Uyéh Sutiarsa — masyarakat mengenalnya dengan nama Us Tiarsa tapi kerabatnya biasa menyapanya Iyék — lahir di Kebonkawung, Bandung, 1 April 1941. Dalam KTP tahun kelahirannya adalah 1943. Ayahnya (l. 1910), yang bekerja sebagai benatu, berasal dari Cicaléngka, sedangkan ibunya (l. 1901) dari Garut, keduanya merupakan lulusan pasantrén. Sebagai satu-satunya anak yang panjang umur di antara 15 anak dalam keluarga itu, sejak kecil Us sudah akrab dengan buku. Waktu itu ke kampungnya sering datang perpustakaan keliling.
Kebonkawung pada masa kecil Us merupakan lembur (kampung) di tengah kota. “Siga pulo (seperti pulau),” kenang Us. Kelak, pada 1946 ketika timbul peristiwa “Bandung Lautan Api”, kampung itu turut dibakar dan penduduknya mesti ikut mengungsi ke luar kota. Pada masa mudanya Us pernah tinggal di Karawang, dan baru pada 1963 dia kembali ke Bandung, meniti karier di bidang jurnalistik, sastra, teater, dan film.
Berkali-kali Pindah Jurusan
Sambil bekerja, dia melanjutkan pendidikan formalnya ke Universitas Padjadjaran (mula-mula dalam program studi sastra Indonesia kemudian pindah ke program studi sastra Sunda) dan program studi teater di Akademi Seni Tari Indonesia (sekarang ISBI), tapi tidak sampai tamat. “Na maké jeung tamat sagala (kenapa pula mesti tamat)?” kilahnya.
Selama lebih dari satu jam, Us menuturkan pengalaman hidupnya ketika dia bersedia diwawancarai di rumah salah seorang anaknya di Cijawura, Bandung, pada 23 Januari 2025. Wawancara ini berlangsung berkat inisiatif Yayasan Kebudayaan Rancagé, bahkan pengurusnya, Étti R.S. dan Dadan Sutisna, turut hadir bersama fotografer dari Unpas, Dicky Purnama Fajar.
Berkiprah di berbagai Bidang
Dalam usia 84 tahun, Us masih tampak bugar. Hanya kaki kanannya yang tidak dapat digerakkan secara leluasa akibat terjatuh di kamar mandi hingga ia harus bergerak dengan bantuan tongkat berkaki empat yang dia sebut “sasampayan” (tiang jemuran). Selebihnya, ingatannya masih jernih, bahkan hingga kini dia masih menulis. Dia menyambut tamu dengan mengenakan kemeja dan sarung hitam lengkap dengan peci, seperti santri yang kelimis tanpa kumis. Sebetulnya, dia sempat menulis memoar dengan judul, Iyék bin Oyo, tapi belum terbit.
Area kegiatan Us terbilang luas. Di bidang media, ia pernah jadi pengasuh rubrik dalam surat kabar Kujang, majalah Manglé (1969-1972), majalah Gondéwa (1972), surat kabar Galura, kemudian redaktur Pikiran Rakyat (sejak 1975 hingga pensiun pada 2005), lalu pemimpin redaksi Bandung TV.
Di bidang organisasi, dia turut bergiat antara lain dalam Daya Mahasiswa Sunda (Damas), Paguyuban Pasundan, turut memprakarsai Forum Film Bandung, ikut merintis Panglawungan Pangarang Sastra Sunda (PPSS), dan selama tujuh tahun mengetuai Lembaga Basa jeung Sastra Sunda (LBSS).
Di bidang seni pertunjukan, mula-mula ia bermain teater kemudian bergiat sebagai aktor film. Iaikut main dalam film antara lain Si Kabayan Saba Kota, Jual Tampang, Dewi Sartika, Hari-hari Akhir Cut Nya Dien, dan serial telesinema yang terkenal pada masanya, Inohong ti Bojongrangkong. Di bidang sastra dia menulis puisi, cerita pendek, dan esai. Bukunya antara lain Dewabrata, Kurun Awal Tembang, Basa Bandung Halimunan (karya jurnalistik), Halis Pasir (kumpulan cerpen), Iyék bin Oyo (memoar, belum terbit).
