Jawara Jalanan dalam Kenangan (2 Tamat) | Tjalie Robinson

Ilustrasi Adam Rizqi Taufik

 

 

Sekarang ini kita semua hanya bisa bersilat lidah atau malah bukan petarung sama sekali. Kadang kita menggunakan pistol, kadang kita bersepuluh memukuli satu orang.

 

 

Lawannya adalah Bubi K., tipe yang berbahaya, lebih tua, lebih kuat, dan berpengalaman dalam seni bela diri kampung. Orang bengis yang telah lama meneror sekolah, tapi dengan hati-hati menghindari anak laki-laki yang lebih kuat. Jadi, ketika Cobèk melawan, bahkan menerima tantangannya, kami berangkat ke lokasi perkemahan di Wilhelmina Park pada jam satu dengan hati gelisah. Namun, kerumunan besar itu segera menarik perhatian seorang plisie (istilah buat kepala polisi) dan dibubarkan dengan banyak ancaman dari aparat keamanan. Tanpa putus asa, kami bubar tapi setengah jam kemudian bertemu lagi di belakang kantor pos, dekat Rumah Setan. Kami mengharapkan Cobék mendemonstrasikan pencak ideal, tapi dia memang memberi kami pelajaran hidup yang paling berguna: bertinju sesuai dengan aturan seni.

Sementara Bubi berputar-putar seperti kincir angin di sekitar Cobèk sambil mengumpat-umpat dengan mulut berbusa, Cobèk mengambil posisi petinju kayak Jim Corbett, dengan lengan kiri keluar, dan kepalan tangan kanan di depan pipi kanan. Dengan ketakutan kami menyaksikan sikap petinju yang sederhana dan tenang ini. Kami lagi lagi persiapan Bubi mau bertarung seperti harimau. Dan pertarungan pun dimulai: setiap kali Bubi menyerbu Cobèk, dan setiap kali dia berjalan dengan kepalan tangan kiri sekeras baja, ayunan tangannya nan liar meleset jauh. Tak lama kemudian bibir Bubi pecah-pecah, darah mengalir dari hidungnya, dan benjolan kehijauan muncul di dahinya dan tulang pipinya. Dia mengutuk dan berteriak dengan wajah berkerut, tapi Cobèk tetap tenang. Hanya senyum manis yang tersungging di sudut mulutnya. “Baru kiri! Baru kiri!!” Kami pun tercengang. Lantas tinju kanan melesat. Ketika lagi-lagi pukulan kiri Bubi sia-sia, dan dia terjungkal, Cobèk mengejarnya dengan pukulan kanan dari bahu secepat kilat, tajam, tepat sasaran, dan meledak.

Tiba-tiba terdengar teriakan dari belakang: “Plisiel! Plisiel!.” Sontak arena berantakan seolah-olah sebuah bom atom meledak di tengah-tengahnya. Pertarungan pun berakhir dengan cara yang ideal, karena Bubi bisa terus menghibur dirinya sendiri dengan bilang ”Belum putus,” meski dia dengan hati-hati menghindari pertemuan kedua. Cobèk pun langsung jadi jagoan di sekolah. Namun, nilai pendidikan dari pertarungan ini jauh lebih besar: buaya sebesar Cobèk dalam kehidupan normal telah menunjukkan dirinya dalam pertarungan sebagai seorang bangsawan dan ksatria. Dia bisa begitu karena tahu soal seni tinju. Hidup seni tinju.

Di Jakarta — ya, di seluruh Indonesia — tentu saja perkelahian seperti ini bukan barang langka. Para petarung turut menyebarkan ketenaran seni tinju, dan setidaknya di Surabaya, Bandung, dan Jakarta, muncul federasi tinju (banyak di antaranya memakai sebutan “stallen”) yang sangat diuntungkan oleh pergeseran baru dari adu jotos jalanan ke olah raga tinju. Di Jakarta pertandingan berkembang dengan memunculkan nama-nama petarung seperti Tialie Noordhoorn Boelen, Sam Brebde, Klinkhamer, Tonnes, Ketting Olivier, Ruempol Hamer, Jimmy Kicks, Oliveiro, Sonneville, Wim Vol, Gerrits, dan banyak lainnya. Sembilan di antara sepuluh petarung adalah anak Indo, tapi Anda juga punya figur-figur luar biasa seperti petarung unggulan Indonesia Zonder, yang mempraktikkan metode pertarungan Barat dan Timur, dengan sikapnya nan tenang, beradab, dan terhormat. Namun, waktu itu tiada yang menyadari (juga Tjalie) bahwa matahari sudah terbenam buat anak-anak muda yang suka bertarung. Olah raga bela diri mati perlahan-lahan, para jago menghilang di kampung-kampung, para petarung lenyap dari Kebon Pala. Bahkan, berakhir sudah dua era sekaligus: era pukulan-pencak dengan banyak gurunya dan era tinju dengan para juaranya.

Sekarang ini kita semua hanya bisa bersilat lidah atau malah bukan petarung sama sekali. Kadang kita menggunakan pistol, kadang kita bersepuluh memukuli satu orang. Namun, itu ekses. Umumnya, anak-anak sekolah kini sopan dan lebih suka belajar menari daripada belajar bertinju. Sebuah kebiasaan lama telah dihapuskan: larangan untuk melihat orang asing di jalan selama lebih dari sepuluh detik. Kalau tidak, sepeda akan dibanting ke pohon, dan Coh atau Pang akan mendatangi Anda dengan lengan baju digulung seraya menegur: “Mau apa, lu?” Biasanya, tiada lagi yang diinginkan, dan Anda bisa memilih yang paling mudah dengan mengusap telinga dan menelan nasehat: “Jaga perilakumu, seh!” Ai, ai, dengan semua itu, dalam dua puluh tahun terakhir, jalanan jadi tidak sensasional. Dan saya iri pada Jack Dempsey, yang baru-baru ini makan steak di restoran, bisa membiarkannya berdiri sebentar untuk menonton permainan punggungan yang bagus di jalan. Ketika polisi mengakhirinya beberapa saat kemudian, dan seorang penonton bertanya kepada Dempsey bagaimana dia menemukannya, Manassa Mauler berkata: “Pertarungan terbaik yang pernah saya lihat selama bertahun-tahun!” Ya, kita bukan lagi Cobèk (bahkan belum pernah) dan kita lebih suka mencari lima puluh berondong untuk menonton orang asing yang masih bisa bertinju. Menurut pendapat penulis kolom ini, pasti ada seutas benang yang lepas entah di mana. (Tamat)***

 

[Diindonesiakan oleh Hawe Setiawan dari “Memoirs aan een ex-kampioen van de straat” dalam kumpulan kolom Piekerans van een straatslijper (1976) karya mendiang Tjalie Robinson.]

 
HAWE SETIAWAN | KOLUMNIS & DOSEN DKV FISS UNPAS
Ilustrasi: Adam Rizki Taufiq

Picture of Redaksi

Redaksi