Wangsit

 

Wangsit hendak menjadi wahana untuk menyampaikan wangsit-wangsit baik dari pemerintah kepada rakyat, dari rakyat ke pemerintah, dari rakyat ke rakyat.

 

Majalah bulanan berbahasa Sunda (madjalah bulanan basa Sunda) terbitan Jajasan Bakti Haruman di Jl. Ir. H. Djuanda 11 A, Bandung. Penanggung jawabnya (panangkes) adalah Letkol Djukardi. Pemimpin redaksinya (girangrumpaka) Wahyu Wibisana, sementara dewan redaksinya (djururumpaka) terdiri atas Ki Umbara, Yus Rusyana, Dudu Prawiraatmadja, Karna Yudibrata, Duduh Durahman, K. Sugitapradja, dan dibantu oleh Iton Kach, Saini KM, dan S.A. Hikmat.

Edisi pertamanya (No. 1, Taun I) terbit pada 27 Februari 1966. Motto majalah ini adalah “muga djadi Wangsit agung Pantjasila, djatining wangsit Ampera” (semoga menjadi wangsit agung Pancasila, wangsit sejati Ampera). Dalam tajuk rencana (Umbul-umbul) antara lain disebutkan “Saluju djeung ngaranna, Ki Wangsit téh hajang djadi wahana nu bisa nepikeun wangsit2 boh ti Pamaréntah ka Rajat, boh ti Rajat ka Pamaréntah, boh ti Rajat ka Rajat. Ku kituna, ulah kagok2 mikeun talatah, da tangtu bakal ditepikeunana ka nu ditudju” (Sesuai namanya, Wangsit hendak menjadi wahana untuk menyampaikan wangsit-wangsit baik dari pemerintah kepada rakyat, dari rakyat ke pemerintah, dari rakyat ke rakyat. Oleh sebab itu, jangan sungkan-sungkan menyampaikan amanat, karena pasti akan disampaikan kepada yang ditujunya).

Pada tajuk renacana yang sama disebutkan bahwa Wangsit lahir pada 27 Februari 1966, yakni hari lahir Jajasan Bakti Haruman dan kebetulan bersamaan dengan peristiwa Appel Kesetian Rakjat Djawa Barat ke Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno. Selain itu, disebutkan bahwa selain menerbitkan Wangsit, Jajasan Bakti Haruman menerbitkan majalah bulanan berbahasa Indonesia, Haruman.

Pada edisi No. 1, Taun I, 27 Februari 1966, dimuat laporan “Ki Ampera Milu Appél Kasatiaan Rajat Djawa Barat di Bandung tg. 27 Pébr. 1996” (Ki Ampera turut apel kesetiaan rakyat Jawa Barat di Bandung tanggal 27 Februari 1966), tulisan “Utjap Djandji Satia Rajat Djawa Barat ka Pembesrev. Bung Karno” (Ucap janji setia rakyat Jawa Barat kepada Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno) oleh Panglima Siliwangi Ibrahim Adjie, “Mugi Gusti Ngalanggengkeun Tali-Simpaj Antawis Bung Karno sareng Rajat” (Semoga Tuhan melanggengkan pertalian antara Bung Karno dan rakyat). oleh Gubernur Kepda Djawa Barat Mashudi, berita “Sataun Jajasan Bakti Haruman” (setahun Jajasan Bakti Haruman).

Selain itu, ada rubrik keagamaan (Hayya alal Falah) yang diisi tulisan “Kaunggulan, Kadigdjajan, Kabagdjaan (1)” (Keunggulan, kedigdayaan, kebahagiaan), tulisan “Ahlak Pantjasila dina Pendidikan” oleh Karna Yudibrata, terjemahan Sunda atas cerpen karya Sannie Uys, “Philomela” oleh Duduh Durahman, cerpen “Neng Jaja Gering Tipes” (Neng Yaya sakit tifus) oleh Karna Yudibrata, rubrik komentar cerpen (Sampiung) oleh Duduh Durahman, sajak “Mugia waluja djati nagri, bangsa djeung lemahtjai” (semoga sejahtera negeri, bangsa dan tanah air) karya Yus Rusyana, cerpen “Teu Sugema” (tidak puas) oleh Ermas, cerpen “Si Lajung” oleh Dudu Prawiraatmadja, cerpen “Tragedi Anak Intju” (Tragedi anak cucu) oleh Ki Umbara, cerpen “Ngadagoan nu rek datang” (menunggu yang akan datang) oleh Ami Raksanagara, rubrik Implik-implik yang diisi “Tonggeret Banen (Bagian ka I)” karya Wahyu Wibisana, rubrik sastra (Pataka) yang memuat tulisan “’Agan Permas’ roman karangan Juhana: Talatahna Rajat Leutik” (Agan Permas: Roman karya Juhana: amanat rakyat kecil) oleh Yus Rusyana.

Menurut Yus Rusyana, Karna Yudibrata, Wahyu Wibisana, dan Iskandarwassid (Ensiklopedi Susastra Sunda, 1987: 100), “Walaupun majalah ini sebuah majalah umum, terlihat kecenderungan lebih berat pada bidang sastra. Hampir tiap nomor majalah ini memuat cerita pendek, cerita bersambung (novel), sajak, cerita drama, resensi, terjemahan, dan esai sastra di samping artikel-artikel agama. Kecenderungan itu kiranya ada pertautannya dengan dewan redaksi yang hampir seluruhnya adalah penulis-penulis karya kreatif”. Yus, dkk., kemudian menyebutkan bahwa “Majalah ini menghentikan penerbitannya pada tahun 1967 setelah berhasil menerbitkan kurang lebih sepuluh nomor”. ***

 
 
ATEP KURNIA | KOLOMNIS
Keterangan foto:
Wangsit No. 1, Taun I, 27 Februari 1966. Foto: Atep Kurnia
Picture of Redaksi

Redaksi