Pada awal 1960-an, dalam usia 20-an tahun, Us menulis puisi dalam bahasa Sunda dan mengumumkan karyanya dalam surat kabar Kujang, yang lembaran sastranya diasuh oleh Hidayat Suryalaga. Waktu itu dalam surat-surat kabar lazim tersedia lembaran sastra yang memuat puisi, cerita pendek, dan kritik. Dalam Pikiran Rakyat, misalnya, ada lembaran sejenis yang diasuh oleh Saini K.M., bahkan para kontributornya membentuk komunitas yang bernama Ikatan Kuntum Mekar.
Demikian pula dalam surat kabar Mandala. Karena sering menulis untuk surat kabar Kujang, dia mendapat kesempatan untuk turut mengasuh lembaran “Kujang Putra” dengan nama pena Tétéh Sarimaya. Kantor redaksinya waktu itu terletak di Jalan Asia-Afrika No. 128, Bandung. Ke situ sering datang sesama penulis dan seniman, seperti Rahmat M. Sas Karana, Hikmat Sadkar, Nano S., dan Atik Sopandi. Us dan kawan-kawan sering pula berkumpul di rumah temannya, Sartje Surjaatmadja, yang bergiat di bidang teater, di Jalan Cisadéa, Bandung. Lembaran “Kujang Putra” berlangsung hingga sekitar 1967 lembaran sejenis di media lainnya cenderung menyurut.
Pada 1964, bersama Rahmat M. Sas Karana dan Yayat Héndayana, Us mendirikan Studi Grup Budaya Sunda (SGBS) yang berpangkalan di rumah Rahmat, di Jalan Acol Timur, Bandung. Datang pula ke situ Usép Romli yang waktu itu baru lulus dari Sekolah Guru Agama. Mereka berempat sering bepergian bersama, khususnya untuk kegiatan di bidang seni dan sastra. Tidak jarang pula mereka bertemu dengan sesama pegiat seni dari lingkungan Konservatori Karawitan (Kokar), dan biasanya berkumpul di rumah seniman Nano S., di Cigoléndang, Bandung Utara. Sekali pernah Us menyusup ke dalam kelas Koko Koswara (Mang Koko) di Kokar sampai-sampai Pak Guru harus menghardiknya.
“Mang Koko upami nyeuseul sok nganggo basa Sunda (Mang Koko kalau marah suka memakai bahasa Sunda),” kenangnya.
Sering pula Us ikut meriung di lingkungan Beungkeutan Pangulik Budaya (BPB) Kiwari, tempat bergiat para senior seperti Rukasah S.W., Ajip Rosidi, Toto Sudarto Bachtiar, dan Saini K.M., di rumah Ir. Suhamir, di Jalan Muhamad Ramdan, Bandung. Kerap ada diskusi budaya di situ. Ketika Ajip dan kawan-kawan mementaskan drama Masyitoh pada 1965, Us ikut main sebagai prajurit.
Bersama Yayat Héndayana, Us ada kalanya bertandang ke Cirebon, mengunjungi studio RRI di sana, untuk mendengarkan rekaman keroncong. Pernah pula Us dan kawan-kawan ikut mengisi siaran radio Rugeri, RRI Bandung, dan Radio Kencana.
Tertarik pada Teater
Pada 1965 Yayat mengajak Us ke lingkungan Majalah Sunda yang redaksinya dipimpin oleh Ajip Rosidi. Kantor redaksi majalah berbahasa Sunda itu terletak di Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan (YPK), di Jalan Naripan, Bandung. Itulah majalah yang, selain menyediakan ruangan sastra dan budaya, juga memuat laporan jurnalistik yang menarik minat masyarakat semisal laporan mengenai skandal yang berkaitan dengan figur Presiden Soekarno dan salah seorang istrinya, Déwi Soekarno, juga laporan mengenai sepak-terjang Gubernur Mashudi.
Yayat saat itu adalah mahasiswa Akademi Teater dan Film (ATF), dan sering ikut mangkal di gedung tersebut, sambil bergaul dengan para senior seperti Ajip dan Yus Rusamsi. Di situlah Us mulai tertarik oleh “teater nu daria (teater yang serius)”.
