Koran yang dia bawa juga entah berasal dari mana? Apakah ia setiap dini hari berkumpul bersama loper koran lainnya di Cikapundung (sekarang Cikapundung River Spot) sebagai melting pot dari lungsurnya semua jenis koran dari percetakan untuk didistribusikan dan ia mendapatkan jatah distribusi untuk koran tertentu dengan kuantiti tertentu pula. Atau ia mendapatkan dari sebuah jongko koran/majalah satu-satunya di Dago yang berada tepat di depan Pasar Simpang di antara mulut Gang Al Falah dan pagar rumah peninggalan kolonial dengan arsitektur yang khas dan halaman yang luas. Jongko koran itu dan rumah itu masih ada hingga sekarang.


Saya berasumsi bahwa pemilik rumah tersebut adalah Andries de Wilde. Karena, dalam tulisan saya di Jurnal Lembaran Sejarah-UGM tahun 2020, “Andries de Wilde, salah seorang pemilik perkebunan di Priangan (preangerplanter) pertama di Bandung yang menikahi gadis yang berasal dari Kampung Banong (daerah Dago Atas)” (hal.74). Selain itu juga tidak ada jenis rumah era kolonial yang ditemui kearah utara setelah pasar simpang yang sebelumnya dikenal sebagai Desa Coblong (pada waktu itu disebut kota) – sebuah lokasi titik pertemuan unntuk praktik “silih dagoan” dari mobilitas para pedagang gowengan dari utara-dari pegunungan (pedagang gowengan, membawa barang dagangannya di atas kepala atau disuhun) (hal.76).

Antara pertengahan hingga akhir 2000an seiring perkembangan media informasi elektronik termasuk internet, semakin berkurangnya pembaca koran, saya tidak pernah menjumpainya lagi. Namun saya pernah melihatnya di Pasar Simpang ketika dia sedang lewat dalam sebuah acara balap sepeda diawal 2010an, setelah itu kabarnya tidak pernah diketahui lagi. Jadi entah apakah profesi sebagai loper koran ini merupakan sumber utama pencaharian atau hanya sekedar sampingan dengan menggunakan aktivitas kesenangan bersepeda. Entahlah!

Keempat orang diatas, semacam bagian dari auto-ethnography bagi saya pribadi dalam rentang akhir 80an hingga awal 2000an. Mereka seperti toponimi artefak hidup dari wajah ruang hidup Dago yang sebenarnya/nonfiksi, mewarnai Dago dengan cara yang khas membekas intim dalam ruang geografis dan memori kolektif kehidupan keseharian warga yang dijumpainya. Tabik!


FRANS ARI PRASETYO | FLANÉUR DAN FOTOGRAFER

Picture of Redaksi

Redaksi