Setelah Majalah Sunda tutup pada 1966, Us masih bergiat di bidang media. Pada 1969 dia diberi kesempatan oleh Ki Umbara (Wiredja Ranusulaksana) untuk bergabung dengan majalah Manglé. Saat itu Us sedang belajar dalam program studi Sastra Sunda Unpad dengan beasiswa dari Damas. Kantor redaksinya saat itu terletak di Jalan Buahbatu No. 45, Bandung.
Di bawah asuhan Ki Umbara, setelah sastrawan Rustandi Kartakusumah tidak lagi memperkuat redaksinya, Manglé memperkaya sajiannya: yang tadinya majalah panglipur (hiburan) dengan menyajikan beragam karya fiksi termasuk puisi, kemudian menjadi majalah umum dengan menyajikan karya jurnalistik pula. Dalam majalah itulah Us menulis laporan jurnalistik, semisal mengenai kehidupan lesbian dan suasana kelab malam Blue Diamond di Bandung. Pada masa-masa itu juga Us mengirim tulisan jurnalistiknya ke majalah Ekspres di Jakarta, dan ia menulis tentang bendo (tutup kepala khas Sunda) dalam kaitannya dengan figur Otje Djoendjoenan yang ketika itu hendak jadi walikota Bandung.
Semasa masih bekerja di lingkungan Manglé, Us sering menerima kiriman tulisan dari sejumlah dosennya di Unpad. Biasanya dia mesti susah payah menyuntingnya sebelum memuatnya dalam majalah. Saat itulah dia memutuskan berhenti kuliah di Unpad. Pada 1978 ia kemudian pindah kuliah ke ASTI, memilih program studi teater yang saat itu diketuai oleh sastrawan dan dosen Karna Yudibrata.
Sayang, kuliahnya di sana pun tidak sampai rampung. Namun, sebagai aktor, dia cukup giat. Misalnya saja, pada 1980-an ia jadi pemeran utama dalam pementasan teater “Mak Comblang” yang diproduksi oleh Studiklub Teater Bandung (STB).
Sebagai redaktur majalah Us terbilang menonjol. Pada 1972, semasa masih turut mengasuh Manglé, Us bersama Yayat mendapat tawaran kesempatan dari tokoh politik Popong Otje Djoendjoenan untuk menerbitkan koran berbahasa Sunda Galura. Koran tersebut terbit dengan sokongan dari antara lain Sukanda Bratamanggala, kakak ipar Otje Djoendjoenan. Us menjadi pemimpin redaksi, sedangkan Yayat menjadi pemimpin umum, sementara di jajaran redaktur ada Apung S.W. Us keluar dari Manglé, meninggalkan tempat yang kemudian diisi oleh penulis Aam Amilia.
Pada 1970-an Us juga sempat menjadi redaktur pelaksana majalah Gondéwa, majalah umum berbahasa Sunda yang ditujukan kepada kalangan remaja. Majalah ini terbit berkat sokongan antara lain dari Toto Rahardjo yang sebelumnya turut memprakarsai terbitnya majalan musik terkemuka, Aktuil. Dalam majalah tersebut Us sering mengumumkan tulisan-tulisan jurnalistik berdasarkan wawancara dengan berbagai narasumber yang karakteristiknya mampu menarik perhatian publik, misalnya Nini Ciah dari Banjaran yang terkenal sebagai pelantun seni beluk dan Lurah Sutara dari Karawang yang ganteng dan bersitri banyak dikenal sebagai jawara alias jago.
Pada pertengahan dasawarsa 1980-an Us turut menggagas adanya festival film di Bandung. Gagasan itu mendapat sambutan hangat dari pengusaha film dan bioskop Chand Parwez Servia. Sayang sekali, Menteri Penerangan Harmoko berkeberatan sebab menurut pertimbangannya tidak perlu ada festival lain selain FFI (Festival Film Indonesia). Padahal Us dan kawan-kawan menggagas ide tersebut bukan saja untuk mengembangkan film melainkan juga untuk mengmbangkan pariwisata di Bandung. Akhirnya, gagasan mengenai Festival Film Bandung diganti dengan terwujudnya Forum Film Bandung yang terus berjalan hingga kini.***
*) Tulisan ini merupakan salah satu bahan pertimbangan pemberian Hadiah Sastra Rancage 2025.
Editor: Hafidz Azhar
Ilustrasi: Hawe Setiawan



